Dr. Boyke bilang, kenyamanan laki-laki dengan ani-ani punya akar yang lebih dalam dari sekadar nafsu/seks. Jadi beberapa hari yang lalu saya nonton wawancara Dr. Boyke sama Fenny Rose, dan ada bagian yang bikin saya bengong.
Elon Musk: "If you punish people too much for failure, then they will respond accordingly, and the innovation you will get will be very incrementalist
Nobody's gonna try anything bold for fear of getting fired or being punished in some way. So risk-reward must be balanced and favor taking bold moves, otherwise it will not happen"
Effective today, we are:
1) Doubling Claude Code’s 5-hour rate limits for Pro, Max, and Team plans;
2) Removing the peak hours limit reduction on Claude Code for Pro and Max plans; and
3) Substantially raising our API rate limits for Opus models.
taat agama tuh "oh sorry bro gw gabisa melakukan itu karena aturan agama gw".
mabok agama tuh "oh sorry bro ELU gabisa melakukan itu karena aturan agama gw".
beda
Yes bener, jaringannya lebih kecil.
Setelah 6 tahun membangun jaringan sensor kualitas udara Nafas, kami harus mengambil keputusan yang sangat berat.
Kami harus mengecilkan jaringan kami.
Bukan karena datanya tidak penting. Tapi karena pendanaan untuk jaringan ini tidak cukup. Kami sudah berusaha keras. Cari funding, cari sponsor, cari cara supaya jaringan ini bisa terus jalan. Tapi kenyataannya, membangun infrastruktur publik seperti ini butuh dukungan yang jauh lebih besar dari yang bisa kami tanggung sendiri.
Karena itu, kami mengubah jaringan sensor Nafas menjadi sebuah Yayasan - @yayasannafas . Artinya jaringan ini sekarang milik publik. Dan kalian bisa ikut menjaganya.
Ada 3 cara kalian bisa bantu:
1. Donasi langsung lewat Kitabisa (link di tweet berikutnya)
2. Sponsori satu sensor. Bisa patungan bareng komunitas kalian.
3. Ajak perusahaan kalian untuk sponsori kampanye kualitas udara.
Kalau kalian tertarik sponsori sensor atau kampanye, DM saya langsung - bisa disetup untuk sensor2 tertentu.
Kami sudah kasih yang terbaik selama 6 tahun ini. Sekarang kami butuh bantuan keluarga digital kami.
Kalau kalian nggak bisa donasi, bantu share ke orang yang mungkin bisa.
Itu sudah sangat berarti. 🙏
A history lesson for every anti Semite out there.
Many people use the name “Palestine” as if it always referred to an ancient nation or a specific people. The historical story is actually different.
The word “Palestine” was originally a geographic name used by empires to describe a region in the Middle East, not the name of a nation or ethnic group.
After the Bar Kokhba revolt in 135 CE, the Roman emperor Hadrian changed the name of the province of Judea to Syria Palaestina. Historians generally agree that the change was intended to weaken the Jewish connection to the land. The name itself was derived from the Philistines, an ancient people who lived mainly along the coastal area around what is today Gaza.
For many centuries after that, under the Byzantine Empire, early Islamic rule, the Ottoman Empire, and later the British, “Palestine” remained mainly a geographic term for the region. There was no independent state called Palestine during those periods.
During the time of the British Mandate in the early twentieth century, the term “Palestinian” was used for anyone living in the territory, including Jews, Christians, and Muslims. For example, Jewish institutions sometimes used the name as well, and passports issued by the British authorities were called Palestine passports.
The modern political use of the term Palestinian people as a distinct national identity developed mainly during the twentieth century.
The history of the Middle East is complex, but understanding how the name “Palestine” was used over time helps explain why the discussion about identity and history in this region is still debated today.
Sebuah pelajaran sejarah bagi setiap orang yang anti-Semit di luar sana.
Banyak orang menggunakan nama “Palestina” seolah-olah nama itu selalu merujuk pada sebuah bangsa kuno atau suatu kelompok etnis tertentu. Kenyataannya, kisah sejarahnya berbeda.
Kata “Palestina” pada awalnya adalah nama geografis yang digunakan oleh berbagai kekaisaran untuk menggambarkan sebuah wilayah di Timur Tengah, bukan nama sebuah bangsa atau kelompok etnis.
Setelah pemberontakan Bar Kokhba pada tahun 135 M, Kaisar Romawi Hadrianus mengubah nama provinsi Yudea menjadi Syria Palaestina. Para sejarawan umumnya sepakat bahwa perubahan tersebut dimaksudkan untuk melemahkan ikatan Yahudi dengan tanah tersebut. Nama itu sendiri berasal dari orang Filistin, sebuah kelompok etnis kuno yang tinggal terutama di sepanjang wilayah pesisir sekitar apa yang kini dikenal sebagai Gaza.
Selama berabad-abad setelah itu, di bawah Kekaisaran Bizantium, pemerintahan Islam awal, Kekaisaran Ottoman, dan kemudian Inggris, “Palestina” tetap terutama merupakan istilah geografis untuk wilayah tersebut. Tidak ada negara merdeka yang bernama Palestina selama periode-periode tersebut.
Selama masa Mandat Inggris pada awal abad ke-20, istilah “Palestina” digunakan untuk siapa pun yang tinggal di wilayah tersebut, termasuk Yahudi, Kristen, dan Muslim. Misalnya, lembaga-lembaga Yahudi terkadang juga menggunakan nama tersebut, dan paspor yang diterbitkan oleh otoritas Inggris disebut paspor Palestina.
Penggunaan politik modern istilah “rakyat Palestina” sebagai identitas nasional yang terpisah berkembang terutama selama abad ke-20.
Sejarah Timur Tengah memang kompleks, namun memahami bagaimana nama “Palestina” digunakan sepanjang waktu membantu menjelaskan mengapa pembahasan mengenai identitas dan sejarah di wilayah ini masih diperdebatkan hingga saat ini.
@TurnerNovak I was investigating a guy running 30 accounts with Indonesian IP addresses and I was trying to figure out what tools he was using.
I found out it was AI: Actual Indonesians.