Muted ya temen-temen karena kayanya tweet ini malah dijadiin ajang penyebaran kebencian. semoga kedepannya kita sebagai umat muslim bisa lebih memanusiakan manusia dan selalu berpihak kepada kelompok yang tertindas!! Tunjukin lah kalo islam beneran rahmatan lil alamin
@glrhn@Earthwithoutyou@_BangFu klo liat dr wawancara keanu sm dara arafah kemarin jg jawabannya gini kok, dikasi paket umroh tp di barter sm promotion si socmed mereka. si anwar itu jg dpt paket umroh + uang saku, & uangnya sakunya jg dikembalikan ke pihak kepolisian.
kyknya gak pernah jd kewajiban atau standar dlm pertemanan deh buat ucapin ultah temen di sg. tapi buat yang mau ya why not?
gw pribadi si seneng2 aja diucapin & ngucapin, at least ke-save di archive bisa buat kenang2an
sesama wni aja saling jahat, udah tau ekonomi begini malah sengaja ikutan war jadi ngerebut tiket dari org yg pure mau nonton buat diri sendiri cuma buat dijual dengan harga berkali kali lipat, keterlaluan lo pada, sesimple nonton konser kaya org normal aja susah. semua lo duitin
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L