knp gw bs semendukung bangbigna dgn mbanya krn GWLAH SALAH SATU ORG YG IN THAT TROPE 😔😔😔 tunggu gw ya bangbigna akan gw tunjukkan jg kl ternyata #onesidedlove#unrequitedlove itu bs berakhir dan memiliki ending happily ever after
langit kalimantan tepatnya di palangkaraya hari ini, warga di paksa nganggep dan terbiasa dengan langit yang gak lagi warna biru.
ini yang kata pemerintah keadaan normal & aman terkendali wkwkwk
#PrayForKalimantan
Foucault itu mengkritisi bahwa institusi psikiatri gak pernah netral dalam menentukan siapa yang dianggap normal dan tidak normal, serta ada peranan negara dan kapital dalam mengelola “kehidupan” populasi (biopower) yang masuk ke ruang2 ini. Dia juga sesekali mengkritisi psikoanalisis karena memperkuat posisi dokter/terapis sebagai otoritas untuk menilai & mengontrol “kegilaan” individu yang juga meneruskan model “pengakuan dosa” dari tradisi relijius di ruang terapi.
Tapi itu bukan berarti bisa kita ambil simpulan bahwa keilmuan kesehatan jiwa cuma soal pendisiplinan & tidak memberdayakan sama sekali. Yang seringkali dikritisi oleh Foucault adalah klaim universalitas ilmiahnya & praktik institusi dengan relasi kuasanya. Tapi yah distress akibat gangguan jiwa itu nyata, valid dan riil dampaknya ke diri sendiri dan orang sekitar. Terapi2 dari psy- disciplines juga udah terbukti meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan gejala, meski tentu masih harus ditingkatkan relevansi budaya dan penghargaan atas otonomi pasien.
Pendefinisian pemulihan juga gak lagi dibatasi oleh pemaknaan yang dikonstruksikan oleh status quo terkait produktivitas dan menjadi warga yang baik2 taat pada norma apalagi terjebak dalam biner normal-gangguan jiwa, tapi jadi lebih banyak pertimbangan ke aspek relasional dan intrapersonal seperti kapasitas seimbangkan peran sosial tanpa kehilangan keunikan individu dan mampu kontribusi ke masyarakat meski dengan gejala yang sesekali muncul. Pembicaraan ini udah ramai di global dan pelan2 berusaha diadopsi ke konteks lokal. Tentu, kita bisa berargumen juga bahwa definisi2 ini bisa jadi mainstream dominan dan dikooptasi oleh status quo lagi, tapi itu pembicaraan yang butuh kajian lebih mendalam soal lived realities di lapangan lagi.
Selain itu, aku rasa juga penting yah untuk memikirkan beberapa hal berbeda : 1. kekecewaan kita atas kualitas praktik kesehatan jiwa di Indonesia yang underfunded, under-researched and undertrained, 2. ragam komunitas epistemik kesehatan jiwa global dan lokal, serta memahami 3. sejauh apa relevansi kritik Foucault ke psikiatri dan psikoanalisis Barat itu ke konteks Indonesia di masa kini, agar tidak terburu-buru sampai kesimpulan yang faulty juga.
Soalnya kuliat2 dari trend opini yang belakangan ini pada pakai lensa kritikal Foucault (termasuk yg maren2 soal Marxist) ini keliatan banget pemahaman soal ragam keilmuan psi- dan interaksi antar komunitas keilmuan kesehatan jiwanya terbatas, lalu membuat statement yang makjang kalik oversweeping-nya dari hasil main lempar teori2 ini buat mengkritisi kondisi praktik di Indonesia.
Oh i would never hate on kids mau sebadung apapun mereka. I will always blame the adults around them for that karena emang mereka cuma ngikutin apa yang mereka liat dan denger ajee