Dalam hidup manusia seolah ia punya banyak pilihan, tetapi sejatinya pilihan kita terbatas sebatas pengetahuan dan pengalaman.
Kita pasti punya kesalahan, jadikan kesalahan sebagai pelajaran yang setidaknya jika harus salah, maka dengan kadar minimal dan kebaikan optimal.
@tanyarlfes Gak wajib, itu pilihan dan keyakinan, tetapi kemelekatan atau keterhubungan bisa dibangun selain cara itu. Misalnya, bertanggung jawab, empati dgn cara itu akan meningkatkan seretonin dan dopamine yang scr alami menimbulkan chemistry.
Perbanyak referensi, hindari manipulasi.
@tanyarlfes Menikah itu bagi yang mampu. Mampu bertanggung jawab misalnya secara finansial mental, spritual intelektual. Jgnkn nolak suami dia ga nafkahin km aja sdh dosa. Biasakan menunaikan kewajiban dulu sebelum , menuntut hak. Menikah itu tujuannya samawa dgn cara muasyarah bil ma'ruf.
@tanyarlfes Menyesal itu sudah bagian dari kebaikan. Tujuan dari hs itu melepas hormon oksitosin endorfrin dsb. Tinggal cari tau aja gimana caranya dapat itu selain hs misalnya. Perkara susah, ketagihan itu manusiawi apalagi belum nikah adrenalin meningkat. Justru ini tantangannya, semangat!
@tanyarlfes Menurutku menolak memang dosa, tetapi memaksa juga bisa berdosa. Sebab bercinta artinya harus dilakukan atas dasar cinta, bukan memaksa. Makanya kalau dalam islam harus dgn muasyarah bil ma'ruf. Cinta itu mudah memahami, memaafkan disertai batasan. Tanya dulu apa tujuan kita hs?
@m4rtabakkacang Jatuh cinta dan menyatakan cinta adalah hal yang wajar. Budaya malu itu harusnya kepada hal hal yang memang salah/kurang elok/kurang etis. Nah, apakah kita bisa dikatakan demikian hanya karena menyatakan cinta? Bahkan hanya menyatakan. Tidak harus memiliki.
Gak adil bgt kalau masyarakat miskin jd korban di anggap beban. Bnyk dari mereka yg kerja siang malam, gk jg kaya bahkan hidup layak pun blm. Pny anak nakal dilarikan ke barak, banyak anak dblg beban. Aparat&pejabat zalim dgn kuasanya terus apa?
Pdhl mudaratnya jauh lebih besar.
Penting sekali, punya kesadaran penuh atas kendali diri. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang bukan hanya berpendidikan tetapi terdidik. Sehingga kita bisa menjadi ruang aman bukan menjadi ancaman untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain.
Individu memang perlu berbenah, tapi sistem juga harus berubah. Sebab hidup tidak akan ramah jika sistem masih menyembah kuasa dan upah. Jadi, setarakan, selaraskan, tegakkan keadilan bukan malah dibenturkan.
Dalam menjalani relasi seharusnya kita berani menyatakan bahwa, aku punya kekurangan kamu pun sama. Sehingga setiap hari dalam hubungan ini kita berkompromi pada batasan yang kita tetapkan.
Meminimalisir mudarat, memaksimalkan kemaslahatan bersama yang kita namai cinta.
Memaafkan, bukan berarti melupakan.
Punya empati, tidak berarti rela menyakiti diri sendiri.
Segala hal yang kita lakukan yang kita anggap baik, tujuannya adalah kemaslahatan,kebaikan dan ketentraman. Kalau itu membawa mudarat artinya ada yang salah dalam relasi yang kita jalani.
Setelah kita sadar, kita mampu memahami emosi kita dan orang lain lalu idealnya punya empati. Nah, tapi sulit rasanya untuk baik ke orang yang zalim ke kita.
Sulit memaafkan mereka, Bahkan melupakan nya saja enggan rasanya. Makanya kita protes, minimal jaga jarak, Itu wajar.
@banjarbase Sebenarnya konsep suka setiap orang tuh beda beda, tidak sama. Tapi, harusnya ketika kita saling mencintai maka dalam konteks pasangan selama itu, tidak melanggar batasan atau sebuah kesalahan fatal ya suka suka aja semuanya, ini menurutku.