Kalian udah tau belom tulisan dari TNI AU ini?
Intinya: program pemerintah tidak otomatis maju hanya karena dibawa dengan gaya militer😱
1. Kemajuan program sipil lebih ditentukan oleh SDM yang profesional dan berintegritas, plus lembaga sipil yang kuat.
2. Masalahnya, “setia pada negara” sering disalahartikan jadi “setia pada figur pemimpin.”
3. Kalau sudah begitu, rakyat mudah terdoktrin. Program dikritik sedikit langsung dianggap tidak loyal.
4. Akibatnya, orang jadi malas menilai hasil di lapangan. Yang penting terlihat mendukung.
5. Militerisasi senyap juga bisa menormalisasi hirarki, patuh tanpa tanya, dan menolak kritik dengan alasan keamanan.
6. Risiko terbesar bukan latihan fisik warga sipil. Tapi ketika nilai militer dijadikan satu-satunya ukuran profesionalisme sipil.
7. Kerja lalu diukur dari “asal atasan senang”, bukan dari hasil jangka panjang.
8. Dalam demokrasi, militer yang profesional justru harus tunduk pada norma sipil. Bukan sebaliknya: sipil meniru logika patuh militer.
9. Kalau masyarakat sipil memakai logika militer, batas lembaga jadi kabur. Transparansi pelan-pelan melemah.
10. Ujungnya bukan menambah kepercayaan publik, tapi justru merusaknya.
Kabarnya, tulisan ini sudah di-take down, namun ada yang sempat screen shot buktinya.
Wdyt guys?
Jadi gua punya cerita soal perusahaan Tanihub, gua saat awal masuk kerja disuruh ngebedah startup ini. Dari awal ngeliat thesis bisnisnya, secara logika berfikir gua langsung nolak. Narasi "Disrupsi Agritech" emang seksi banget buat pitching, tapi fundamental lapangannya HALU. Gua jelasin pemikiran gua ya saat itu
Gini sudut pandang gua waktu itu soal kenapa model bisnis ini emang bom waktu dari awal:
1. Halu nerapin prinsip Scale ala US di tanah gurem.
Kesalahan fatal Pertama: maksa nerapin playbook agrikultur ala Amerika (main kuantitas dan skala) ke Indonesia. Ini absurd secara geografis. Kalau lu buka data BPS, mayoritas petani kita itu jatuhnya "petani gurem" dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektar.
Dengan size lahan sekecil itu, model bisnis ngumpulin hasil panen untuk menuhin tonase itu kayak gali lobang mati konyol, karena harga panen bakal dinilai secara borongan oleh pasar. Lahan sempit mestinya main di quality dan highnyield crop (kayak teori pertanian intensif di Jepang), bukan genjot kuantitas.
2. P2P Lending ke sektor subsisten = Nyiapin tali tambang di pohon beringin.
Terus masuklah TaniFund nawarin P2P lending. "Pinjaman tanpa agunan buat petani" ini di atas kertas mulia "yang bahkan rentenir aja gak akan sebodoh itu" tapi secara risk pricing ngeri. Logika finansial dasar "tanpa agunan = high risk = suku bunga tinggi".
Petani dengan lahan <0,5 ha itu taraf hidupnya rata-rata "bisa makan dari sisa panen aja alhamdulillah". Mereka gak ada buffer finansial. Sekali cuaca jelek, kena hama, atau harga pasar anjlok, otomatis gagal bayar. Gimana ceritanya lu ngasih kredit komersial bunga tinggi ke sektor subsisten yang 100% terekspos risiko alam? Wajar kalau NPL (kredit macet) mereka akhirnya tembus di atas 60%.
3. Arogansi "Bypass Tengkulak"
Ini yang paling bikin gua mikir, lu pasti hidup enak ya dari lahir? Gak pernah ngeliat pasar kayak apa (apalagi pasar induk), berangkat sekolah udah ada makanan di meja tanpa mikirin bahan bakunya beli di mana.
Ada arogansi dari tech bros yang nganggep tengkulak itu murni lintah darat yang harus dibasmi. Padahal di ekosistem desa, tengkulak itu "entitas multifungsi". Mereka bukan cuma perantara. Mereka itu agregator logistik, tukang sortir kualitas panen yang campur aduk, pemberi kasbon darurat, dan yang paling krusial: Risk Bearer (Penanggung Risiko). Tengkulak berani nebas panen karena jam terbang mereka udah puluhan tahun baca cuaca dan harga. Terus lu, dengan modal pernah kerja pakai baju rapih, mau masuk ke industri ini?
4. Unit Economics yang berdarah-darah.
Coba hitung pakai logika supply chain sederhana. Produk segar (terutama sayur hijau) itu tingkat kebusukan gila. Umur simpannya cuma 1-3 hari, bahkan kalau cuaca panas banget, cuma beberapa jam udah layu sampai kuning.
Waktu TaniHub nekat menggusur tengkulak, SEMUA biaya shrinkage (susut/busuk), biaya sortir, dan logistik itu pindah murni ke neraca keuangan TaniHub. Margin kotor jualan sayur itu super tipis! Gimana logikanya margin setipis itu disuruh nanggung biaya operasional cold chain, sewa gudang raksasa, diskon bakar uang, plus gaji engineer dan manajemen super elit? Unit economicsnya udah negatif dari sejak awal gua narik proyeksi secara logika berfikir
Kesimpulan:
Ekosistem pertanian tradisional kita (dengan segala tengkulaknya) itu udah bertahan puluhan tahun bukan karena mereka jahat, tapi karena equilibrium harganya udah "sesuai dengan tingkat risiko" di lapangan.
Niat mulia menyejahterakan petani itu bagus, tapi kalau cuma modal narasi jualan mimpi tanpa paham unit economics dan sosiologi desa, Ujungnya ya cuma bakar duit investor. Di dunia bisnis, hukum gravitasi cashflow nggak bisa dilawan pakai slide deck yang bagus dan perguruan tinggi elit.
(MAAF YA KALAU MENYINGGUNG, MURNI OPINI PRIBADI)
Ini bukan soal brand tp soal penggunaan strap jam tangan dan kebersihan.
Lu mau pake suunto, garmin, coros kalau ga rajin bersihin atau at least seharian pake ga lu rest area pergelangan tangan dengan copot jamnya ya pasti gatel gitu.
Jujur klo ini bener, sedih sih.
Banyak yg tumbang sampai ada yg MD 🥺
Agar tdk terulang kejadian seperti ini, aku pengen ngajak semuanya buat sadar kapasitas diri.
Kan punya smartwatch tuh?
Klo udh masuk zona 5 + badan mulai gk enak, jgn dipaksa lama2 di situ demi ngejar pace.
Klo sdh fatigue, kurangi pace.
Aplg klo udah kerasa dada mulai berat, pening, mual, pertimbangkan DNF.
Di luar race kan bisa latian lg buat naikin kapasitas kebugaran secara bertahap utk next race. Ga bisa instan lah.
Daripada kenapa2 sampai kehilangan nyawa gitu, sayangi diri sendiri yuk 🥺🙏🏻
ingat, kita bukan atlet yg punya target finish, atlet pun dalam kondisi tertentu tau batas diri mereka.
pencapaian kita dgn olahraga adalah sehat, bukan olahraga buat cari mati.
jgn egois, ada yg menunggu dirumah.
cr. threads. mikirundotid
Setuju banget. Tubuh lelah capek gak kuat adalah alarm alami tubuh untuk istirahat.
Jangan diulangin ya panitia, jangan.
Sumber ig https://t.co/gRvlrsduTZ
Guys, lu pada tau gak…
Biaya buat nebus foto event Mangkunegaran Run katanya bisa tembus Rp1 juta per orang.
Yang bikin orang langsung ngitung-ngitung: pesertanya disebut sekitar 7.750 orang dari 50 negara.
Sekarang coba pakai skenario konservatif aja:
kalau cuma 10% peserta yang nebus foto:
7.750 × 10% = 775 orang
775 orang × Rp1.000.000 = Rp775.000.000
Alias hampir Rp775 juta cuma dari penjualan foto event.
Kalau yang beli ternyata 20%?
= Rp1,55 miliar
Kalau 30%?
= Rp2,32 miliar
Padahal ini baru dari foto doang, belum:
tiket peserta
sponsor
merchandise
tenant
dll
Makanya banyak yang kaget, ternyata industri event sekarang detail monetisasinya makin kreatif.
cc: threads