Pak Pujopeno (Pono Geneng) adalah seorang tukang becak lulusan SD yang biasa mangkal di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.
Meski pendidikannya terbatas, ia belajar lima bahasa asing secara otodidak dengan berinteraksi bersama wisatawan.
Pada 1992, ia menemukan tas milik turis Swiss yang berisi uang dalam jumlah sangat besar. Alih-alih mengambilnya, ia mengembalikan tas tersebut secara utuh.
Kejujurannya membuat sang turis terkesan hingga mengajaknya ke Swiss dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah orang tua angkatnya meninggal, Pak Pono mewarisi harta mereka dan kemudian menjadi pengusaha sukses di Fribourg, Swiss, termasuk di bidang ekspor-impor kopi.
Meski tinggal di Swiss, ia tetap memilih menjadi warga negara Indonesia. Kisahnya menunjukkan bahwa kejujuran, semangat belajar, dan kerja keras dapat membuka jalan menuju kesuksesan.
Salah satu yang menarik:
Kata "sekolah" (dan "school" dalam bahasa Inggris) sebenarnya berasal dari kata Yunani scholē (σχολή) yang artinya "waktu luang" atau "kesenggangan".
Bagi orang Yunani kuno, hanya orang yang punya waktu luang (tidak harus bekerja atau berperang) yang bisa berdiskusi, berfilsafat, dan belajar. Jadi "sekolah" awalnya bukan tempat mengerjakan tugas dan ujian, melainkan waktu istimewa untuk berpikir secara bebas.
Cukup ironis kalau dibandingkan dengan persepsi siswa zaman sekarang yang sering merasa sekolah justru kebalikan dari "waktu luang" 😄
Ide saya:
1. Bubarkan saja fakultas S1 keguruan/kependidikan, kecuali manajemen pendidikan, teknologi pendidikan, psikologi pendidikan, filsafat pendidikan, pendidikan khusus/pendidikan layanan khusus, dan pendidikan vokasi.
2. Mahasiswa dari semua jurusan bisa jadi guru dengan syarat kuliah tambahan 2 tahun (teacher training + magang + pendidikan profesi guru) dan bidang studi S1 harus linier dengan apa yg akan diajarkan (kecuali dibuktikan dengan sertifikasi kompetensi yg legit).
3. Semua calon guru harus dilatih untuk penanganan pertama anak berkebutuhan khusus, kasus bullying, dan kekerasan seksual, serta bagaimana melakukan rujukan ke tahap berikutnya (psikolog, kepolisian, dsb).
4. Jumlah penerimaan pendidikan profesi harus disesuaikan dengan proyeksi jumlah kebutuhan guru.
WALAUPUN ALIM JANGAN JADIKAN GURU
Dalam kitab Tanbihul Ghofilin hal 157 ada satu keterangan:
أَنَّهُ قَالَ ﷺ لَا تَجْلِسُوا عِنْدَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا الَّذِي يَدْعُوكُمْ مِنْ الْخَمْسِ إِلَى الْخَمْسٍ
Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda:
Ensiklik Laudato Si’ dibuka dengan pertanyaan yang menohok:
“Apa yang terjadi dengan rumah kita bersama?”
Pertanyaan yang lahir dari fenomena kerusakan lingkungan yang semakin parah.
Ideologi kapitalisme memuliakan pasar bebas, dan mendidik orang bekerja keras dan berhemat. Kita terbina mencemooh feodalisme. Tapi di negeri kapitalis, kaum hartawan doyan pamer gaya hidup mewah seperti bangsawan feodal.
https://t.co/0dfVJEKxVG