Sakit hati bacanya. Ku gk bisa prajab gara² tabungan honorer gk cukup utk hidup di perantauan, temenku digaji cm ratusan ribu pdhl ASN, murid²ku kepanasan di kelas gara2 gk ada kipas, mrk jg mesti nyicil LKS 1 smstr br lunas, smntr 1 triliun dipakai CUMA UTK TERIAK² DAN YEL²?! 💔
Pak, mohon maaf..
Kalau bapak bicara perkara fair dan tidak fair, saya kasih tau 2 hal aja, gaakan byk:
1. Mengajukan revit bangunan sekolah itu ga mcm bapak bicara. Butuh waktubga sebentar, dan pengorbanan luar biasa, trmsk sy malah dpt pelecehan dari petugas monevnya.
…
KEPALA BGN: TIDAK FAIR MEMBANDINGKAN MBG DENGAN SEKOLAH RUSAK!!!
Dulu nggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG.
Betul nggak? Kita objektif aja, sekolah itu rusak, sekolah itu memang rusak sebelum ada MBG.
Ini sekarang oleh Presiden diperbaiki. Jadi sebetulnya cukup simpel, cukup lapor ke Dikdasmen, pasti diperbaiki.
Ini masalahnya kan nggak fair! Sudah perbaiki 16 ribu, sekarang sudah perbaiki 70 ribu
Begitu ada yang rusak apalagi sebelahnya dapur MBG-nya mengkilat bersih, warnanya biru, bagus, terus dibanding-bandingkan.
INI MENURUT SAYA KAN TIDAK FAIR!!!
Sebagai guru, yang pernah berawal dapat honor 100k sebulan, dg beban kerja sbg wali kelas dan operator sekolah, ditambah menghadapi akreditasi, aku terluka.
Gaji guru utk layak sulit bgt diperjuangkan, sementara tiap hari, mereka mendulang gaji berkali-kali lipat dg mudah..
Udah jelas yang dikritik adalah tindakan laki-laki yang memberi nafkah cuma seadanya, namun oleh Rois malah digeser ke persoalan halal haram menurut agama.
Lo belajar berlogika dulu deh. Yang gila bukan feminis, tapi logika lo yang ga nyampe.
Teman-temanku byk yg blg aku human lie detector.
Baru ngeh, ternyata mmg “segininya” tubuh bereaksi thd kebohongan orang.
Even just for read a text message.
Feelingnya itu, macam ga sinkron aja antara ketikan org lagi boong, dg fakta yg udah diketahui, bhkn sampai detail.
Gils!
Kalau lihat pidato-pidato orang yg melek pendidikan, atau lets say “berisi krn ilmu”, setiap kalimat yg diucap itu visioner, optimis.
Misal “ke depannya, mari kita upayakan atap-atap pemukiman kita punya solar panel, spy setiap rumah punya cadangan energi listrik..”
Bukan malah..
Hari ini ada salah satu teman kerja (cewek) yang nggak masuk karena lagi demam.
Terus ada rekan kerja lain (cowok) yang komentar.
🤡: "Lemah banget sih cewek zaman sekarang. Demam dikit aja udah nggak masuk kerja. Ibu aku dulu kalau demam masih sanggup ngerjain kerjaan rumah, ke sawah, sama berkebun."
Aku udah mau nyaut, tapi keburu Ketua tim kami (cowok juga) yang jawab.
👦: "Terus kamu bangga gitu? Nggak kasihan sama ibu kamu? Lagi sakit tapi masih harus ngerjain kerjaan rumah dan ke sawah."
👦: "Berarti yang lain di rumah kamu nggak ada gunanya, sampai pas beliau sakit pun tetap nggak bisa istirahat."
Langsung satu ruangan bersorak. 🤣
Walaupun akhirnya mereka berdua tetap lanjut debat.
Belakangan, aku cuma jadi silent reader di WAG keluarga.
Terakhir masih sempat react pakai sticker.
Ke sininya cuma baca.
Capekmya tuh lagi capek bgt, sampai bingung mau komen apa sama tiap lawakan keluarga receh 🫠
Bahkan saat bencana Covid-19 aja, negara sanggup gaji PNS, sampe disebut profesi paling stabil.
Artinya, dalam 2 tahun aja, rezim ini lebih buruk dampaknya dari pandemi.
😭😭😭