Awalnya kasihan ama bapak ini. Luntang lantung dalam kondisi sakit. Beliau juga lagi mencari istrinya yg kabur.
Ternyata plot twist. Istrinya diam2 kabur krena sudah lelah. Slama 10 tahun istrinya yg menafkahi. Udah gitu dapat perlakuan buruk sampe diancam pake parang.
Ini membuktikan klo laki2 yg jahat tanpa sadar itu sebenrnya masih tergantung pada istri krena istrilah yg mengurusnya slama ini. Tapi malah berbuat kejam. Ketika ditinggalkan, beneran gabisa apa2, akhirnya terpuruk.
Hampir sama kayak bapak tiri saya dulu. Ketika ibu saya meninggal dia kayak hilang arah. Dulu alm ibu saya seperti budak, sempat ga dinafkahi beberapa bulan. Tapi maunya dirajakan setiap hari. Akhirnya setahun kemudian meninggal. Padahal awal2 ibu saya meninggal, badannya sendiri bugar dan sehat.
sc:threadsaimastiyo
Difitnah saya diam. Diracun saya diam. Dihujat, dihina, saya diam. Saham turun saya diam. Tapi ayang mau akting bed scene saya sampaikan, saya akan lawan!
Baru sebulan pindah kontrakan, ketuk pintu, tetangga baru mau kenalan.
Ngobrol sebentar, nawarin ayunan anak yang mau dijual.
Ramah, biasa aja.
Kesan pertama oke.
Seminggu kemudian datang lagi.
Kali ini bawa dua anaknya yang masih kecil, tiga tahun sama satu tahun.
Minta pinjam 100 ribu buat berobat anak yang demam dua hari. Suami lagi nggak kerja.
Dikasih.
Dengan tulus.
Sambil doain semoga anaknya cepat sembuh.
Seminggu kemudian ketuk pintu lagi.
Kali ini minta 500 ribu, buat biaya bapaknya yang di RS.
Nggak ada uang segitu, minta maaf.
Dan dia pulang.
Di situ mulai ada perasaan yang susah dijelasin.
Tapi dikubur dulu, mungkin memang lagi susah.
Setahun berlalu.
Nggak ada kabar soal utang 100 ribu itu.
Sampai suatu hari ketemu lagi, lagi ngerumpi ketawa-tawa di rumah tetangga.
Begitu mau dideketin, langsung kabur.
Malam harinya stalking Facebook.
Ketemu.
Dan ternyata aktif banget update status.
Dichat dengan sopan.
Nanya kabar, nanya suaminya udah kerja belum, dan ingatkan soal pinjaman.
Balasannya?
Minta maaf, bilang takut ditagih di depan orang, malu.
Dijawab santai, nggak mungkin nagih di depan umum. Dan minta kepastian kapan bisa bayar.
"Besok sore aku ke rumah ya Mba, nunggu suami pulang."
Besoknya ditunggu sampai malam.
Nggak datang.
Dichat lagi.
Jawabnya, "Tadi pintunya tutupan Mba, jadi aku pulang."
Dan di situ kesabaran hampir habis.
"Loh, waktu mau pinjem duit, pintu juga tutupan.
Bisa diketok kan?"
"Iya Mba, gaenak nanti ganggu."
Waktu mau minjem, nggak takut ganggu.
Waktu mau bayar, tiba-tiba punya adab.
Sampai akhirnya kejadian yang bikin geleng-geleng kepala.
Ketemu di warung tetangga.
Si tetangga pakai sepatu baru, jalan sama anaknya. Ditanya sama tetangga lain, katanya beli cash.
Malamnya dichat lagi di Facebook.
"Mbaaaa tadi lewat ada yang baru yaaa."
"Hehe iya Mba, alhamdulillah ada rezeki."
"Btw utang yang dulu jadi dibayar kapan ya Mba? Udah setahun lebih loh."
Status: typing...
Status: online.
Status: offline.
Nggak dibalas sampai sekarang.
Didatangi ke rumah langsung, nggak pernah keluar. Ditelepon, nggak diangkat.
Guys, yang bikin capek bukan cuma uangnya.
Tapi energi yang habis buat nagih orang yang jelas-jelas mampu tapi pura-pura nggak ada.
Kalau memang nggak punya uang, mungkin bisa diikhlaskan.
Tapi ini?
Beli cash, alhamdulillah ada rezeki, tapi utang 100 ribu ke tetangga sendiri seolah nggak pernah terjadi.
Kalian punya pengalaman serupa, udah baik sama orang tapi malah dimanfaatkan dan akhirnya milih ikhlasin aja?
Ada teman yg di luar kota sekitar 1 tahun lalu tanya jika mau membuat rumah limasan ukuran luas 9x10 meter biayanya berapa? Saat itu saya jawab 135jt sudah berdiri di tempatmu.
Lalu bulan kemarin ia ngabari, beli rumah lawasan ukuran 9x11 harga 60jt.
Tapi...
Kenapa ya rumah2 di Indonesia kurang populer penggunaan peredam panas matahari ?
Padahal keuntungannya cukup signifikan terutama di iklim Indonesia.
Jika kamu pakai AC bisa hemat listrik, krn AC ngga kerja terlalu berat.
Kalopun ngga pake AC, suhu dalam rumah bisa lebih rendah, dan kipas angin ngga perlu muter 24 jam.
Dinding ruangan yang menghadap matahari ngga panas kalo diraba, tidur malam hari jadi lebih nyaman.
profesi guru telah di rendahkan seolah-olah tidak harus di hargai, tak ada alasan pembenaran dari tindakan seperti ini.
Efek zonasi... dulu jalur NEM sebandel" nya murid gak pernah berani ke guru. miris mengerikan...
Tren parenting masa kini yg bikin gw gedeg sebagai orangtua. Grup WA orang tua!!
Ya walaupun anak gw masih SD, tapi anak itu musti belajar tanggung jawab sejak kecil. Jujur gw merasa aneh dan risih kalo pengumuman untuk kepentingan sekolah itu cuman di grup orang tua. Jadi yg dihimbau orangtuanya, bukan anaknya.
Kan bisa ya pas di sekolah anaknya dikasih tahu. Urusan dia lupa ga ngerjain , ya itu salah dia dan di situlah saatnya dia belajar yg namanya tanggung jawab dan konsekuensi.
Masa jadwal ulangan aja anak gw ga tau. Setiap ditanya, “kamu tau ga besok kamu ada ulangan ini?”
“Gak tau, belum dibilang sih”
😩😣☹️
this is why knowing ur partner's love language is important, so you can "loving ur partner in a way they can feel loved".
yang kamu kasih adalah yang dia mau, jadi gak ada debat "loh tp aku udah effort bgt?!?!" tp sananya ttp ga ngerasa disayang.
Ternajis itu adalah punya suami pelit, jgn ges beneran mendingan ga punya suami drpd tekanan batin krn suami pelit…
ANEH BANGET LAGIAN SUAMI GA NGASIH THR ISTRINYA 😭, suami gue malah dengan tengilnya pamer2 THR udah keluar dan langsung meluncur ke rekening gue…
berlaku juga untuk yang ngomong kasar, banting & ancurin barang, ngebut-ngebut di jalan kalo lagi marah, nurunin/ninggalin di jalan/tempat umum, bentak-bentak, ngancem bundir, gampang marah, suka nuduh, posesif, isolating kamu dari orang lain. itu semua tanda-tanda orang abusive.
kali ini mau jawab serius,
mungkin akan menimbulkan pro dan kontra.
kami bukan alergi sama pria miskin, tapi kami tidak suka pria yang enggan berusaha.
karena "miskin" itu kondisi,
tapi "tidak mau berkembang" itu pilihan.
malas, pasrah, dan gak punya ambisi ~ itu yang bikin kita mikir dua kali.
" yaudah sih nanti kalo rejeki juga dateng " halahhhhh, skipp!
kalo gk diusahakan, mau dateng dari mana? jatoh dari langit?!
pernah menemani pria yang kekurangan, tapi justru terlena dengan keadaan. tidak punya arah, tidak punya usaha. bukan masalah dia gak punya apa-apa, tapi karna emang dia gak berusaha jadi apa-apa.
kemudian aku paham, oh jadi ini arti dari kalimat,
"kita harus mikir realistis."
realistis bukan berarti matre,
tapi sadar bahwa hubungan butuh usaha dari dua arah.
bukan cuma satu yang terus jalan sementara yang lain diam di tempat.
usaha untuk saling melengkapi, saling mengisi,
bukan saling menuntut tanpa kontribusi.
yang satu bisa menunjukkan arah,
yang satu lagi mengeksekusi, saling dukung dan saling jaga saat dirasa mulai goyah atau sedikit kehilangan arah.
dan faktanya,
banyak juga wanita yang mau menerima pria dari nol,
asal dia punya niat, tanggung jawab, dan kemauan untuk berubah.
karena yang dicari bukan sekadar "punya apa",
tapi "mau jadi apa" atau "ingin singgah dan berlabuh kemana".
Terlepas dari gaji cewenya besar atau engga, gue mau menekankan sesuatu disini… cowo tuh kadang (or most of the time) suka lupa (atau simply ignorant aja) kalo manusia yg mau dijadikan pasangan hidupnya itu bukan “entitas kosong”.
Ada kultur, pendidikan, pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, dll yg ngebentuk si cewe shg lu bisa ketemu dia dan memutuskan utk menikahi dia skrg.
Lu gabisa meremehkan itu. It takes her lifetime supaya dia bisa jadi versinya skrg.
Consider it as a reminder to you. Good luck.