Menurutku kita perlu hati-hati sama narasi “inflasi pendidikan”. Karena kalau narasi ini diterima mentah-mentah, kesimpulan yang muncul bisa bahaya. Sekolah tinggi percuma, kuliah percuma, sarjana kebanyakan.
Padahal menurutku root cause-nya bukan itu.
Tesisnya kan kayak gini "problem utama Indonesia bukan kebanyakan orang kuliah, tapi terlalu sedikit pekerjaan formal dan produktif yang butuh orang berpendidikan tinggi""
Kalau mau bilang “inflasi pendidikan”, definisinya harus jelas dulu. Inflasi pendidikan itu terjadi ketika gelar makin banyak, nilainya makin turun, dan jumlah lulusan pendidikan tinggi jauh melebihi kebutuhan pasar kerja.
Indikatornya apa? berapa banyak penduduk yang benar-benar lulus perguruan tinggi? apakah pekerjaan formal cukup banyak? apakah industri, kantor, startup, pabrik, dan perusahaan produktif tumbuh cukup untuk menyerap mereka?
Nah, kalau lihat Indonesia, indikatornya belum cocok untuk bilang akar masalahnya adalah sarjana kebanyakan. Penduduk yang tamat perguruan tinggi 2025 baru sekitar 11%. Di tenaga kerja, D4/S1 ke atas juga sekitar 10,44%.
Jadi agak susah bilang “hampir semua orang bisa kuliah”. Faktanya, yang kuliah sampai lulus masih sedikit. enggak ada 20% dari total penduduk kita.
Yang lebih kelihatan justru sebaliknya. pekerjaan formal dan high-skill kita belum cukup banyak. Pekerja informal masih sekitar 59% dari total pekerja. Artinya banyak orang masih hidup dari kerja yang tidak stabil, tdk pnya BPJS, dan gaji layak.
Kalau pakai analogi Sim City, ini gampang kebayang. Kamu bisa bangun sekolah dan kampus, tapi kalau kotanya tidak punya cukup zona industri, kantor, dan bisnis, lulusan itu mau kerja di mana?
Masalahnya bukan sekolahnya kebanyakan. Masalahnya kotanya tidak cukup dibangun untuk menyerap orang yang sudah sekolah.
Itu yang menurutku terjadi di Indonesia. Anak mudanya disuruh sekolah tinggi, tapi setelah lulus, lapangan kerja formalnya sempit. Akhirnya perusahaan bisa bikin proses seleksi makin panjang, makin ribet, makin mahal buat pelamar, karena supply pelamar jauh lebih besar dari demand pekerjaan bagus.
Jadi kalau ada fresh graduate harus isi data panjang, online test berlapis, FGD, interview, psikotes, sampai MCU untuk posisi entry-level, itu bukan bukti bahwa pendidikan kita kebanyakan. Itu gejala pasar kerja yang timpang.
Dan di titik ini, menurutku jangan dibalik jadi menyalahkan anak muda yang kuliah.
Problemnya ada di kebijakan. Kenapa pemerintah? Karena yang bisa mengatur arah investasi, industrialisasi, perizinan, kualitas pekerjaan, dan belanja negara ya pemerintah. Bukan individu pencari kerja.
Contoh, daripada kebijakan populis seperti MBG dijadikan jawaban utama, menurutku lebih masuk akal kalau energi dan uang negara dipakai untuk membangun pabrik, industri, dan pekerjaan layak.
Kalau orang tua punya kerja yang layak, mereka bisa kasih makan anaknya sendiri. Mereka bisa sekolahkan anaknya sampai lulus. Anak itu juga punya peluang masuk lapangan pekerjaan yang lebih sehat.
Jadi kesimpulannya, jangan kejebak narasi “sarjana kebanyakan”. Sarjana kita masih sedikit. Yang kurang itu pekerjaan produktif, industri, perusahaan, dan kebijakan ekonomi yang serius menyerap tenaga kerja terdidik.
Yang harus diturunkan bukan aspirasi pendidikan rakyat. Yang harus dinaikkan adalah kualitas ekonomi dan jumlah pekerjaan layak.
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀
Ada kucing gendut di China yang terkenal karena suka masuk supermarket terus nyolong makanan.
Aku nggak mau menghakimi…
tapi dari bentuk badannya, kayaknya dia udah bukan pelanggan lagi, melainkan investor utama supermarket tersebut 😭
Yoo Inna: Bertemu setelah sekian lama, kita seperti pasangan yang udah lama hidup bersama lalu bercerai
Inget banget dulu naik kapal ini dan visual mereka dari dulu ga berubah sama sekali 😭☝🏻
#YooInna#LeeDongwook
Orang Indonesia rajin baca kok, tuh lihat yang aktif baca berita, baca artikel gratisan.
Situs baca manga, Mangaplus mencatat orang Indonesia peringkat 3 pengunjung terbanyak.
cuma untuk beli buku pada gak punya duit karena kembali lagi, buku tidak affordable. Rasio gaji kecil.
Strategi selalu sama: menyerang dalam diam dengan strategi berbeda.
- Saat pak Prabs banyak ke luar negeri, dikritik karena keseringan, Gibs malah banyak ke daerah2. terutama anak sekolah.
- Saat pak Prabs didemo mahasiswa, dicegatin ijo dan coklat, Gibs malah nerima mereka di kantornya.
- Saat pak Prabs lagi dikritik soal program2nya, dan pidato yg bikin byk org sebel, Gibs malah diem aja, ga ngapa2in.
Hati-hati, orang jawa emang naroh keris di belakang. Bu Mega yg ngangkat dr Solo sampe 2x Periode aja bs dikhianati Pakdhe,
Apalagi yg dulu jd lawan politiknya berkali2 🤙