kesalahan anies: memberikan argumen kecerdasan dengan bahasa tingkat tinggi yang notabene sulit diterima sebagian rakyat, dengan iq terendah no. 2 se-asia tenggara.
kesalahan ganjar: diusung oleh partai pdi.
kepintaran prabowo: membungkus dirinya dengan branding gemoy dan pura-pura sedih ketika dikasih nilai 11/100 saat debat capres, demi mendapatkan empati rakyat supaya lupa sama jejak masa lalu pelanggaran ham-nya.
dan akhirnya, 58% meromantisasi prabowo jadi presiden. 😭
apakah kalau anies atau ganjar jadi presiden indonesia bakal lebih baik?
belum tentu, dan gak ada yang bisa menjamin.
tapi yang pasti, kita mungkin gak akan punya ibu negara, program mbg, dan kdmp yang sangat menguras apbn serta berpotensi jadi lahan basah korupsi melebihi anggaran kesehatan dan pendidikan.
dan yang paling penting, bahlil dan natalius pigai gak akan jadi menteri.
artis pertama yang harus diboikot habis-habisan itu raffi ahmad dan nagita slavina.
mulai dari unfollow mereka aja. itu udah jadi gerakan kecil, tapi dampaknya bisa gede.
buat kalian yang masih follow, unfollow aja langsung.
Simpan foto ini 📸
Barangkali besok atau lusa ada yang ditilang karena pakai spion cuma sebelah.
Kalau tetep ditilang langsung tanya ditempat: “Apakah hukum cuma berlaku buat rakyat kecil aja?”
Nah ini contoh kerja diluar jobdesc. Cukup kasih bantuan cukup kang dari Jabar. Kasian dong warga Jabar ditinggal Gubernurnya buat ngurusin Provinsi lain
Jadi teringat pak @aniesbaswedan pernah menyampaikan dalam debat Pilpres lalu
“Polusi udara tak punya KTP. Angin itu tidak ada KTP-nya”
Bagi yang kontra, pernyataan itu sempat jadi meme dan bahan ejekan di linimasa maupun berbagai media. Jakarta dianggap hanya memiliki anggaran besar tapi dianggap tidak mampu mengatasi polusi udara.
Sekarang, terbukti bahwa pernyataan itu benar adanya. Sifat udara dan angin yang bergerak bebas melintasi batas wilayah tanpa terikat oleh administratif suatu daerah, bahkan negara.
Dalam konteks debat lalu, polusi udara di Jakarta tidak selalu bersumber dari dalam kota saja… melainkan bisa terbawa angin dari luar wilayah yang tidak memiliki alat pemantau polusi
Guys kencengin ikat pinggang. Gw sama suami bener2 memutuskan di rumah aja pas liburan nanti. Meskipun ada rejeki lebih baik disimpan or dibagi ke orang tua dan adik2.
Tough time ahead. Tapi semoga semua ini bisa kita lewati sama-sama.
Jangan lupa momen2 ini guys pas pemilu 2029 nanti. Beneran deh, gw pun mengingatkan ke diri gw sendiri. Selalu edukasi diri.
Polesan kamera itu menyakitkan. Uda stop justifikasi2 orang baik, politik itu harus damai, pilih pemimpin yg punya pengalaman. STOP.
Next time, gw cuma mau milih yg mendorong perubahan sistem. Ga ada lagi ngomong2in program kerja. Capek. Banyak banget program kerja, tapi ujung2nya mental juga kondisi ekonomi kita.
Kalo institusi bener2 jalan, at least kita ga ngerasa clueless kaya gini. Kita ga harus saling blaming each other. Kita ga harus dipaksa mikir setiap saat untuk issue yg seharusnya tugas yg menjalankan pemerintah.
Kuat2 semua. Apalagi sandwich generation, I feel you. 🫶🏼
"Gua ga ada urusan sama perasaan lo Anj!ng," Abu Janda.
Ini part paling menyedihkan sih. Mau kata "anj!r" atau "anj!ng" artinya benar2 merendahkan keilmuan seorang profesor Ikrar Nusa Bhakti.
Prof Ikrar santai saja, tapi kelakuan Abu Janda benar2 BIADAB.
"Anda tidak bisa tertib, KELUARRR...," @AimanWitjaksono mengusir dan mempermalukan Abu Janda.
Terimakasih bung Aiman sudah membersihkan layar TV Indonesia dari sampah2 peradaban.