Saat Raja Mesir Ar-Rayyan bin Al-Walid bermimpi tentang masa paceklik, Nabi Yusuf tidak hanya berkata, “Tenang, Allah sudah menjamin rezeki kita.” Beliau justru menyusun strategi, mengelola cadangan pangan, meningkatkan produksi serta melakukan mitigasi risiko selama 7 tahun. Tawakal bukan berarti menafikan ikhtiar. Jaminan Allah itu pasti, namun mengajarkan perencanaan, kehati2an dan pengelolaan yang baik adalah sunnatullah yg harus kita lakukan.
Petani Tulungagung Diciduk karena Berani Punya Pupuk Sendiri: Antara “Peredaran Ilegal” dan “Kebutuhan Sawah Pribadi”
TULUNGAGUNG — Di negeri yang pupuk bersubsidi lebih langka daripada janji politik menjelang pemilu, Purwanto (51), petani asal Kecamatan Karangrejo, kini harus merasakan ironisnya “keadilan” negara.
Dengan uang hasil keringat sendiri, ia membeli 7 ton pupuk NPK Phoska non-subsidi secara resmi dari pabrik di Gresik. Dokumen lengkap, transaksi sah, tujuannya hanya satu: menebarkan harapan pada sawah miliknya sendiri. Bukan untuk dijual, bukan untuk spekulasi, apalagi untuk “mengganggu stabilitas pangan nasional”. Tapi rupanya, di mata aparat, memiliki pupuk lebih berbahaya daripada memiliki utang negara.
Ketika Purwanto — yang sudah mengidap jantung dan diabetes — beberapa kali menolak permintaan orang yang ingin membeli pupuknya, lalu akhirnya menyerah memberi sebagian, ia langsung dianggap “bandar”. Satreskrim Polres Tulungagung pun sigap menetapkannya sebagai tersangka peredaran pupuk ilegal. Kini ia resmi menjadi tahanan pidana, berstatus seperti penjahat kelas kakap.
Sungguh sebuah prestasi luar biasa: petani yang menolak menjual pupuk untuk sawahnya sendiri malah digiring ke sel tahanan. Sementara itu, di lapangan yang lebih luas, peredaran pupuk palsu dan penyimpangan subsidi yang nilainya ratusan miliar sering kali hanya berakhir di meja rapat koordinasi.
Kuasa hukumnya, Mohammad Ababilil Mujaddidyn, telah mengajukan praperadilan. Keluarga hanya bisa berharap pengadilan melihat apa yang jelas-jelas terlihat: seorang petani kecil sedang dijadikan “tumbal” birokrasi pupuk yang ruwet.
Kasus ini bukan sekadar soal pupuk. Ini soal logika yang terbalik: di saat petani kesulitan mendapatkan pupuk resmi, negara justru sibuk menangkapi petani yang berani membeli dengan uang sendiri.
Selamat datang di republik pupuk, di mana menyimpan pupuk untuk sawah sendiri bisa lebih berisiko daripada menjual tanah warisan. Semoga Pak Purwanto segera bebas. Karena kalau petani saja harus takut punya pupuk, maka siapa lagi yang akan menanam padi untuk kita semua? #KeadilanUntukPurwanto
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.
@ayenhen@susipudjiastuti Pembedaan antara halal dan haram jls dalam Islam. Tujuannya utk menyelamatkan umat. Islam tdk menolak teknologi, penemu teknologi sebagian besar dr ilmuwan muslim. Intinya kl mau selamat kmbali ke tuntunan/ panduan bukan asumsi.
@txtdaritaxpayer@msaid_didu Nah ini bagus nih. Sekolah sudah banyak tapi siswanya akan makin berkurang krn ekonomi makin sulit. Negara harusnya hadir seperti ini membantu rakyatnya yg sedang sulit. Bukan makin nyekek.
@SumandoGaek Kerja 5 tahun, fasilitas elit, tunjangan melejit, belum ceperan sana sini. Dan selama masa kerja, kerja hanya untuk memperkaya diri, golongan dan kelompoknya. Mana ada untuk rakyat. Harusnya usut asetnya, malah minta pensiun?? Ini sih...duh spechless
@angga_fzn Kenapa selalu seputar pendidikan yg di usik?? 😡😡😡 Selalu yg terkait dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Harusnya kita lawan, jangan mau dilemahkan terutama pemikiran. Sementara proyek2 perusakan moral dan kecerdasan difasilitasi dan semakin gencar luar biasa.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
@MuhadklyAcho Bener. Pengalaman membuktikan. Meskipun kita nasabah biasa, tampilan biasa tapi adab dan treatment petugasnya ke kita membuat kita berasa jadi nasabah istimewa. 😊. Dan pengurusan apapun semua petugas gercep. Seolah nasabah ga boleh nunggu lama/ bete. Ga salah kalau jd bank besar
Kemana duitnya?
Produsen cpo/ kelapa sawit no, 1 dunia
Produsen nikel no. 1 dunia
Penghasil Batubara no. 3dunia
Lokasi tambang emas no. 2 dunia
Produsen karet alam no. 2 dunia
Timah no. 3, kayu no. 4, tembaga no. 5, udang no. 4
Ikan no. 2 dll
Coba pikirkan Secara logika
Setiap MBG dikritik, langsung dibantah dengan narasi "MBG ini sudah membuka banyak lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat."
Lah, emang tujuan MBG itu apa, sih?
Kan untuk mengatasi stunting!
Kalau dari kualitas makanan saja gizinya enggak jelas dan banyak kasus keracunan, stunting apa yang sedang diatasi?
Enggak usah bicara lapangan pekerjaan dan memutarkan perekonomian, tujuan awal itu mengatasi stunting!
Fokus ke tujuan awal!
Kalau menggerakkan perekonomian, liat tuh dampak MBG bahan pangan pada naik.
@RidhaIntifadha@tomlembong Nyesek 😭😭
Bukan lagi Reformasi. Bubarkan! Buat lagi yang baru dan bersih mulai dari nol.
Yang sekarang kelakuan lebih mirip tentara isriwil
@tomlembong Innalillahi WA ina ilaihi rojiun. Sakit banget ya Allah 😭. Bangsa ini mmg harus taubatan masal, benar2 sudah sakit dan kacau mulai dari pemimpin sampai bawahannya. Polisi yg katanya pengayom, pelindung tp malah pembu*n*h! Ampuni kami ya rabb 😭
Terlalu sakit, terlalu pilu, memikirkan tragedi yang menimpa Arianto Tawakal, murid usia 14 tahun yang dibunuh oleh seorang oknum Brimob…
Ibu-Bapak yg saya cintai, tren kesewenang-wenangan sudah mencapai sebuah titik di mana kita harus berkaca: kita ingin dikenal sebagai bangsa dengan budaya seperti apa? Apakah di mata Tuhan Allah dan di mata dunia, kita ingin dikenal dan dikenang sebagai masyarakat yang beringas dan liar?
Saya tetap yakin di segenap aparat hukum kita, mayoritas anggota merupakan manusia yang baik. Namun, peristiwa ini harus menjadi peringatan keras untuk mengembalikan profesionalisme sebagai kiblat utama lembaga penegak hukum.
Kematian Arianto Tawakal ini ekstra sedih bagi saya, karena tujuh bulan lalu saya sangat terinspirasi diajarkan oleh sesama tahanan di penjara yang beragama Islam tentang makna kata “Tawakal”, di tengah perjuangan saya untuk mengungkap kebenaran dan mendapat keadilan.
Tambah heran, bahwa kelakuan oknum Brimob ini juga terjadi di bulan suci Ramadan dan di bulan suci pra-Paskah. Saya tidak bisa membayangkan trauma yang dirasakan keluarga Arianto. Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Turut berduka yang mendalam; saya dan Ciska doakan Allah SWT menyelimuti keluarga Arianto dengan segala kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi tragedi ini…
It’s too painful, too excruciating, to think about the tragedy that befell Arianto Tawakal, a 14-year old schoolboy who was killed by a member of Indonesia’s police paramilitary unit (Brimob)…
My dearest colleagues, this trend of ever-greater impunity has reached a point where we have to reflect: what kind of a society do we want to be known and remembered as? Do we want to be seen in the eyes of the Almighty and in the eyes of the world, as a savage and atrocious people?
I remain convinced that each and every one of our law enforcement agencies consists primarily of good human beings – but this incident MUST be a harsh wake-up call for us to return professionalism as the central guiding principle for our security forces.
It adds an extra layer of sadness for me that around 7 months ago, I was so inspired being taught the meaning and concept of “Tawakal” (utmost thriving followed by surrender to God’s Will) by Muslim fellow inmates in prison, as I was fighting to expose the truth and obtain justice for myself. It’s also bewildering to think that this depravity by a paramilitary police officer took place in the Holy Fasting Month of Ramadan and the Holy Month of Lent…
I can’t imagine the trauma that Arianto’s family is experiencing right now… We belong to Allah and indeed to Allah we shall return…
My deepest condolences to Arianto’s family; Ciska and I pray that God provides any and all strength and resilience to them in confronting this senseless tragedy…
@kompascom Ini bagaikan fenomena gunung es. Belum yang putus sekolah krn betul2 ga mampu. Belum yang sekolah tapi pulangnya masih harus kerja. Meskipun sklh yg katanya gratis namun peralatan tetaplah beli sendiri. Menyedihkan, disisi lain pejabatnya foya2 dan flexing. Tidak peduli
🚨MBG WATCH PRESENT🚨
Moratorium dan Rombak Total MBG.
Program MBG yang sejatinya bertujuan mulia dengan anggaran raksasa namun keamanan pangan, transparansi dan ketidaksesuaian SDM serta perlindungan anak masih bermasalah.
Ribuan anak keracunan, pekerja dapur tidak terlindungi dan anggaran pendidikan terpangkas!
Cek 👇🏻