Resolusi 2022 dan seterusnya :
1. Porsi makan dikurangi ½ dari biasanya.
2. Minum manis 1 hari 1x.
3. Bersepeda minim 50km/minggu.
4. Tidur maksimal jam 00.00.
5. Chips once a month.
Semangat kembali ke size 34
Podo podo isih tim gurem wae do padu bab piala, jumlah piala ro driji tangan wae isih akeh driji tangan kok le do kenceng2 to. Mbok ayo fokus pawon e dewe rasah kepecah fokus mung babagan receh ra penting
Guys, ada berita dari Yogyakarta yang menurut gue paling menggambarkan betapa dalamnya kegagalan institusi pendidikan kita dalam melindungi mahasiswanya.
dosen melakukan peleceh4n terhadap mahasiswi
13 korban.
7 dosen tersangka.
Dari 6 fakultas berbeda.
Berlangsung sejak 2018.
Di kampus yang namanya mengandung kata "Veteran" yang seharusnya merepresentasikan kehormatan dan perjuangan.
Dan ini yang paling mengejutkan:
Ini bukan kasus satu dosen yang bertindak di luar kendali. Ini tujuh dosen dari tiga fakultas berbeda. Pertanian, Teknologi Mineral, Ilmu Sosial dan Politik.
Artinya ini bukan anomali.
Ini adalah pola yang sistematis yang berlangsung di berbagai sudut kampus secara bersamaan.
Dan salah satu dari tujuh dosen itu sudah pernah dijatuhi sanksi pada 2023 larangan mengajar.
Tapi aparentnya kasus lain tetap tidak terdeteksi.
Delapan tahun.
Dari 2018 sampai 2026.
Berlangsung di kampus yang punya satgas PPKPT, punya rektor, punya dekan, punya semua struktur yang seharusnya melindungi mahasiswanya.
Dan ini yang paling menyakitkan:
Di antara 13 korban ada mahasiswi S2.
Bukan mahasiswi baru yang tidak tahu hak-haknya.
Tapi seseorang yang sudah menyelesaikan S1, memutuskan melanjutkan pendidikan, dan tetap menjadi korban di lingkungan yang seharusnya paling aman.
Korban S2 adalah korban yang paling sulit melapor. Karena hubungan dengan dosen pembimbing yang sering adalah satu-satunya jalur untuk lulus menciptakan ketergantungan yang sangat asimetris. Laporkan dosen risiko skripsi tidak dibimbing. Diam terus menjadi korban.
Itulah mengapa keberanian 13 korban yang akhirnya melapor harus diapresiasi.
Bukan diam-diam.
Tapi dengan pengakuan yang keras bahwa sistem yang seharusnya melindungi mereka gagal.
Dan ini yang paling menohok tentang sistemnya:
Ketua Satgas PPKPT bilang: "Running-nya luar biasa dan kami di satgas itu terbatas orangnya."
Satgas yang dibentuk untuk melindungi ribuan mahasiswi kekurangan orang untuk memproses laporan yang masuk.
Sementara kampus punya ratusan staf administrasi. Punya gedung baru. Punya program-program pengembangan yang diumumkan dengan bangga.
Tapi satgas yang paling krusial untuk keselamatan mahasiswanya tidak punya cukup sumber daya untuk bekerja.
Ini bukan kekurangan sumber daya.
Ini kekurangan prioritas.
Dan ini yang harus dipertanyakan dengan sangat keras:
Dari 2018 sampai 2026 delapan tahun mengapa tidak ada yang tahu?
Atau lebih tepatnya:
apakah ada yang tahu tapi memilih diam?
peleceh4n yang dilakukan oleh tujuh dosen dari tiga fakultas berbeda tidak mungkin terjadi tanpa ada satu pun rekan dosen atau staf yang pernah melihat tanda-tandanya.
Tidak mungkin terjadi tanpa ada mahasiswi yang pernah berbisik kepada temannya. Tidak mungkin terjadi dalam keheningan total selama delapan tahun.
Yang lebih mungkin:
ada yang tahu.
Tapi struktur kekuasaan di kampus di mana dosen punya otoritas absolut atas nilai, kelulusan, dan masa depan mahasiswanya membuat semua orang memilih diam.
Dan itulah yang sebenarnya harus dibenahi.
Bukan hanya menghukum tujuh dosen ini tapi membongkar seluruh struktur yang memungkinkan kekuasaan asimetris seperti ini berlangsung selama delapan tahun tanpa ada yang berani bersuara.
Dan ini yang paling relevan dengan konteks lebih besar:
Mahfud MD, dr. Tirta, dan Ahok semua bicara soal kebodohan struktural di Indonesia.
Tentang sistem yang tidak ingin warganya terlalu kritis karena warga yang kritis adalah ancaman.
Tapi ada kebodohan struktural yang lebih jahat dari itu: sistem yang tidak hanya membodohkan tapi juga membungkam.
Yang membuat mahasiswi tidak berani melaporkan dosennya karena takut tidak lulus.
Yang membuat saksi tidak berani bersuara karena takut dikeluarkan.
Yang membuat kampus menutup mata karena reputasi institusi dianggap lebih penting dari keselamatan mahasiswanya.
Itu bukan kegagalan satu kampus.
Itu adalah cerminan dari sistem yang sudah terlalu lama menempatkan kekuasaan di atas kemanusiaan.
13 korban sudah berani melapor.
Itu membutuhkan keberanian yang luar biasa besar di tengah sistem yang tidak pernah benar-benar berpihak kepada mereka.
Sekarang tugas kampus dan seluruh sistem pendidikan tinggi Indonesia bukan hanya menghukum tujuh dosen ini.
Tapi menjawab pertanyaan yang jauh lebih keras:
Delapan tahun.
Tujuh dosen.
Tiga fakultas.
Bagaimana ini bisa terjadi dan siapa yang membiarkannya?
Karena kalau jawabannya hanya sanksi untuk tujuh dosen ini lalu selesai maka delapan tahun berikutnya akan menghasilkan laporan yang sama.
Dengan korban yang berbeda.
Di kampus yang berbeda.
Konten kreator sekaligus streetballer Kevon Watt memberikan pelajaran langsung kpd seorang penantangnya di acara Park Takeover Surabaya.
Lawannya memberikan gesture & kalimat rasis kepada Kevon dgn mengatakan monyet.
Bikin malu orang Indo aja lu sialan!
Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”
Ia menyerahkan lima alamat.
Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.
Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”
Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”
Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”
Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.
“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.” Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.
“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.
Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.
Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.
Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.
Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”
Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”
Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”
Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.
Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.
“Mariono. Kamu kembali.”
“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”
“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”
Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya. Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.
-cont-
Dua tersangka utama di balik kekerasan sistematis terhadap 53 balita di Daycare Little Aresha, Jogja:
1. Diyah Kusumastuti, S.E. (51), Ketua Yayasan
- Beri instruksi verbal langsung mengikat tangan & kaki anak sejak pagi hingga sore.
- Rutin datang pagi, melihat langsung, & perintahkan agar dilakukan.
- Motif ekonomi, semakin banyak anak semakin banyak uang.
- Mantan narapidana korupsi di BPR BKK Purworejo.