Hatta pernah bilang, koperasi itu sederhana saja: rakyat kumpul, sepakat, lalu saling bantu.
Seorang petani tidak perlu takut gagal panen sendirian kalau ada tetangganya yang siap menanggung bersama.
Seorang pedagang kecil tidak perlu lari ke rentenir kalau koperasinya sehat.
Itulah mimpi Hatta: ekonomi yang hangat, seperti keluarga yang duduk satu meja dan tidak ada yang makan duluan sebelum semua siap. Tapi coba LIHAT Koperasi Merah Putih yang lahir belakangan ini.
Tidak tumbuh dari obrolan warga di balai desa, melainkan datang sebagai instruksi dari atas.
Modalnya bukan dari iuran anggota yang dikumpulkan pelan-pelan dengan penuh perjuangan, tapi dari APBN yang dikucurkan sekaligus.
Pengurusnya bukan dipilih karena dipercaya sesama anggota, tapi karena jabatan yang sudah ada sebelumnya.
Maka jadilah ia koperasi yang tubuhnya besar tapi jiwanya KOSONG. Namanya koperasi, tapi cara kerjanya lebih mirip PROYEK ambius. Jauh dari PEMIKIRAN Hatta.
Hatta tidak pernah melarang negara membantu, tapi beliau selalu menekankan: bantu rakyat untuk mandiri, bukan bantu supaya rakyat bergantung.
@ardisatriawan
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
Dr. Boyke bilang, kenyamanan laki-laki dengan ani-ani punya akar yang lebih dalam dari sekadar nafsu/seks. Jadi beberapa hari yang lalu saya nonton wawancara Dr. Boyke sama Fenny Rose, dan ada bagian yang bikin saya bengong.
Tahun 1966, ayahnya, Sukarno dikudeta dari kursi presiden RI.
Tahun 1967, ia dikeluarkan dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran karena nama ayahnya melekat dengan namanya.
Tahun 1970, Soeharto menolak permintaan keluarganya dalam prosesi pemakaman Sukarno yang menjadi keinginan sang proklamator dalam wasiatnya ingin di makamkan di Bogor namun dijauhkan ke Blitar Jawa Timur.
Tahun 1972, ia dikeluarkan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia karena tekanan rezim Orde Baru.
Tahun 1973, partai yang didirikan Sukarno tahun 1927 sebagai alat politik kemerdekaan bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) dipaksa bubar kemudian dileburkan lewat fusi partai.
Tahun 1975, kebijakan de-Sukarnoisasi atau meminggirkan warisan serta ingatan rakyat pada Sukarno digalakkan di masa Orde Baru.
Tahun 1993, rezim Orde Baru mengintervensi Kongres PDI yang memutuskan Megawati sebagai ketua umum PDI yang berakhir deadlock dan kacau.
Tahun 1996, peristiwa penyerangan di Kantor DPP PDI yang saat itu dikuasai oleh PDI-Megawati di tanggal 27 Juli 1996 (Peristiwa Kudatuli).
Tahun 1997, Rezim Orde Baru mengesahkan kepemimpinan PDI Soerjadi yang mengakibatkan Mega teralienasi dan terkucilkan dari politik.
Dari tahun 1966-1998, tiga kali Mega ditangkap dan diinterogasi oleh aparat. Pun selama masa Orde Baru hidupnya penuh dengan pengintaian aparat rezim Orde Baru.
Semua rasa sakit di masa Orde Baru telah dirasakan Mega. la adalah perempuan yang mempertaruhkan kepalanya menghadapi rezim otoritarianisme Orde Baru. la adalah inspirasi bagi gerakan pro-Demokrasi sehingga menjadikannya sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto.
Menyandang status anak Sukarno di era Orde Baru adalah bencana karena serangan bertubi-tubi yang dihadapinya. Tapi ia terus tegak berdiri meski ditinggal seorang diri kemudian secara perlahan memulihkan nama baik Sukarno.
JAS MERAH, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah..
IG Anwarsaragih.
Merayakan Kartini Secara Radikal
Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran.
Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan.
Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi.
Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT).
Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.
"Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30).
Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan.
"Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya."
(12 Januari 1900, HGTT, 2009:34).
Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan.
"Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29).
Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran.
"...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.."
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31).
"Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?"
(Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31).
Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya.
Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.
Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung? Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri?
Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”.
Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan.
---
Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
(Link artikel lengkap di utas berikutnya)
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
Mengapa Mie Gacoan Ga Pernah Sepi?
Pertama, Unique Selling Point (USP) nya kuat, yaitu enak dan murah.
Kedua, market segmentnya tepat. Market segment utama mereka adl remaja putri.
Rasanya enak bagi market utama mereka, yaitu remaja putri yg memang suka makanan pedas.
Kesukaan makanan pedas ini terbentuk secara kultural dalam jangka cukup panjang di Indonesia yg memang dikenal suka makanan pedas.
Tiga dekade terakhir ini makanan yg viral dan bertahan itu makanan pedas.
Mulai dr ayam geprek yg muncul di Jogja lalu menyebar ke berbagai daerah.
Lalu, keripik maicih, ingat kan seberapa viral mereka dl?
Seblak ada dr lama, tp dia begitu viral stlh ada konsep “pedasnya mau level berapa?”
Skr bertahan dg konsep seblak prasmanan. Isiannya ambil sendiri, lalu nanti pilih level pedasmu untuk kuah.
Murah di sini dalam konteks dg market utamanya. Harganya sangat terjangkau.
Pada awalnya harga mie gacoan di bawah 10rb.
Mengapa bisa murah? Ini bisa sy bahas detail lain kali.
Tp, setidaknya secara porsi menjelaskan itu, termasuk isian ayamnya yg bahkan tidak suwiran, melainkan taburan ayam.
Coba ajak kawan anda yg laki2, mereka cenderung akan merasa belum kenyang dg makan 1 porsi mie gacoan.
Tapi, kenapa banyak juga remaja putra yg jajan di mie gacoan?
Ya karena market segmentasinya adl remaja putri.
Market utama mereka lah yg menarik para laki2 untuk ikut makan mie gacoan.
Sy pernah survey di kelas yg sy ajar lintas semester.
Kesimpulannya: “Mahasiswa makan gacoan pertama kali biasanya diajak pacar atau teman perempuannya”
Anak cowok yg lebih terbiasa jajan mie ayam dan bakso ga terlalu berat di ongkos karena harganya relatif sama.
Satu lagi nilai plus gacoan, tempatnya cenderung nyaman untuk harga semurah itu.
Maka tidak heran kalau ada yg berasumsi kl Mie Gacoan adl fine dining untuk kelas menengah ke bawah.
Anda akan kesulitan mencari tempat makan yg dg uang 20rb dpt makan minum dan masih ada uang kembalian dg parkir luas, tempat makan yg nyaman, dan cukup pantas dipamerkan di status medsos.
Nah, kemudian masuklah ke UGC.
Pelanggan gacoan secara sadar dan sukarela ikut mempromosikan gacoan dg konten mereka di medsos.
Dibahas berulangkali dan spt yg sy bilang sebelumnya pelanggannya cukup bangga makan di gacoan.
Itu menurut sy yg jd faktor utama dr penelitian suka2 yg pernah sy lakukan.
Masih bisa diperpanjang jg mengenai penamaan menu yg dulunya mie iblis, mie setan, es pocong, dsb.
Sekali lagi, itu adl pilihan yg tepat untuk komunikasi dg market segment-nya.
Jadi, pesan sy kl mau bisnis kuliner, pastikan dl, siapa market yg Anda tuju dan value proposition apa yg nantinya akan Anda tawarkan 😇
Kabar duka datang dari dunia usaha tanah air. Pemilik Group Djarum, Michael Bambang Hartono, tutup usia pada Kamis pukul 13.15 waktu Singapura (19/3). “Telah wafat dengan tenang, Bapak Michael Bambang Hartono Djarum pada tgl 19 Maret 2026 jam 13.15 waktu Singapore,” begitu pesan yang diterima Narasi.
Michael Bambang Hartono merupakan putra Oei Wie Gwan, pendiri Djarum yang membeli perusahaan rokok itu pada 1951. Setelah sang ayah wafat pada 1963, bisnis Djarum diteruskan Bambang bersama adiknya, Robert Budi Hartono.
Di tangan keduanya, Djarum yang sempat nyaris bangkrut akibat kebakaran pabrik berhasil bangkit. Mereka memodernisasi produksi dan mulai ekspor sejak 1972, membuat bisnisnya melesat hingga pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.
Tak cuma rokok, Hartono bersaudara juga ekspansi ke berbagai sektor, dari perbankan, properti, hingga teknologi. Salah satu langkah besarnya adalah menjadi pemegang saham mayoritas BCA sejak 1988.
Kontribusinya di olahraga juga besar. Lewat PB Djarum, Bambang Hartono ikut mencetak banyak atlet bulu tangkis yang berprestasi di level dunia.
Di luar bisnis, ia juga dikenal sebagai atlet bridge nasional. Ia pernah meraih medali perunggu di kejuaraan dunia dan tampil di Asian Games 2018.
| Narasi Daily
Menurutku, kehancuran seseorang, baik laki-laki maupun perempuan sering kali bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, dari kebiasaan, luka, dan kehilangan arah.
Kehancuran laki-laki sering bermula dari hal-hal yang ia anggap sepele:
1. Judi, ketika harapan digantungkan pada keberuntungan, bukan usaha.
2. Mabuk, saat lari dari masalah terasa lebih mudah daripada menghadapinya.
3. Terlalu menuruti hawa nafsu, hingga perempuan hanya jadi pelarian, bukan tanggung jawab.
4. Kehilangan peran ibu, kehilangan doa, nasihat, dan sosok yang biasanya paling tulus mengingatkan.
Laki-laki hancur bukan hanya karena dunia keras, tapi karena ia lupa menjaga dirinya sendiri.
Masalah utama AHY dan Gibran itu aslinya sama juga dengan masalah Puan yaitu jadi "Anak Presiden".
Makanya elektabilitas sedikit, kecil dan mentok, mana pendukung Puan gencar bahas dinasty Politik, itu juga selain ke AHY dan Gibran juga berimbas paling gede ke Puan, apalagi si Emak ketum abadi tak terganti.
Jadi solusinya buat menaikan elektabilitasnya, yah memanfaatkan stigma negatif "Anak Presiden" itu, dan diputarbalikan jadi image positif.
Khususnya buat AHY dan Puan, karena Gibran sudah pernah memegang jabatan sipil yaitu Walikota.
AHY sekarang jadi Mentri itu kesempatan bagus, tapi belum bergema prestasinya, bahkan nama kementriannya saja banyak orang yang tidak tau.
Di reply, cukup banyak yang denial terhadap hasil survei ini. Kalau saya pribadi yakin hasil survei Indikator ini bisa dipertanggungjawabkan.
Di lapangan, 72% masyarakat memang puas dengan MBG (setidaknya menurut hasil survei Indikator ini). Tapi, perlu digarisbawahi, puas bukan berarti baik. Itu dua hal yang berbeda.
Puas dan tidak puas, suka dan tidak suka, itu urusan persepsi. Sedangkan baik atau tidak, itu urusan analisis.
Sebagai contoh, masyarakat kita suka dengan amplop serangan fajar jelang pemilu karena memang politik uang dalam iklim pemilu kita sangat kental. Lantas, hanya karena banyak masyarakat suka dan senang saat menerimanya, apakah kemudian serangan fajar itu menjadi baik? Tentu saja tidak.
Ini sama seandainya masyarakat kelompok pengangguran diberikan dua pilihan, antara dikasih duit 500 ribu atau kursus pelatihan vokasi. Niscaya akan lebih banyak yang memilih 500 ribu alih-alih kursus pelatihan vokasi. (Fenomena ini dikenal dengan istilah diskon hiperbolik).
Mana yang akan lebih membuat masyarakat puas? Jelas duit 500 ribu. Tetapi secara analisis sederhana, mana yang jauh lebih baik dan efektif untuk mengatasi pengangguran? Tentu saja kursus pelatihan vokasi.
Sikap itu pula yg saya yakini sampai sekarang. MBG saat ini adalah program yang pasti membuat banyak orang puas. Baik penerima, pekerjanya, maupun siapa saja yang kebagian proyeknya. Tetapi, apakah MBG adalah program yang baik? Di mata saya, setelah membaca banyak berita dan pendapat orang-orang yg saya percayai dan saya yakini keilmuannya, saya masih yakin, MBG adalah program yang bukan hanya buruk dan tidak tepat prioritas, tetapi juga politis.
Namun, kalau ada yang menganggap MBG sebagai program yang bagus, oke, keren, luar biasa, ya silakan. Pemikiran orang kan beda-beda. 😅
MK telah memutuskan bahwa pemilu nasional dan pemilu lokal dipisah dalam pelaksanaannya. keputusan ini final dan mengikat. pemilu lokal (dprd dan kepala daerah) harus diselenggarakan 2-2,5 tahun setelah pemilu nasional 2029. akibanya ada kekosongan kekuasaan daerah setelah 2029 sebelum dilaksanakan pemilu lokal yang terpisah dari pemilu nasional. bagaimana mengisi kekosongan ini? yang paling prinsip dalam demokrasi harus diutamakan: tidak boleh ada jabatan politik strategis tanpa mandat dari rakyat. kekuasaan harus diberikan oleh yang punya kedaulatan, yakni rakyat, dan tidak ada jalan yang mungkin kecuali lewat pemilu. krn itu pada masa transisi ini dpr dan pemerintah harus membuat uu untuk pemilu lokal transisi yang dibuat khusus untuk mengisi kekosongan tersebut (2-2,5 tahun). karena itu 2029 harus tetap ada pemilu lokal transisi hanya untuk masa 2-2,5 tahun. pilihan ini membuat prinsip demokrasi dan perintah MK dipenuhi. tidak boleh ada jabatan politik strategis untuk masa satu tahun atau lebih diisi dengan penunjukan. itu mencedrai prinsip.
kenapa satu tahun atau lebih? krn dalam setahun setidaknya ada keputusan strategis yang harus dibuat, yakni anggaran tahunan, yang tak boleh dibuat tanpa mandat dari rakyat.
Saya punya perspektif yang agak berbeda soal makan-makan di tempat orang meninggal ini. Perspektif ini muncul saat nenek saya meninggal beberapa tahun yang lalu, dan konteksnya pun sebenarnya agak berbeda dengan yang ditulis Mas Bardan ini, sebab keluarga kami merasa tidak direpotkan perkara tenda dsb karena tendanya milik RT sehingga tidak perlu menyewa, dan yang memasang pun juga para tetangga. Kami juga tidak terlalu terbebani dengan masalah uang, sebab di daerah saya, para pelayat yang datang umumnya memberikan santunan. Uang itulah yang nantinya akan digunakan untuk menyuguh tetangga yang hadir.
Saya pribadi merasa kehadiran para tetangga di malam hari (kami menyebutnya lek-lekan) itu benar-benar memberikan penghiburan yang besar bagi saya yang sedang berduka. Saya jadi merasa ditemani. Kedukaan yang saya rasakan itu jadi sedikit berkurang saat tahu banyak tetangga yang mau hadir meluangkan waktunya untuk mendoakan nenek saya. Saya jadi merasa almarhum nenek saya disayang oleh banyak orang.
Bagi saya, itu semacam pesan hangat yang sangat berarti.
Oh ya, sebagai tambahan, walau sudah mendapatkan uang layatan, keluarga saya tetap keluar uang. Sebab uang layatan dari tetangga itu sebenarnya hanya cukup untuk menjamu para tetangga untuk satu atau dua malam saja, sedangkan malam-malam setelahnya (Tidak semua keluarga menggelar lek-lekan sampai 7 hari, sebagian hanya 3 hari) ya dari kocek pribadi. Tapi itu pun tidak banyak, sebab menunya sekadar nasi lesah dan teh hangat.
Saya dan keluarga menganggap uang yang kami keluarkan itu sebagai semacam ongkos tali kasih, sebab selama proses pemulasaraan jenazah, nyaris semuanya dibantu oleh tetangga. Yang memandikan nenek saya, yang mengafani, yang menggalikan kuburnya, yang mencarikan bambu penutup liangnya, yang merangkaiakan bunga ambyang-ambyangnya, yang mengurus kerandanya, semuanya dilakukan oleh tetangga, dan mereka tidak dibayar sama sekali.
Ongkos yang kalau dihitung-hitung, bahkan lebih kecil dari biaya pengurusan pemakaman umum.
Maka, suguhan makanan itu kami niatkan sebagai bentuk terima kasih paling sederhana kepada para tetangga yang sudah ikut meluangkan waktunya untuk membantu proses pemakaman nenek saya.
Dalam konteks itulah saya jadi sukar untuk menganggap buruk tradisi makan-makan di tempat layatan.
Sekali lagi, tentu ini konteksnya terbatas dan subjektif, sebab pasti tidak semua orang punya lingkungan dengan tradisi tolong-menolong yang kental dan sebaik di lingkungan tempat tinggal saya, sehingga pasti membutuhkan ongkos sosial yang jauh lebih besar.
Banyak yg kurang paham, bahwa yang dikritik Pandji adalah kita, warga negara yg selama ini abai dg politik, yg menyebabkan terpilihnya sosok-sosok ajaib sebagai pemimpin dan pejabat. Ga usah berharap pada sosok Satria Piningit. Kita, rakyat, sang Satria Piningit itu.
Tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti ada baik dan buruknya. Kalau mau cari baiknya, pasti bakal ada, kalau mau cari buruknya, pasti tersedia. Begitu pula dengan mereka para pahlawan, pun pasti bukan orang yang sempurna.
Namun, kita jelas perlu berpikir, Gus Dur itu tidak sempurna, pasti ada baik dan buruknya. Tetapi kenapa nyaris tidak ada yang mempermasalahkan gelar pahlawan untuk Gus Dur? Karena jasa-jasanya kelewat banyak, sehingga mampu menambal keburukannya.
Marsinah itu tidak sempurna, pasti ada baik dan buruknya. Tetapi kenapa tidak ada yang mempermasalahkan gelar pahlawan untuk Marsinah? Karena pengorbanannya kelewat besar, sehingga mampu melebur keburukannya.
Syaikhona Kholil itu tidak sempurna, pasti ada baik dan buruknya. Tetapi kenapa tidak ada yang mempermasalahkan gelar pahlawan untuk Syaikhona Kholil? Karena kemuliaannya kelewat tinggi, sehingga mampu meluruhkan keburukannya.
Rahmah el Yunusiyah itu tidak sempurna, pasti ada baik dan buruknya. Tetapi kenapa tidak ada yang mempermasalahkan gelar pahlawan untuk Rahmah el Yunusiyah? Karena perjuangannya kelewat keras, sehingga mampu menggugurkan keburukannya.
Semua orang punya kebaikan dan keburukannya masing-masing. Namun tidak semua orang punya porsi kebaikan yang cukup untuk bisa menutupi keburukannya.
Gen Z takut nikah gara-gara tiap buka sosmed, berita cerai ada di mana-mana! Biar kamu nggak makin resah dan makin takut buat nikah, sini mimin kasih paham kumpulan artikel-artikel Klinik Hukumonline soal cerai, biar kamu paham dulu~
[A THREAD]
Beberapa hari lalu saya melihat postingan IG @studisejarah ada foto Bung Karno sedang menari dengan seorang perempuan di Istana Cipanas tahun 1963 Saya perhatikan fotonya baik-baik, ada wajah yang raut mukanya saya kenal. Siapakah penari itu?