🚨 Leandro Paredes speaking on the clash with Gavi after the World Cup final:
🗣️: “Gavi came over after the final whistle while everyone was celebrating. He saw me and said in Spanish that No referee or VAR to help Messi today, I didn’t appreciate it. It was disrespectful, especially after the match had already ended.
“I walked up to him and punched him on the face. I wasn’t going to stand there and let a kid speak about Messi like that. After that, everything escalated. Players from both teams rushed in, there was pushing, shouting, and everyone was trying to defend their teammates.
“These things happen when emotions are running high after a World Cup final. I’m not proud that it turned into a confrontation, but I wasn’t going to let someone disrespect Messi without responding.”
Lamine Yamal on facing Lionel Messi in the 2026 FIFA World Cup Final.
🗣️ “It’s difficult to describe what I’m feeling. As a footballer, playing in a World Cup final is already the biggest dream imaginable. But facing Lionel Messi… the same man who held me as a baby and was part of that famous photo when I was just six months old… makes it even more unbelievable.”
“When I was growing up, I watched Messi every week. I studied everything he did. I copied his dribbles, his movements and the way he played with so much joy. Now I’m preparing to face him in the biggest match in football. Life works in incredible ways.”
“What he’s doing at 39 years old is something the football world may never witness again. Most legends retire long before this age. Messi is still deciding World Cup matches, creating goals, leading Argentina and proving he’s still the player everyone fears the most.”
“I watched him against England and honestly, it was frightening. Argentina were behind, the pressure was enormous, and then Messi completely changed the game with two magical assists. That’s what separates him from everyone else. When football becomes impossible, he somehow finds a solution.”
“For me, he’s still the best player in the world. Age hasn’t changed his football intelligence, his vision or his ability to decide the biggest games. If anything, he’s become even calmer and more dangerous.”
“This will be the first time I ever face him on a football pitch, and I couldn’t ask for a bigger stage than the World Cup final. I’ll respect him because he’s my idol, but once the whistle blows, I’ll give everything for my country.”
“The little boy who was once in Messi’s arms is now standing across from him in a World Cup final. That’s a story I’ll cherish forever but for ninety minutes, there are no idols. There are only two teams fighting to make history.”
kok video ruang ganti argentina yg beredar selalu pas after match gini yaa
nyariin video messi pidato di ruang ganti cuma nemu 1, pas final copa america
selain itu ga ada lagi
Teman-teman, saya ingin menjelaskan menstruasi kepada para laki-laki.
Sebagian laki-laki mengira menstruasi hanyalah beberapa hari rasa tidak nyaman, sedikit perubahan mood, lalu selesai.
Padahal, jarang sekali yang benar-benar menghitungnya.
Seorang perempuan berada dalam masa subur itu kurang lebih selama 40 tahun.
Menstruasi datang sekitar setiap 28 hari.
Artinya, dalam hidupnya, seorang perempuan mengalami sekitar 521 kali menstruasi.
Setiap menstruasi berlangsung kurang lebih 5 hari.
Jika dijumlahkan, itu sekitar 2.607 hari.
Hampir 7 tahun hidupnya dilalui dalam keadaan berdarah.
Dan bukan kiasan, dia benar-benar berdarah.
Rata-rata darah yang dikeluarkan sekitar 80 mililiter.
Jika dijumlahkan sepanjang hidup, jumlah darah terbuang mencapai sekitar 42 liter.
Rata-rata tubuh kita berisi sekitar 5 liter darah.
Empat puluh dua dibagi lima.
Artinya, sepanjang hidupnya, seorang perempuan mengeluarkan darah setara lebih dari 8x seluruh darah dalam tubuhnya sendiri,
Delapan volume darah tubuh keluar dari satu perempuan.
Dan ada bagian yang lebih jarang dibicarakan.
Ia memulai semua ini sejak usia 11 tahun.
Sebelas tahun.
Usia ketika sebagian besar dari kita masih belajar memahami tubuh sendiri.
Ia menyembunyikan pembalut di balik lengan saat berjalan ke toilet.
Berdoa agar darahnya tidak tembus ke rok.
Mencari alasan kepada guru olahraga.
Berbisik kepada teman-temannya.
Malu luar biasa jika ada anak laki-laki yang tahu trus menertawakan.
Lalu kebiasaan itu terbawa bertahun-tahun.
Menyembunyikan.
Menutupi.
Berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Di sekolah.
Di tempat kerja.
Saat bepergian.
Di ruang rapat.
Di tengah kesibukan.
Di setiap ruangan yang ia masuki.
Ia bisa sedang nyeri, lelah, tidak nyaman, bahkan cemas darahnya tembus. Namun tetap tersenyum.
Tetap bekerja.
Tetap terlihat baik-baik saja.
Tujuh tahun perdarahan.
Empat puluh tahun belajar menyembunyikannya.
Lalu sebagian laki-laki masih menyebutnya, “Ah, cuma moody sebulan sekali.”
Bahkan bikin kepanjangan baru dari PMS, "Prepare to Meet Satan."
Teman-teman,
tugas kita bukan memperbaiki semuanya.
memang tidak akan bisa.
Tugas kita adalah menjadi lebih dewasa dalam memahaminya.
Belikan pembalut tanpa merasa aneh.
Tanyakan apa yang ia butuhkan tanpa menghakimi.
Jangan memasang wajah jijik.
Jangan menjadikan menstruasi sebagai bahan candaan murahan.
Jangan bertanya, “Lagi datang bulan ya?” dengan nada yang ngenyek merendahkan.
Jangan membuat perempuan merasa tubuhnya adalah sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia sudah belajar menyembunyikannya sejak usia belasan tahun.
Maka jadilah orang yang membuatnya merasa aman.
Yang membuatnya merasa nyaman
Yang membuatnya tidak perlu lagi bersembunyi.
Dulu waktu koas, saya belajar diagnosis dari dokter konsulen.
Belajar membaca gejala, menyusun terapi, dan mengambil keputusan.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah saya dapat dari buku atau kuliah.
Saya belajar langsung di lapangan. Dari Perawat.
Cara pasang infus yang halus dan pasti.
Cara rawat luka dengan tangan yang tenang.
Sampai cara peka terhadap perubahan pasien.
Perawat-perawat senior itu jago.
terampil yang matang oleh pengalaman.
Mereka yang paling lama bersama pasien.
Yang paling sering melihat perubahan kecil yang sering luput dari siapa pun.
Yang tahu kapan seseorang membaik, kapan mulai memburuk.
Perawat itu peka.
Perawat itu cekatan.
Geraknya cepat, tepat, sat set, tanpa banyak suara.
Di mana pun, profesi ini selalu jadi tulang punggung layanan kesehatan dimanapun.
Dan sampai kapan pun, sentuhan manusia seperti ini tidak akan tergantikan bahkan oleh AI.
Saya tidak pernah bisa membayangkan bekerja di RS tanpa tim perawat.
Perawat bayi yang menjaga awal kehidupan.
Perawat gawat darurat yang berdiri di garis pertama.
Perawat hemodialisa yang setia menemani proses panjang.
Perawat ruang operasi yang menjaga setiap detik tetap presisi.
Banyak yang tidak melihat.
Padahal peran mereka begitu besar.
Profesi ini selalu dekat dengan kata pengabdian.
Tapi ada satu hal yang perlu diluruskan.
Ikhlas sering disalahpahami jadi nrimo.
Padahal Ikhlas adalah sadar bahwa pekerjaannya bermakna besar untuk kehidupan.
Dan pekerjaan yang bermakna, layak dihargai dengan layak.
Terima kasih untuk seluruh perawat. Teman-teman Luar biasa.
Semoga setiap pelayanan setiap hari dikaruniai kesejahteraan yang penuh berkah.
Selamat Hari Perawat Nasional.