#intinyadeh aktris Izzi Isman servis HP ke iBox cabang BXC2, ganti batre.
Pas diambil, diliat histori screen time, ada penggunaan app gallery di jam HP masih diservis, bahkan selama 14 menit.
Indikasi breach of privacy, ngubek2 gallery customer. Nuntut penjelasan pihak iBox.
AL INSYIRAH AMPUHHHH GAISSS KALO KALIAN NERVOUSSSS, aku beneran spam baca al insyirah tiap solat, tiap bengong, tiap lagi santai, setiap apapun disambil baca alam nasyrah + pegang hati nya pakai tangan kanan.....semoga works di kalian karena di aku works banget alhamdulillaah 🥺
#kaburajadulu versi jerman 🇩🇪
jerman lagi kekurangan tenaga kerja di banyak sektor, terutama: perhotelan, caregiver/perawat lansia, konstruksi, manufaktur, sama teknik
buat masuk, biasanya diminta bahasa jerman basic dulu (sekitar A2–B1). banyak juga yang masuk lewat jalur Ausbildung (sambil kerja + sekolah, jadi dapet pengalaman juga)
klo bahasa udah lebih tinggi (B2 ke atas) + punya skill, peluang buat langsung kerja dan dapet visa juga makin kebuka
info bisa cek di https://t.co/3sMSxcsCZw atau akun2 loker luar negeri yang sering update 🫶🏻
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
Tiba-tiba keinget kata Habib Jafar:
“Yang tidak sampai ke kita, tidak perlu dicari tau.
Yang sampai dari mulut orang lain, tidak perlu dipercaya.
Dan yang sampai langsung dari orangnya, dimaafkan.”
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas.
Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
mungkin info ini jarang dibagiin ya..
sebenarnya, ada perusahaan outsourcing yg udah terpercaya dan client2 nya perusahaan2 besar
mungkin kalian bisa coba ya🙏
Ehhhhmmm... Kalo lagi buntu, gada salahnya kok kasih hadiah Al-Fatihah buat diri sendiri. Gatau caranya? Sini kakak shelby gemoy beautiful ajarin
1. Assalamualaikum ( sebut nama kamu )
2. baca " QODARULLAH 'ALA KULI HAL ILA RUHI WAL JASADI ( sebut nama kamu )
untuk jaga-jaga. coba deh pelan-pelan buat pelajarin skill yang kiranya dibutuhin sampai tahun 2030 nanti. ini ada data grafik skill/kompetensi apa aja yang dibutuhin sampai 2030. udah banyak juga research yang dilakukan sama konsultan dan hasilnya kurang lebih sama.
mau ga mau harus pelajarin terutama untuk skill yang butuh banget human touch
Aku merasa ada 1 life-hack yang aku terapin sampai sekarang: 1 Bulan fokus ngembangin skill spesifik. no distraksi.
Beberapa kejadiannya yang menonjol dan mengubah hidup:
1. Aku dulu kuliah DKV, terus magang. Tapi sayangnya aku belum lancar Adobe. Di tempat magang diomelin terus krn kesannya gabisa apa2. Lalu tiap pulang magang, tiap hari malam dan subuh belajar adobe 1-1. Mulai dari Photoshop, Illustrator, After Effects, InDesign. Nonton tutorial, praktek, ngulang, gitu terus. Akhirnya bulan ke-2 udah lancar dan bisa ngajarin anak intern lain.
2. Aku dulu lulus S1 mau daftar beasiswa ke UK. Tapi aku belum pede sama IELTS-ku. Akhirnya ke pare, Kediri, 1 bulan. Ngulang pola yang sama. Hal lain jadi seolah ga penting. Subuh sampe tengah malem belajar, sampe trial IETLS berkali2 dapat skor di atas 8. Akhirnya, seminggu stlh di pare, dapet IELTS utk beasiswa.
3. Aku dulu awal belajar facebook ads mandiri. Gak pake kelas, semua modal ngoprek dan tutorial youtube dimana2 tiap hari. Ngedesain KV dan copywriting juga sendirian. Akhirnya berkembang, mulai dr ngetes budget 15K/hari sampe 150jt/hari.
4. Aku awal tahun ini fokusnya belajar investasi saham secara lebih mendalam. 1 Bulan. Langganan telegramnya Pak T (CIA) , nonton semua youtubenya, terus nonton berbagai playlist youtube yg ada di youtube, ngetes nyoba2in sendiri trading mulai dari 100K sampe 10jt. Sampe akhirnya cukup confident jg.
Dari sini aku belajar bahwa: Kita mungkin cuma one skill away to change ourself.
Nyeri Mana Menandakan Apa?
1. Nyeri bahu – Kantung empedu
2. Nyeri lutut – Kekurangan Vitamin D
3. Nyeri punggung bawah – Gangguan ginjal
4. Nyeri leher – Postur tubuh buruk atau tekanan darah tinggi
5. Nyeri dada – Asam lambung (Refluks)
6. Mati rasa di jari – Kekurangan Vitamin B12
7. Rasa terbakar di telapak kaki – Kerusakan saraf (Neuropati)
8. Nyeri pinggul – Kekurangan Kalsium atau Vitamin K2
9. Sakit kepala (dahi) – Sinusitis
10. Sakit kepala (belakang) – Tekanan darah tinggi atau ketegangan
11. Kram kaki – Kekurangan Magnesium
12. Kekakuan sendi – Kekurangan Omega-3
13. Nyeri gusi – Kekurangan Vitamin C atau peradangan gusi
14. Sakit perut – Infeksi bakteri H. pylori
15. Nyeri punggung tengah – Pankreas
16. Nyeri tulang – Kekurangan Vitamin D
17. Nyeri lengkungan kaki – Ketidakseimbangan elektrolit
18. Nyeri paha – Masalah sirkulasi
19. Nyeri pergelangan kaki – Peradangan kronis
20. Nyari minyak - jual kedaulatan udara
Ngeliat oracle yang layoff banyak orang, jadi mau nulis pov gue.
Di tempat gue juga lagi ada layoff, dan kebanyakan alasannya karena non-perform. Awalnya gue pikir ini simpel, kalau ga perform ya wajar. Tapi setelah gue lihat lebih dekat, ternyata definisi perform itu udah mulai berubah.
Beberapa orang yang kena itu bukan berarti mereka ga kerja. Mereka tetap nyelesain task, tetap ikut flow, dan ga bikin masalah.
Tapi kontribusinya dianggap kurang impactful. Kerja ada, tapi value-nya kecil.
Yang bikin beda sekarang, sebagian kerjaan itu udah bisa dipercepat banget pakai AI.
Hal-hal yang dulu makan waktu lama, sekarang bisa diselesaikan lebih cepat dengan tools yang ada.
Jadi standar otomatis naik.
Akhirnya yang dinilai bukan lagi sekadar “lo kerja atau engga”, tapi “lo bawa value apa yang ga gampang diganti”.
Di situ gue mulai mikir ulang cara gue kerja. Kalau kerjaan gue cuma sebatas ngerjain task yang bisa di-automate atau dibantu AI, berarti posisi gue sebenarnya rawan.
Jadi sekarang fokus gue agak geser. Gue tetap deliver, tapi gue juga mulai mikir apakah gue benar-benar ngerti problem yang gue kerjain, apakah gue bisa kasih insight atau arah, dan apakah gue bisa bantu decision, bukan cuma kasih data.
Karena hal-hal kayak gitu yang masih susah digantikan.
Jujur ini jadi wake up call juga. Bukannya takut, tapi lebih ke sadar kalau standar dunia kerja lagi berubah. Dan kalau kita ga ikut naik level, kita bakal ke-push keluar bukan karena kita jelek, tapi karena requirement-nya beda.
Buat gue pribadi, ini bikin gue lebih fokus ke relevansi. Bukan cuma sibuk kerja, tapi memastikan apa yang gue kerjain itu memang punya impact dan ga gampang digantikan.
Guys, lu pada tau Gayus Tambunan?
Pegawai pajak.
Golongan 3A.
Gaji sekitar Rp12 juta sebulan.
Yang punya rekening Rp28 miliar.
Dan itu baru yang ketahuan.
Gayus Halomon Tambunan lahir 1979 di Jakarta. Kerja di Direktorat Jenderal Pajak tepatnya di subdirektorat banding pajak.
Posisinya bukan posisi strategis tingkat tinggi.
Dia bukan direktur.
Bukan pejabat eselon satu.
Tapi posisinya adalah posisi kunci.
Karena di situlah ditentukan nasib sengketa pajak antara perusahaan-perusahaan besar dan negara.
Di sinilah pajak miliaran bisa dikurangi.
Sanksi bisa dihapus.
Dan semua itu dengan imbalan tertentu.
Dan sistem pengawasannya?
Nyaris tidak ada.
Ini yang bikin gue diem lama.
Gayus bukan orang yang tiba-tiba jadi jahat.
Dia adalah produk dari sistem yang memberinya kekuasaan besar tanpa kontrol memadai.
Dalam kultur birokrasi yang sudah terlanjur permisif terhadap penyimpangan.
ICW bilang posisi Gayus adalah posisi kunci dalam ekosistem mafia pajak.
Dan hampir mustahil dia mengelola aliran dana miliaran sendirian tanpa bantuan atau perlindungan dari internal DJP, institusi perbankan, atau aparat penegak hukum.
Gayus bukan pelaku tunggal.
Dia simpul kecil dari jaringan yang jauh lebih besar.
Lalu kasusnya meledak.
Dan negara mulai bergerak.
Tapi geraknya aneh.
Dari rekening Rp28 miliar yang ditemukan penyidikan awal hanya menjerat Gayus dalam satu kasus penggelapan pajak senilai Rp395 juta.
Rp395 juta.
Dari rekening Rp28 miliar.
Ini bukan ketidakmampuan investigasi.
Ini pilihan.
Pilihan untuk melihat sesempit mungkin supaya yang di balik Gayus tidak perlu disentuh.
Dan hasilnya?
Maret 2010 Pengadilan Negeri Tangerang membebaskan Gayus.
Bebas.
Dengan rekening Rp28 miliar yang sumber uangnya tidak pernah dijelaskan secara memadai.
Publik marah.
Dan kemarahan itu masuk akal.
Tapi yang paling gila bukan vonisnya.
Yang paling gila adalah September 2010, ketika Gayus sudah berstatus tahanan, publik dikejutkan oleh foto yang beredar di media.
Gayus dengan rambut palsu dan identitas palsu ketahuan nonton turnamen tenis internasional di Bali.
Sebagai tahanan.
Yang seharusnya ada di balik jeruji.
Dan ini bukan kebetulan.
Ini bukan kelalaian.
Gayus sendiri mengaku dia membayar oknum petugas rutan dan aparat agar bisa bebas bergerak.
Dia tidak kabur lewat tembok.
Dia jalan keluar lewat pintu yang sengaja dibuka.
Dan dari sini semuanya mulai terbongkar bukan karena sistem bekerja.
Tapi karena media bekerja.
Foto-foto itu tersebar.
Investigasi jurnalistik masuk.
Publik menekan.
Dan baru setelah tekanan itu mencapai titik didih negara mulai bergerak serius.
Ini yang kemudian dikenal sebagai asal-usul istilah yang kita kenal sekarang no viral, no justice.
Tanpa foto itu mungkin Gayus selesai dengan dakwaan kecil dan hukuman ringan.
Dan dunia tidak pernah tahu.
Akhirnya Gayus masuk pengadilan serius.
Januari 2011 vonis 7 tahun.
Publik marah, jauh dari tuntutan jaksa yang 20 tahun.
Banding naik jadi 8 tahun.
Masih dianggap tidak sebanding.
Kasasi ditolak Mahkamah Agung.
Tapi kasus tidak berhenti di satu perkara.
Satu per satu kasus lain disidangkan terpisah pencucian uang, pemalsuan paspor, penyuapan pejabat rutan, suap aparat.
Total akumulasi hukuman dari semua perkara sekitar 30 tahun penjara.
Tapi ini yang paling penting dan paling jarang dibahas.
Di ruang sidang, Gayus mulai bicara.
Dia mengaku tidak bekerja sendirian.
Dia sebut nama-nama.
Dia klaim ada oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim yang terlibat dalam jaringannya.
KPK memeriksa.
Media meliput.
Publik berharap.
Dan kemudian sunyi.
Sebagian besar nama yang disebut Gayus tidak pernah benar-benar sampai ke meja pengadilan. Pengakuannya berhenti jadi wacana.
Tidak berkembang jadi tersangka baru dalam skala besar.
Dan ini adalah pola yang selalu berulang di Indonesia.
Individu dihukum.
Sistem diselamatkan.
Gayus dipenjara 30 tahun.
Tapi struktur yang memungkinkan mafia pajak dan mafia hukum tumbuh tidak pernah sepenuhnya dibongkar.
Pertanyaan yang paling jujur dari kasus ini bukan berapa tahun Gayus dipenjara.
Tapi apa yang benar-benar berubah setelah Gayus?
Apakah sistem perpajakan lebih bersih sekarang?
Apakah posisi-posisi kunci di DJP sekarang punya pengawasan yang memadai?
Apakah masih ada Gayus-gayus lain yang belum ketahuan kamera?
Kalau jawabannya tidak pasti maka kasus Gayus Tambunan bukan sejarah yang sudah selesai.
Pernah mengalami sendiri di betis banyak bercak2. Karena khawatir sakit apalah, pergi ke dokter kulit. Baru lihat kondisi betis gua, dokter langsung nanya, "Belakangan ini sariawan/sakit gigi?"
Gua tercengang karena emang bener banget, ga lama sebelum itu sariawan mayan parah
“Gigi bolong bisa bikin jantung rusak… dan banyak orang gak sadar.”
Gigi berlubang = sarang bakteri.
Kalau dibiarkan, bakterinya bisa masuk ke darah → nyampe ke jantung → nempel di katup → jadi infeksi serius (endokarditis).
Yang paling sering terjadi infeksi tenggorokan (radang) yang gak diobati → jadi demam rematik → merusak katup jantung.
Intinya:
• Mulut & tenggorokan itu “gerbang” ke jantung
• Sepele di awal, mahal di akhir
Contoh kasus :