Teman-teman penulis, pembaca, dan penikmat puisi, atau buat yang belum punya ide kegiatan di Minggu sore, mari merapat yuk! Bertemu dan merayakan bersama.
Langsung aja daftar via qr codenya ya. See you there ππ»ββοΈ
Mengeluh adalah perilaku orang yg punya victim mindset yg terus-terusan playing victim dengan kehidupan. Merasa dijebak oleh hidup seakan gak punya pilihan.
Alih-alih mengeluh, pernah gak bertanya, βApa ini satu-satunya jalan hidupku? Apa tidak ada cara lain yg lebih baik?β
~
Mungkin formula bahagia kita bukan definisi kebahagiaan tapi obat yang kita pikir tepat untuk luka yang sedang ditanggung.
Maybe we speak from pain,
not from knowledge.
~
What you do to yourself teaches people how to treat you.
So if you abandon yourself for them, they wonβt abandon themselves for you, they would do the same as you: abandon you, too.
Let that sink in.
~
Benarkah dunia yang kejam?
Atau kamu yang memaksa dunia untuk tunduk pada keinginanmu saja? Bayangkan miliaran manusia memaksa dunia untuk tunduk pada miliaran keinginan mereka. Yang kejam siapa?
~
Hidup banyak masalah? Hahahaha sama.
Tapi tenang, computational thinking bisa bantu!
Secara sederhana, computational thinking atau berpikir komputasional adalah cara berpikir sistematis untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dengan langkah yang terstruktur. Ya, mirip-mirip dengan cara kerja komputer.
Rumusnya adalah DPAA.
Contoh kasus:
Seorang single mother dengan 1 orang anak usia sekolah. Ia juga seorang freelancer yang bekerja dari rumah. Masalah: setiap hari rumah berantakan, pekerjaan menumpuk, dan itu membuat dia sering burn out.
Mari kita breakdown satu per satu:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Langkah pertama adalah memecah masalah besar menjadi masalah-masalah kecil yang lebih mudah ditangani.
Daripada berpikir: "Hidupku berantakan."
Ubah menjadi:
- Cucian baju menumpuk
- Piring kotor menumpuk
- Mainan anak berserakan
- Deadline pekerjaan sering mepet
- Tidak ada jadwal yang jelas antara kerja dan urusan rumah
Nah, sekarang masalahnya sudah lebih konkret dan tidak terasa sebesar sebelumnya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Cari pola yang terus berulang.
Setelah diamati:
- Piring selalu menumpuk setelah makan malam
- Cucian baru dicuci saat keranjangnya penuh
- Mainan anak selalu berserakan setelah bermain
- Pekerjaan rumah tertunda saat sedang mengejar deadline
Pola yang ditemukan:
β‘οΈ Semua pekerjaan kecil ditunda sampai akhirnya menjadi pekerjaan besar.
3. Abstraksi (Abstraction)
Fokus pada hal yang paling berpengaruh dan abaikan hal-hal yang tidak penting/relevan.
Tidak relevan:
- Bukan soal dekorasi rumah yang kurang estetik.
- Bukan soal membeli rak baru.
- Bukan soal mencari metode produktivitas terbaru.
Masalah utamanya adalah:
- Tidak ada rutinitas harian yang konsisten
- Pekerjaan kecil dibiarkan menumpuk
Maka, masalah utama itu yang harus dibereskan lebih dulu.
4. Algoritma (Algorithm Design)
Setelah akar masalah ditemukan, buat langkah-langkah sederhana sebagai solusi.
Contohnya:
- Rapikan tempat tidur setelah bangun.
- Masukkan pakaian kotor ke keranjang cucian.
- Cuci piring segera setelah makan.
- Jalankan mesin cuci saat mulai bekerja.
- Lipat pakaian sambil menemani anak belajar atau menonton TV.
- Simpan mainan bersama anak sebelum tidur.
Hasilnya?
Rumah tidak langsung berubah menjadi rumah Pinterest. Tapi tumpukan pekerjaan berkurang, rumah lebih terkontrol, pekerjaan lebih fokus, dan tingkat stres ikut turun.
----
Cara berpikir yang sama juga bisa diterapkan pada masalah-masalah yang lebih besar. Apabila masih terasa overwhelmed, gabungkan dengan metode mind mapping.
"Apakah computational thinking bisa membereskan masalah negara? Menghentikan MBG, misalnya."
Ah, kalau itu saya menyerah. π€·ββοΈ