IU sama Wooseok ketemu diwaktu yang gak tepat
- Wooseok ketempelan shipper gila
- IU ketempelang kelompok politik sayap kanan
- Stasiun Tvnya MBC
- Ottnya Disney+
Coba aja PC di TVN + Netflix + 16 Episode
Mimi (Oh My Girl) cerita pertama dan terakhir kalinya dia pacaran tuh pas dia umur 17 tahun, pacarannya 50 hari.
Pas ditanya Tak Jaehon, gimana selama ini tanpa pengalaman pernah pacaran?
Mimi jawab dia baca komik, ada anime, ada dunia virtual juga, ga pernah ngerasa kesepian tuh.
Sekarang malah Mimi tuh ngerasa kalau pacaran harus sampai nikah. Kalau ga mah, yaudah gausah pacaran.
https://t.co/VKG0elsCYM
Yang bingung kenapa IU dan Wooseok sampai minta maaf di IG-nya, aku izin jelasin dari apa yang aku lihat dan baca ya:
Jadi drama Perfect Crown (IU & Byeon Wooseok) lagi kontroversi besar gara-gara scene coronation. Ini muncul di Episode 11 pas scene coronation (naik tahta) Byeon Wooseok.
Meskipun ceritanya fiksi alternate timeline (negara merdeka), ada dua detail yang bikin knetz marah:
1. Mahkota
Yang dipakai Guryumyeongwan (mahkota 9 untaian). Padahal ini mahkota buat raja bawahan China zaman Joseon. Seharusnya untuk penguasa merdeka penuh, pakainya mahkota 12 untaian (Sipyiryumyeongwan).
2. Teriakan
Yang di drama: teriak “Cheonse!” (hidup 1000 tahun),ini kata-kata buat raja negara vassal.
Seharusnya untuk sovereign king: “Manse!” (hidup 10.000 tahun).
Nah karena ini, kesannya jadi negara itu masih status bawahan, bukan negara kuat yang merdeka.
Produksi akhirnya minta maaf scr resmi dan janji revisi audio & subtitle.
Sebenernya ini justru bagus untuk knetz ambil serius tentangi ini. Salut sih generasi mereka masih melek sejarah dan sangat menghargai simbol-simbol nasional. Korea punya sejarah panjang dan trauma penjajahan, jadi detail kecil kayak gini langsung sensitif. Itu artinya mereka benar-benar menjaga identitas bangsanya.
Yang paling SALAH justru tim produksi yang kurang teliti. Harusnya riset lebih dalam, konsultasi ahli sejarah, apalagi drama royal. Kebanyakan aktor-aktris cuma ikut arahan, tapi mereka yang paling kena hate berat.
Harusnya IU dan Wooseok nggak wajib minta maaf secara resmi. Mereka pasti udah tau kesalahan mereka yang nggak ikut ngecek hal ini, karena emang harusnya produksi yang bertanggung jawab full.
#PerfectCrown #IU #ByeonWooSeok
https://t.co/VTpJEECzf9
[ lumayan panjang, soalnya 2 chapter ]
— chapt. 19
sebelum ngelamar yirang, hwan udah ngasih warning ke yirang kalo dia ga akan bisa jadi suami & raja yg baik, bahkan hwan juga udah ngaku kalo dia punya wanita lain di hati dia, berharap yirang bakal menolak pernikahan mereka, tapi yirang malah gak keberatan dengan itu semua.
“aku akan berpura-pura tidak mengetahuinya. aku juga akan menambatkan hatiku pada orang lain, jadi jangan khawatir,” kata yirang.
sebelum lamaran, hwan sempet memberanikan diri minta cincin peninggalan ibunya ke ian untuk ngelamar yirang. udah pasti ian marah, karena cincin itu diwasiatkan langsung dari ibunya untuk ian, dan karena dia tau itu perintah dari ayahnya.
“hyung diem aja, biar aku yang bicara ke ayah.”
ian ngelawan ayahnya, bersikeras gak mau ngasih cincin ibunya ke hwan, karena sesuai wasiat ibunya, cincin itu bakalan dia kasih ke seseorang yang dia cintai nantinya.
karena kejadian itu, ian dilarang untuk masuk ke istana, padahal sebulan lagi pernikahan kakaknya akan berlangsung. denger berita dari dayang istana kalo hwan kelihatan muram, ian nekat manjat tembok buat menemui kakaknya.
“gelisah ya karena pernikahannya sebentar lagi? marriage blues atau semacamnya?”
ian duduk di sebelah hwan, natap mata kakaknya lalu berpikir, apa yg sebenernya ditakutin sama kakaknya, wajah hwan keliatan lesu padahal baru beberapa hari dari pertemuan terakhir mereka.
“padahal hyung sendiri yang melamar, kenapa bertingkah seperti ini?”
“makanya.”
“nyesel ya?”
“apa aku batalin aja ya pernikahannya?”
hwan tiba-tiba ngucapin kalimat layaknya bom.
“ngomong apa, sih? mabuk ya?”
ian bergerak nyium aroma kakaknya.
“loh, padahal nggak minum tapi kenapa omongannya ngelantur?”
“padahal aku nggak lagi ngelantur.”
akhirnya ian sadar kalo kakaknya lagi serius, dia khawatir kalo ada dayang yg denger pembicaraan mereka dari luar.
hwan natap ian, ngeluarin selembar foto dari laci, dikasihnya ke ian.
“apa ini?”
ian ngeliat foto itu diterangi sinar bulan, foto salah satu dayang istana. mustahil seorang putra mahkota nyimpen foto seorang dayang tanpa alasan. ian yg perasaannya campur aduk natap kakaknya yg mengusap wajah gusar.
“udah berapa lama?”
“entahlah, sekitar 3 tahun?”
ian menghela nafas.
padahal udah 3 tahun kakaknya menjalani hubungan rahasia, kok bisa nggak ada yang tau? ian pusing nggak tau harus berbuat apa. ian nggak paham tentang pola pikir kakaknya yg berani ngelamar wanita lain di tengah hubungan seperti itu, dan bisa-bisanya punya niat buat batalin pernikahan. mau sesayang apapun ian ke kakaknya, tapi dia nggak bisa nahan keinginan untuk nonjok kakaknya saat itu.
“terus? beneran mau batalin pernikahannya?”
“....”
“punya keberanian buat ngomong gitu ke ayah?”
menyadari ketakutan di wajah kakaknya, ian terkekeh, tapi matanya nampak garang.
“terus mau apa?”
“aku akan bicara.”
“mau bicara gimana?”
“aku udah bilang ke yirang.”
“bicara apa?”
“kalo aku mencintai orang lain.”
“udah gila ya nih orang?!”
ian yg akhirnya kehilangan kesabarannya, mulai menujukkan amarah. tepat saat ian melontarkan segala bentuk caci maki ke kakaknya, hwan berujar dengan tenang,
“dia bahkan nggak kaget. nggak keberatan, katanya.”
“ya terus? dikira yirang bakal jawab ‘ah, mau bagaimana lagi. mari batalkan pernikahannya,’ gitu?”
“aku kira bakal begitu.”
“AAAKKKH!”
ian berteriak frustasi, bangkit dari duduknya.
“rasanya aku harus pergi. kalo lebih lama di sini bisa-bisa aku jadi gila.”
ian awalnya nggak berniat untuk manjat tembok istana dua kali di tengah malam, tapi dia nggak mau di sana lebih lama sedetikpun. tepat saat ian mulai melangkahkan kakinya pergi,
“aku akan mengajukan pelengseran putra mahkota.” ucap hwan.
ian menoleh terkejut, menatap hwan yang tampak aneh dan tanpa tenaga, tapi tatapannya nampak sangat tegas.
“terus mau kawin lari?”
“nggak ada hubungannya dengan orang itu, urusan kami udah selesai.”
“terus kenapa?”
“aku cuma pengen hidup.”
“....”
(bersambung)
https://t.co/VDwEpgvsEL
— chapt. 21
(1/3)
hwan gagal melakukan perlawanan. dari banyaknya alasan kegagalannya, kesalahan fatal terbesar adalah dia mempercayai yoon seongwon, ayah yirang. berdasarkan hukum kerajaan khusus yang melarang publikasi catatan medis putra mahkota tanpa izin, hwan butuh bantuan dari seongwon, yg menjabat sebagai pimpinan royal hospital.
“bukankah kau juga berharap putrimu bahagia?”
hwan menganggap itu adalah pemikiran yang masuk akal menurut akal sehat. lagipula, ayah mertua mana yang akan menyambut bahagia menantu laki-laki yang menderita gangguan mental akibat depresi dan kecemasan yang berkepanjangan.
“jangan khawatir, yang mulia. saya akan melindungi yang mulia.”
sekilas terlihat seperti sekutu yang dapat diandalkan, yang akan muncul kapanpun, di manapun, untuk menenangkan kecemasan hwan, tetapi justru menolak memberikan sesuatu yang paling diinginkan hwan, mengatakan kalau dia akan mencari cara sebagai dalih untuk mengulur waktu.
bukan menantu hebat, seongwon hanya butuh menantu yang merupakan seorang putra mahkota. kalau saja pernikahan kerajaan belum diumumkan, seongwon mungkin setidaknya akan berpura-pura berusaha, tapi karena seluruh negeri terlanjur percaya bahwa yirang adalah jodoh hwan, seongwon sama sekali nggak punya niat untuk membantu. karena kalau pertunangannya dibatalkan bersamaan dengan pelengseran hwan, yirang juga harus menanggung semua aib itu seolah-olah itu adalah aibnya sendiri.
yang lebih terpenting, seongwon nggak rela kalau sampe ian naik takhta jadi putra mahkota. berkaca dari huru-hara cincin peninggalan ibunya, meski raja sudah memberi perintah & putra mahkota sudah memintanya, ian tetap nggak bergeming. keluarga kerajaan dan kabinet sampe turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi masih gagal. justru mereka malah marah, mengaggap raja telah mengabaikan wasiat terakhir ratu uihyeon. kalau orang seperti ian jadi raja, seongwon merasa akan menghadapi hal-hal yang tidak sepele secara terus menerus.
yang lebih penting, monarki saat ini sedang menghadapi krisis terbesar dalam sejarah. meski rakyat memperlakukan keluarga kerajaan—yang telah menyatakan diri sebagai monarki konstitusional—dengan hormat dan penuh dukungan, nggak ada yang bisa ngasih jawaban memuaskan atas pertanyaan tentang apa makna keberadaan keluarga kerajaan di abad ke-21.
meski nggak bisa disangkal kalau itu adalah sistem yang harus dipertahankan, keluarga kerajaan yang nggak pernah runtuh selama lebih dari 600 tahun. tradisi dan sejarah dari keluarga kerajaan itulah yang menjadi kebanggaan bangsa, dan pilar yang menjadi pendukungnya adalah para bangsawan.
selama keluarga kerajaan masih ada, gagasan bahwa semua orang adalah setara nggak mungkin berlaku. untuk membuktikan kebangsawanan keluarga kerajaan, nggak ada pilihan selain mengakui perbedaan status. sekalipun hanya sekedar nama, selama ada nama yang melekat, hal itu pasti akan menjadi keberadaan yang nggak bisa dibantah.
makanya seongwon berharap keluarga kerajaan bertahan selamanya. karena hanya keabadian dari keluarga kerajaan yang bisa melindungi tembok status sosial yang makin memudar.
saat mengunjungi kediaman hwan, seongwon berpikir dalam hati kalau pelengseran putra mahkota bukan hal yang masuk akal.
“aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ucap hwan, tampak seperti binatang buas yang hampir mati kelaparan. seongwon menghela napas pelan dan menundukkan kepalanya,
“apakah akhirnya yang mulia bertekad… untuk membangkang yang mulia raja?”
“apa katamu?”
“yang mulia raja adalah seorang pangeran agung (daegun), bukan putra mahkota.”
“lalu?”
“jika mendiang raja gwangjong memiliki pewaris… yang mulia raja hanya akan hidup sebagai anggota keluarga kerajaan.”
list adlib di scene ini :
✓ huiju marah-marah (gak ada dialognya di naskah, adlib IU)
✓ ian meluk huiju yg lagi marah-marah (di naskah cuma ditulis 'nenangin huiju', adlib wooseok)
✓ CIUMAN 🫦
✓ ian bilang 'saranghaeyo' tanpa suara (gak ada di naskah, adlib wooseok)
naskah :
ian tersenyum, mencium bibir huiju. suara sorakan antusiasme pun pecah, diakhiri dengan suasana keduanya penuh cinta dan mendapat dukungan oleh semua orang.
—
gak ada keterangan ciuman kedua, bilang 'saranghae', dan ciuman ketiga. ayo ngaku siapa yg ngide adlibnya ☝🏻😭
gak ada 'cium kening' di naskah...... adlibnya wooseok? 😳
naskah :
huiju kini mengerti kenapa ian ingin tidur di sebelahnya. kekhawatirannya yang lembut membuat huiju trenyuh sekaligus terlihat manis. huiju menatap mata ian yang terlelap, menciumnya sekilas. sambil menatap ian yang terkejut,
huiju : maksudku jangan terlalu khawatir, aku ada di sini.
ian menyukai ucapan huiju, seperti dia menyukai suara dari elektrokardiogram.
—
[ deleted scene, epilog episode 2 ]
huiju masuk ke kamar hotel, nggak sadar kalau ian sedang nggak ada di kamar, lalu lanjut jalan ke arah bathroom, bertepatan dengan ian yang baru selesai mandi keluar dari bathroom.
ian : kamu kenap—
huiju langsung mendorong ian masuk ke bathroom, mengunci pintu.
huiju : ibu suri ada di luar.
ian : kakak ipar?
huiju : (nampak dada ian karena bathrobe yang terbuka) ajudanmu menyuruhku untuk sembunyi.
ian : (gawat, menghela nafas)
ian dengan raut wajah gusar melihat ke arah luar.
ian : apa yang kamu lihat?
huiju : (dengan santai) dadamu. (mendongak) ngegym ya?
ian : (memandang huiju remeh) tetap di sini.
huiju : (terkejut lalu menggenggam tangan ian) mau pergi keluar?
ian : (tersenyum lalu melepas genggaman huiju) jangan khawatir.
huiju memandang punggung ian yang berjalan keluar lalu tersenyum tipis.
Huiju perlu izin dari ayahnya buat lulus cepet, tapi ayahnya pelit.
🐦🔥Mau cepet kuliah.
🏰Mau cepet kerja juga?
Ayahnya nggak peduli, mau jadi pebisnis atau doktor ilmu bisnis, kalo Huiju mau kerja di perusahaannya, ayahnya bisa kasih posisi tapi jangan minta jadi pewaris.
Huiju teleponan sama Jeongwoo yang ikut Wan volunteer ke luar negeri.
🐦🔥Pangeran bisa adaptasi?
👓Daegun Jaga?
🐦🔥Dia keliatan nggak bisa tidur kalo bukan di rumah, tapi kayaknya rajin ikut volunteer.
👓Ini sih dunianya dia.
Huiju ngebatin kalo Wan susah ditebak juga 😂
Huiju ke ruang musik, ada Yirang & Jaegyeong. Yang piket buat ruang musik harusnya Baekhogung.
🐦🔥Aku dihukum. Aku mukul anak Baekhogung.
🎹 Namamu?
🐦🔥 Apa?
🎹 Namamu.
🐦🔥 Ha…
🐦🔥 Seong Huiju, kelas 9, Jujakgung.
🎹 Ternyata kamu Seong Huiju itu.
| perfect crown webnovel chap 14 |
huiju when she heard yirang will be crown princess:
“why would someone with so much talent get married? she is of noble status, comes from a good family, and is exceptionally capable herself - why on earth?”
#perfectcrown
Huiju being furious that Prince Ian threw the match, only to find him drenched in sweat, pushing his absolute limits at the archery field afterward...😮
“Congratulations, Sung Huiju!”
Even when classmates who usually kept their distance offered awkward pats on the back, her reaction remained the same.
Stony-faced, Huiju returned to her quarters, shed her sweat-soaked cheollik, and sank into brooding silence. She couldn't shake the memory of Grand Prince Ian's long fingers releasing the string, the final trajectory of his arrow, and that look of utter relief that washed over his face the exact moment his defeat was sealed.
That was why she couldn't bring herself to feel proud of the eosahwa she’d been awarded. There was no honor in it. She had been completely robbed of that raw thrill you only get from besting an opponent who gave you their absolute everything. If only he had fought dirty, or used every underhanded trick in the book out of a desperate desire to win—at least then she wouldn't feel this wretched.
“Unbelievable...” she muttered, disgusted.
Unable to swallow her boiling rage, Huiju finally stormed out of her room. She felt like her head would explode unless she went out and picked a fight with Sung Tae-joo, who was likely running laps on the grounds. True, it was well past curfew, but it didn't matter. Everyone would be too distracted by the post-match afterparty to notice.
After sprinting several laps from the dormitories to the lecture halls, she finally reached the traditional archery field, gasping for air.
As she stood there trying to catch her breath, a sharp, rhythmic slicing sound cut through the wind. It was coming from inside the range.
“……”
Drawn forward as if pulled by a string, Huiju stepped inside—and froze at the sight.
There was Prince Ian, dressed in his blue cheollik, his posture rigid and unyielding as he relentlessly fired arrow after arrow. God knows how long he’d been at it; he was completely drenched in sweat, and the target painted with the azure dragon was already riddled with a countless barrage of arrows.
Only then did the truth finally force its way into Huiju’s mind. He hadn't wanted to lose. Just like anyone else, he had desperately wanted to win. And because he’d been forced to swallow a defeat he had no say in, he was absolutely devastated.
#아이유 #IU #성희주 #PerfectCrown
Oh wow, looks like Huiju also had a little crush on Prince Ian back in their school days 😆
Scene after Jeongwoo catches Prince Ian watching Huiju at the archery field.
Returning to the dormitory, Hee-ju brooded over her encounter with Grand Prince Ian. She had been actively avoiding him ever since the night the friendly match ended—having realized just how fiercely competitive he was—so this sudden run-in left her deeply flustered.
There was no specific reason for avoiding him. It was just... a bit uncomfortable, so to speak.
Avoiding him hadn't been difficult. Since he was exceptionally tall, he was easily spotted from the end of a hallway or in any corner of the campus. Yet, of all places, she had to run into him right in front of the archery field.
"……."
She didn't even like his face, which she hadn't seen in a while. She couldn't understand why he was smiling like that, especially considering he had no choice but to lose a game he had practically already won. Wasn't he frustrated? If it were her, she would have been so furious she wouldn't even want to look at him.
So, she had just wanted to pass him by. She didn't want to feel pity for a high-born prince.
Though things didn't quite go as smoothly as she hoped.
"……."
Shaking her head as if to brush off her conversation with him, Huiju sat at her desk and opened her textbook. Either way, all she had to do from now on was avoid getting involved with him. It wasn't as if they were deeply entangled right now anyway, but his face popping up unexpectedly in her mind made her uncomfortable.
To the point where she felt secretly relieved that she was the only one who knew just how burning hot those cold eyes, which usually looked down on others, could become when they blazed with passion.
#아이유 #IU #성희주 #PerfectCrown
Jeongwoo was already bro-zoned back in high school days lmao 😭 bro never stood a chance from the start
"This feels nice."
"What does?"
"The fact that you’re on my side, Oppa."
At those words, a sense of pride swelled up within him again. Enough to make him want to take her side a little more actively, a little more often.
"I wish you were my real brother, Oppa."
"I wouldn’t want that, Huiju."
#아이유 #21세기대군부인 #IU #PerfectCrown