Pernah gaksi lo buka folder foto-foto lama terus inget kalo lo pernah sedeket itu sm orang2 yg skrg udah jauh? Lo bisa ketawa brg mereka, gila-gilaan, dan hal positif lainnya. Tapi, skrg rasanya semua nggak sama lagi.
Mungkin ini yg dibilang “people change, but memories don’t.”
Harry Kane lagi bikin musim yang gila.
73 gol dalam 65 laga buat klub & negara. Bahkan musim terbaik Cristiano Ronaldo aja udah dia lewatin.
Tapi masih ada Messi 2011/12 😅
82 gol + 34 assist itu bukan cuma showcase kemampuan mencetak gol. Itu sekaligus nunjukin betapa komplet kontribusinya: elite goalscoring, elite playmaking, elite chance creation dalam satu musim yang sama.
Biasanya pemain dengan angka gol segila itu hidup dari servis.
Messi justru ikut menciptakan servisnya.
Dan tetap selesai dengan 82 gol. 😭🐐
Pertama : 91 gol itu gabungan klub + timnas Argentina sepanjang tahun kalender 2012. Sebagian dicetak bareng timnas di mana Xavi dan Iniesta jelas-jelas nggak ada di lapangan. Jadi premisnya udah runtuh dari kalimat pertama.
Kedua : logikanya nggak konsisten. Kalau “Xavi + Iniesta di lini tengah” itu semacam mesin otomatis yang bikin siapapun di depan mereka cetak 90 gol setahun, mestinya ada bukti historisnya. Mereka main bareng striker/winger kelas dunia lain : Villa, Pedro, sempat juga Henry dan Eto’o
Nggak ada satupun yang deket ke 91. Nggak ada yang bahkan tembus setengahnya.
Jadi assist dari dua midfielder legendaris ini “otomatis” bikin orang jadi mesin gol tapi cuma berlaku buat satu orang doang? Itu bukan pola, itu pengecualian. Dan pengecualian itu namanya Messi.
Ketiga, ini soal siapa yang ngangkat siapa. Sepakbola itu kolektif,nggak ada striker yang cetak gol sendirian tanpa build-up siapapun. Tapi kalau logikanya dibalik jadi “Xavi & Iniesta = sebab, 91 gol = akibat otomatis,” itu sengaja ngilangin variabel paling penting: Messi-lah yang bikin assist mereka jadi seistimewa itu, bukan sebaliknya.
Kalau emang lini tengah doang yang nentuin, kasih tunjuk siapa lagi yang pernah deketin angka itu. Sampai sekarang belum ada jawaban. 🐐
🔥 Cuma di Pati, rakyat seolah lebih tinggi dari pejabat.
Pati melahirkan kultur baru: perlawanan rakyat terhadap otoritas yang dianggap tidak adil. Ekspresi kontemporer masyarakat agraris dan pedagang pasar yang berani bersuara.
Seru, dan mungkin akan menjadi catatan baru dalam sejarah serta antropologi masyarakat Pati.
12 Agustus 1902, Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat.
Hatta dikenang bukan hanya sebagai negarawan, tetapi juga sebagai pemikir, intelektual, dan pejuang demokrasi yang berintegritas.
Walau proklamator, Hatta menolak dimakamkan di taman makam pahlawan. Hal ini tertulis dalam surat wasiatnya yang bertanggal 10 Februari 1975.
“Apabila saya meninggal dunia, saya ingin dikuburkan di Jakarta, tempat diproklamasikan Indonesia Merdeka. Saya tidak ingin dikubur di Makam Pahlawan (Kalibata). Saya ingin dikuburkan di tempat kuburan rakyat biasa, yang nasibnya saya perjuangkan seumur hidup saya.”
Kenapa Copa América sempat terasa seperti digelar tiap 2 tahun? Padahal format normalnya 4 tahun sekali. 🤔 Apa iya biar kesempatan messi dapat copa america lebih besar?
FYI, dalam rentang 2015–2024, ada 5 edisi Copa América:
2015 → 2016 → 2019 → 2021 → 2024
Sekilas memang kelihatan seperti Copa América lagi “padet” dan digelar tiap 2 tahun. 😅
Bahkan mungkin ada yang beranggapan:
“Jangan-jangan Copa América sering digelar biar Messi punya lebih banyak kesempatan dapat major trophy?” 😂
Kebetulan, memang dalam periode tersebut Messi akhirnya memenangkan 2 Copa América, yaitu pada 2021 dan 2024.
Tapi sebenarnya, frekuensi Copa América pada periode tersebut bukan karena Messi. Ada kronologi yang cukup masuk akal di balik jadwal yang terlihat tidak biasa ini.
Simple-nya, begini:
🇨🇱 2015 — Copa América reguler ->Turnamen digelar seperti biasa di Chile.
🇺🇸 2016 — Copa América Centenario -> Nah, ini yang pertama membuat jadwal terlihat “aneh”.
2016 adalah edisi khusus untuk memperingati 100 tahun Copa América. Jadi, hanya setahun setelah edisi 2015, Copa América kembali digelar.
🇧🇷 2019 — Copa América reguler -> Setelah edisi spesial 2016, turnamen kembali digelar pada 2019.
Lalu muncul rencana perubahan kalender.
🇦🇷🇨🇴 2020 → ditunda menjadi 2021
CONMEBOL berencana mengubah kalender Copa América agar turnamen digelar pada tahun genap dan berada dalam siklus 4 tahunan, sehingga lebih selaras dengan kalender turnamen internasional besar seperti UEFA Euro.
Rencananya, setelah 2019 akan ada Copa América pada 2020, lalu:
2020 → 2024 → 2028 → 2032...
Tapi kemudian… COVID-19 terjadi.
Euro 2020 ditunda menjadi 2021, dan Copa América 2020 juga ikut ditunda. Akhirnya, Copa América yang seharusnya digelar pada 2020 baru dimainkan pada 2021.
Jadilah:
2019 → 2021 → 2024
Nah, setelah itu kalendernya kembali ke pola 4 tahunan:
2024 → 2028 → 2032 → 2036...
Jadi sebenarnya, Copa América tidak pernah benar-benar berubah menjadi turnamen 2 tahunan secara permanen.
Dan sekarang, kalau tidak ada perubahan kalender lagi, Copa América kembali mengikuti siklus 4 tahun sekali
Clear ya, gess. Wkwkwk.
Dalam dokumenter terbarunya, Mourinho menyatakan kalau persaingannya melawan Pep Guardiola jauh melebihi sekadar adu strategi sembilan puluh menit di lapangan. Sejak menginjakkan kaki di Madrid, ia sadar bahwa ia menghadapi dominasi absolut Barcelona.
Mourinho menyadari satu-satunya cara meruntuhkan kekuasaan Pep adalah menyeretnya keluar dari zona nyaman. Jika duel hanya sebatas taktik seperti yang dilakukan Jürgen Klopp, tim asuhan Pep akan selalu menang karena sistem mereka sudah sangat matang. Dari pemikiran itulah, Mourinho sengaja menabuh genderang perang total di segala lini, mulai dari ruang konferensi pers, halaman media, hingga pinggir lapangan. Ia menciptakan atmosfer brutal penuh provokasi untuk merusak kedamaian pikiran musuhnya.
Mourinho tahu persis bahwa Pep adalah seorang puris yang mencintai keindahan sepak bola. Tipe manusia seperti ini akan sangat rapuh jika dipaksa menghadapi permainan psikologis yang kotor. Mourinho mengubah rivalitas menjadi perang mental yang melelahkan, meneror ketenangan Pep setiap minggu sampai ruang media terasa sama mencekamnya dengan pertandingan itu sendiri.
Strategi Mourinho terbukti berhasil. Siasat psikologis yang menjengkelkan itu menguras habis energi mental Pep dan membuatnya tidak bisa lagi menikmati sepak bola di Spanyol. Pada akhirnya, meskipun Mourinho harus membayar mahal dengan hancurnya keharmonisan ruang ganti sendiri, ia sukses memaksa Pep menyerah dan angkat kaki dari Barcelona lebih cepat karena kelelahan meladeni perang tersebut.
Pak Jokowi mungkin juga dulunya Chef, soalnya jago “memasak”, untuk diri sendiri, dan cocok untuk rezim ini 😭
beliau menuliskan:
“sejumlah tradisi atau budaya yang tumbuh subur dan berkembang di alam represif Orde Baru masih berlangsung sampai sekarang, mulai dari korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerakusan, sampai sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis.
kesemuanya ini masih berlangsung, dan beberapa di antaranya bahkan semakin merajalela, di alam Indonesia yang katanya lebih reformis.”
***
kutipan artikel opini Joko Widodo berjudul “Revolusi Mental” di Kompas pada 2014. Sumber:
https://t.co/y5TeG65prd
mantan ketua MK, Arief Hidayat cerita pengalamannya ngobrol dgn hakim dari negara skandinavia saat kongres MK sedunia di Madrid
👴🏻: "negara anda 98% ateis, kok gada korupsi?"
👨🏻⚖️: "urusan dunia diselesaikan sebaik-baiknya di dunia"
👴🏻: "saya terpukul krn negeri saya 98% religius tapi justru rusak kyak sekarang ini"
10 Agustus 1998, Letjen Prabowo Subianto menghadiri sidang Dewan Kehormatan Perwira (DKP) atas kasus penculikan para aktivis pro-demokrasi sepanjang 1997-1998.
Prabowo yang saat kasus terjadi menjabat sebagai Danjen Kopassus disebut memerintahkan penculikan kepada Tim Mawar.
Panglima ABRI Jenderal Wiranto memerintahkan 7 orang perwira tinggi untuk memeriksa Prabowo dalam DKP. Mereka adalah Jenderal Subagyo H.S., Letjen Fachrul Razi, Letjen Djamari Chaniago, Letjen Susilo B. Yudhoyono, Letjen Agum Gumelar, Letjen Arie J. Kumaat, dan Letjen Yusuf Kartanegara.
Hasil pemeriksaan DKP menyebut Prabowo melampaui kewenangan dengan menjalankan operasi pengendalian stabilitas nasional. Prabowo juga dinilai bersalah acap pergi ke luar negeri tanpa izin KSAD maupun Panglima ABRI.
Prabowo dinilai kerap mengabaikan sistem operasi, hierarki, dan disiplin di lingkungan militer. Sebagai menantu Presiden Soeharto, perwira tinggi lainnya segan kepada Prabowo.
Atas berbagai pelanggaran tersebut, DKP mengeluarkan rekomendasi yang berujung pada pemberhentian Prabowo dari dinas militer pada akhir Agustus 1998.
📷 AFP / Getty Images
Tulisan opini saya naik cetak di @hariankompas hari ini. Tentang kepastian hukum, mengapa kerusakannya hanya bergerak satu arah dan bergeraknya dari pucuk, serta apa yg terjadi pada bangsa ketika semua orang terpaksa berhitung pendek. Silakan disimak.
https://t.co/W25aKFRYOg