🚨Rahasia dibalik Pemadaman Listrik bergilir🚨
Rakyat kecil tidak perlu tahu bahkan presiden pun tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Di Jawa dan Bali mulai terjadi pemadaman listrik bergilir karena alasan rusaknya pembangkit dan minim batu bara.
Rahasia nya adalah, Minim Batu Bara kualitas Export .... Ya.... karena semua di Export.
Selama ini, pembangkit listrik menggunakan Batu Bara kualitas rendah di campur dengan yang kualitas Export agar bisa suhu pembangkit stabil.
Karena Rupiah anjlok maka pasar dunia berlomba membeli Batu Bara kualitas tinggi dari Indonesia karena murah (Rupiah Lemah)
Pengusaha tambang yang serakah menjadi kesempatan meraup untung. mereka jual semua keluar negri tanpa menyisakan untuk dalam negri. Pembangkit Listrik Indonesia yang mengandalkan batubara sebesar 66%.
akibat Rupiah Anjlok dan Keserakahan Pengusaha maka PLT BAtubara tidak kebagian Batubara kwalitas tinggi sehingga pembangkit rusak.
itulah Rahasianya.
https://t.co/rmNKQuL7Uo
“Karena Rupiah anjlok maka pasar dunia berlomba membeli Batu Bara kualitas tinggi dari Indonesia karena murah (Rupiah Lemah)”
Batubara Indonesia dipricing dalam USD bukan dalam rupiah 😭😭
Comunicado Oficial.
Merasa tidak enak mengakuisisi Denzel Dumfries kemurahan, Real Madrid memutuskan memberikan diskon spesial untuk Inter terkait Nico Paz.
Kedua klub selalu menjaga hubungan yang berlandaskan persahabatan dan rasa hormat timbal balik.
Gracias.
JAWA-BALI TERANCAM REAL KEGELAPAN !!!
BUKAN KARENA BATUBARA INDONESIA SUDAH HABIS,
BUKAN KARENA SEMUA BATUBARA DI EKSPOR
TAPI KARNA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN,
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG AMBURADUL
- RKAB DIPOTONG 60% (VOLUME BATUBARA TURUN JAUH)
- HARGA DMO YANG HAMPIR 50% DIBAWAH HARGA PASAR
- KEBIJAKAN YANG BERUBAH-UBAH
LALU, DARI CERITA INI ADA PERTANYAAN JUGA
APAKAH INI SERANGAN PARA KONGLO BATUBARA?
PLTU Pacitan, salah satu tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali, dilaporkan hanya memiliki stok batubara untuk dua hari operasi. Bukan cuma Pacitan.
Sejumlah PLTU besar di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) sudah masuk lampu merah, termasuk Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Cilacap, hingga Celukan Bawang.
Standar aman PLN itu 26 hari operasi (HOP). Kenyataannya, banyak PLTU hanya punya stok 11-12 hari,
bahkan ada yang tinggal 2 hari.
Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai separah ini?
Pertama, DMO harga murah diabaikan produsen.
Batubara untuk PLTU dijual dengan harga DMO hanya USD 70 per ton. Sementara untuk pabrik semen, harganya USD 90 per ton. Untuk smelter dan ekspor, harga pasar jauh lebih tinggi.
Jelas, produsen lebih pilih jual ke luar negeri atau ke industri lain ketimbang pasok PLTU.
Akibatnya, pembangkit listrik jadi "pelanggan prioritas terakhir" para produsen.
Kedua, RKAB batubara dipangkas drastis. Di awal 2026, pemerintah memotong kuota produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi hanya 600 juta ton, alias dipangkas hampir 24%. Beberapa perusahaan tambang bahkan kena potong 40% hingga 70% dari kuota yang mereka ajukan. Alasannya stabilisasi harga global dan efisiensi SDA.
Volume batubara yang tersedia untuk pasokan dalam negeri ikut menyusut.
Ketiga, persetujuan RKAB lambat dan berlarut-larut. Di awal tahun 2026, banyak perusahaan tambang belum mengantongi persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM. Artinya mereka tidak bisa produksi penuh.
Pasokan batubara ke PLTU pun ikut tersendat.
Keempat, royalti batubara dinaikkan progresif. Sejak April 2025, berlaku PP No. 18/2025 yang menaikkan royalti batubara secara progresif berdasarkan harga acuan (HBA). Jika HBA di bawah USD 70 per ton, royalti 15%. Jika HBA mencapai USD 180 per ton ke atas, royalti bisa sampai 28%. Bagi produsen kecil dan menengah, beban ini sangat berat, sehingga banyak yang memilih kurangi produksi atau alihkan pasokan ke sektor yang lebih menguntungkan.
Kelima, ekspor batubara kini wajib lewat Danantara.
Pemerintah menetapkan bahwa mulai Juni 2026, semua ekspor batubara harus disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sistem satu pintu ini masih dalam transisi dan memunculkan ketidakpastian bagi eksportir. Di tengah masa peralihan ini, rantai distribusi batubara domestik ikut terganggu.
Ada narasi yang beredar, krisis stok batubara ini sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah agar mencabut atau melunak soal kebijakan DMO, RKAB, royalti, dan DSI.
Logikanya, jika listrik padam, pemerintah panik, dan akhirnya produsen batubara bisa "negosiasi ulang" syarat yang lebih menguntungkan mereka.
Kalau dilihat, nama-nama besar di balik tambang batubara Indonesia memang bukan orang sembarangan. Grup Bakrie (BUMI), Grup Indika (INDY), Grup Barito (PTRO), hingga pemain PKP2B lama lainnya punya pengaruh politik dan ekonomi yang sangat besar.
Ketika RKAB dipangkas hingga 70%, wajar jika ada tekanan balik.
Tapi apakah ini benar-benar "serangan terkoordinasi"?
Belum ada bukti eksplisit.
Yang jelas, kombinasi kebijakan yang menghantam semua sisi produksi dibatasi, royalti dinaikkan, ekspor diatur ulang membuat produsen enggan prioritaskan pasokan dalam negeri yang harganya paling murah.
Lampu listrik yang redup di Jawa-Bali bukan sekadar soal stok batubara. Ini cerminan dari tarik-menarik kepentingan antara negara, konglomerat tambang, dan kebutuhan rakyat akan energi yang murah dan andal.
Kebijakan dengan implementasinya kacau dan rantai pasok tidak dijaga, rakyatlah yang paling merasakan
Jajaran Bu Winny (Kepala BPS), harus segera menjawab nih.
Kalau isu, pertanyaan Sensus Ekonomi 2026, dibiarkan akan jadi bola liar.
Walau, sebenarnya tinggal dibandingkan saja pertanyaan 2016 vs 2026 😌
Masalah utamanya, bukan di Sensusnya, tapi di Trust Masyarakatnya.
Artinya
Kalau PLN menjaga Receivable Daysnya sama kayak taun 2024 yang artinya pemerintah gak nahan piutangnya, budget deficit Indonesia udah lebih dari 3%😂😂