Guys, ada kasus yang menurut gue paling menyakitkan dan paling perlu diketahui banyak orang sekarang.
Lebih dari 2.000 orang kemungkinan jauh lebih banyak kehilangan uang yang mereka tabung bertahun-tahun untuk satu tujuan:
beribadah ke tanah suci.
Dan pelakunya adalah seorang anak muda 29 tahun yang berlatar belakang pendidikan agama dari Mesir yang memulai bisnisnya dari niat yang tampaknya baik, tapi berakhir dengan menghancurkan ribuan mimpi orang.
Ini kasusnya Hanania Group:
Hanania Group adalah travel umrah yang dipimpin Ahmad Syah Farhan Rachman.
Awalnya bisnis ini tumbuh dari memfasilitasi teman-teman mahasiswa Indonesia di Mesir untuk umrah.
Pulang ke Indonesia, dia dan istrinya membangun PT Khazanah Tamma Internasional.
Dan bisnisnya tumbuh besar.
Sangat besar.
Sampai mendapat rekor MURI untuk jumlah jemaah yang diberangkatkan.
Artis-artis ternama menggunakan jasanya dan memberikan testimoni bagus. Fasilitas oke.
Pelayanan profesional. Track record nyata.
Itulah kenapa ribuan orang percaya.
Tapi sejak 2025 semuanya sudah retak dari dalam:
Farhan mengakui sendiri bahwa sejak 2025 perusahaan sudah bermasalah secara finansial.
Direksi-direksi mulai mengundurkan diri dari Februari karena tidak ada transparansi keuangan.
Sistem finansial internal tidak terbuka bahkan kepada petinggi perusahaan sendiri.
Dan alih-alih menutup atau jujur kepada jemaah mereka justru membuka pendaftaran baru untuk menutup lubang lama.
Gali lubang tutup lubang.
Dengan uang orang yang ingin beribadah.
Dan ini berlanjut sampai malam takbiran Idul Adha 2026 di situlah Farhan akhirnya mengakui kepada perwakilan jemaah Syawal:
uangnya sudah habis.
Tidak ada yang bisa diberangkatkan.
Sementara di saat yang sama tim marketingnya masih aktif mengejar pelunasan dari jemaah yang dijadwalkan berangkat Juni, Juli, Agustus, Oktober.
Dan ini cerita-cerita di balik angka yang paling menyayat:
Bukan sekadar uang yang hilang.
Ada seorang ibu yang ibunya sudah tua kaki pengapuran, harus disuntik supaya bisa berjalan.
Tapi sang nenek bersemangat: "
Enggak usah takut, Mama masih kuat.
Nanti adik dorong pakai kursi roda."
Uangnya hilang.
Ibunya sudah pasrah.
Ada guru ngaji yang menabung dari uang kencleng Jumat Rp80.000 per minggu.
Dari honorarium khatib Rp100.000.
Disisihkan Rp250.000 per bulan dari mengajar ngaji privat. Pelan. Konsisten. Bertahun-tahun.
Semuanya hilang.
Ada seorang kurir ekspedisi yang menabung tiga tahun semua untuk memberangkatkan ibunya.
Setelah ikut melapor ke Polda sampai jam dua dini hari dia naik motor sendiri pulang dari Jakarta ke Cikarang. Sendirian. Tengah malam.
Ada seorang anak yang menyimpan penyesalan mendalam karena tidak bisa hadir saat ibunya meninggal bertahun-tahun lalu.
Dia menabung dengan satu niat:
mengumrahkan ibunya sebagai bentuk penebusan.
Mimpi itu sekarang hancur.
Dan ini yang paling mengerikan tentang pelakunya:
Ketika dihadapkan kepada ribuan korban dan aparat kepolisian Farhan tidak menangis.
Tidak menunjukkan ekspresi bersalah.
Tidak ketakutan. Cool.
Analisis yang muncul dari korban yang paling lucid:
dia sudah menghitung semua ini sebelumnya.
Sudah tahu risiko masuk penjara.
Sudah mempertimbangkan bahwa lebih baik pasang badan beberapa tahun daripada harus mengembalikan puluhan miliar.
Dan yang lebih mengejutkan di tengah semua ini dia masih menyatakan niat untuk membuat travel umrah baru setelah ini selesai.
"Bisnis ini seksi," katanya.
Dan ini yang paling fundamental perlu diketahui:
Total kerugian yang Farhan sendiri perkirakan jika semua jemaah Syawal sampai Oktober meminta refund:
sekitar 60 miliar rupiah.
Dan itu belum termasuk investor.
Dari 2.000 lebih jemaah yang tercatat kemungkinan masih ada yang belum terhitung.
Farhan sudah ditetapkan tersangka dan ditahan.
Dijerat tiga pasal: penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang yang terakhir ini membuka kemungkinan penyitaan aset.
Tapi pertanyaan yang paling penting bagi ribuan korban: apakah uang mereka bisa kembali?
Realistisnya 50% dianggap sudah bagus oleh salah satu korban.
Karena kemungkinan besar aset sudah disiapkan untuk disembunyikan.
Dan ini yang paling penting untuk semua orang yang masih merencanakan umrah:
Sebelum mempercayakan uang ke travel manapun pastikan terdaftar resmi di Kemenag dengan izin PPIU yang masih aktif.
Pastikan ada rekening escrow terpisah untuk dana jemaah. Minta histori keberangkatan yang bisa diverifikasi dari jemaah sebelumnya.
Dan jangan pernah bayar lunas jauh sebelum keberangkatan tanpa jaminan tertulis yang bisa dituntut secara hukum.
Track record bagus di masa lalu tidak menjamin kondisi keuangan perusahaan hari ini.
Orang-orang ini tidak mencari kekayaan.
Tidak mencari keuntungan investasi.
Mereka hanya ingin sujud di depan Ka'bah dengan uang halal yang dikumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun.
Dan itu dimanfaatkan oleh seseorang yang tahu persis betapa sakral dan betapa rentannya impian itu.
"Kamu belajar agama.
Tapi kamu menipu dengan jalan agama."
Kalimat itu bukan tuduhan.
Itu adalah fakta yang paling menyakitkan dari seluruh kasus ini.