A 15-years marital arts practitioner, a former fx trader, pentester/bughunter for life, a solid unranked pos-5 Dota2, and ofc i'd love to hear your stories~
Taiwan solved tax evasion in 1951 with a trick so cheap it should embarrass every tax authority on the planet.
The problem was an all-cash economy full of small shops. A merchant pockets the cash, skips the receipt, and the sale never existed. Auditors can't catch what was never recorded, and hiring enough of them to watch every noodle stand costs more than the missing tax.
So finance chief Ren Xianqun flipped the incentive. Print a lottery number on every receipt. Draw winners every two months on live TV. Top prize today: NT$10 million, about $310K.
Suddenly the customer and the shopkeeper want opposite things. The merchant wants the sale off the books. The customer wants the ticket. And there are millions more customers than merchants. Every transaction now carries a built-in witness demanding the paper trail.
Year one, reported tax revenue jumped 75%, from NT$29 million to NT$51 million. Seventy-five years later, roughly 70% of Taiwanese still play. Convenience stores redeem the smallest NT$200 prizes at the register, so even a coffee receipt feels like a scratch card.
The elegant part is what the audit force costs. The prize pool runs about NT$7 billion a year, roughly $20 million. In exchange, the government gets 23 million unpaid auditors working every checkout line in the country, forever. No inspector general on earth delivers that coverage at that price.
Greece, Italy, Portugal, and Slovakia all copied it. The most effective compliance tool ever built looks like a game, and that's exactly why it works.
Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah 🇮🇩 tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal.
Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah 🇮🇩 tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri - tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran - yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sbg tamparan. Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhtan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (lihat daftar dibawah) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. 🇮🇩 sbg negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yg ABSEN mengirim delegasi. Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia.
Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn 🇮🇩 takut/sungkan thdp Amerika ? Has “FEAR” become a factor in Indonesian foreign policy ? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang penuh masalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak 🇮🇩 bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin.
Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi 🇮🇩 dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi) seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi.
Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan
Boleh dikutip.
Dua hari ini saya habiskan untuk menganalisis 25 tahun data pasar keuangan Indonesia.
Pertanyaannya simpel: Mana yang duluan jatuh, IHSG atau Rupiah?
Jawabannya menarik
Patriot Bond dan Merah Putih Bond ini bentuk Premanomics sesungguhnya.
Tata kelola absurd dan semua dibikin tabrak2 masuk.
Beberapa pertanyaan yang harus diajukan sambil nunggu PP turunan terbit
1) Kenapa beli surat utang khusus termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond bisa dapet perlindungan khusus?
2) Kenapa beli SBN ga dapet perlakuan yang sama? Danantara lebih powerful dari negara?
3) Kenapa surat utang terbitan Danantara bisa kasih perlakuan khusus dapet perlindungan dan jaminan bidang dari penuntutan pidana umum, pidana perpajakan, dan gugatan perdata?
4) Danantara itu apa? siapa? kok bisa kasih jaminan itu semua? Kejaksaan, DJP udah dikunci harus setuju dan tutup mata?
5) Danantara mau ngutang tapi kok ga ada laporan keuangan?
6) Apa ini bentuk dari off-budgeting? Ngutang tapi ga mau bikin debt ratio, debt service ratio, dan defisit di APBN keliatan jelek dan melampaui threshold yg diatur UU, makanya surat utangnya via Danantara?
7) Tau kan potensi moral hazardnya di mana? atau sengaja tutup mata, halal haram hantam semua uang diterima dan negara via danatara siap jadi mesin laundry-nya?
8) Mau pake argumen : selama ini uang haramnya di Singapura, "if you can't beat them, be them", makanya kita fasilitasi via Danantara
9) silahkan netizen melanjutkan pertanyaan berikutnya....
”Kamu dan SPP (Serikat Petani Pasundan) hanya membela masyarakat di sekitar sini, tapi kalau saya nih, baju loreng ini, saya membela negara ini,”
Argoan sekali ini, memangnya itu para petani lokal bukan bagian dari masyarakat/negara? Udah gitu ternyata cuma untuk lahan Yonif TP 🤦♂️
Ya memang harus begitu. Karena:
1. Kita ga dikasi pilihan lain buat langganan listrik, hanya PLN.
2. Kalo mati lampu, PLN tinggal minta maaf, gratis. Itupun kalo mau minta maaf.
3. Kalo kita yang telat bayar, gabisa cuma minta maaf, tetap didenda bahkan dicabut.
Urus izin pabrik di Vietnam itu ga ribet ga kayak di Indonesia, cuma butuh 15-30 hari kerja IRC (Investment Registration Certificate) +3-7 hari ERC, total 2-4 minggu udah bisa gas produksi di industrial park.
Di Indonesia? Bisa berbulan-bulan sampe tahunan gara-gara koordinasi dinas + daerah + pejabat + ORMAS + PREMAN + APARAT
Pindahin produksi ke Bac Ninh atau Binh Duong nggak ribet. Pilih plot di IP (industrial park), bayar sewa, lengkapi dokumen dasar, sisanya pengelola park yang bantu koordinasi. Listrik, jalan, air, lingkungan, sampai security udah siap semua. Tinggal langsung produksi.
Vietnam punya 400+ industrial park aktif (2025 data), occupancy rate rata-rata 80-85%.
Di sini meski OSS RBA udh ada, realitanya masih ribet. Tiap kabupaten/provinsi beda interpretasi. Harus nunggu gara2 pejabat atau ORMAS yg bikin investor capek duluan.
Realita paitnya banyak pengusaha kecil-menengah Indo akhirnya pilih rakit di Vietnam lalu ekspor balik ke sini. Bukan karena nggak suka Indonesia, tapi timing & kepastian birokrasi kalah jauh.
Di VN, industrial park beneran "one-stop service" pengelola yang kejar izin, bukan investor sendiri.
Gue bukan bilang Vietnam sempurna (mereka juga punya korupsi & masalah lain). Tapi buat manufaktur yang butuh cepet masuk pasar global, sistem mereka lebih "langsung gas". Kita masih suka "tunggu dulu koordinasi semua pihak" dan ujungnya batal
PLN Jogja apa ga malu, warga sampe cari2 tempat yg ga mati listrik. Saking kalian ga jelas info pemadamannya. Warga sampe takut job dicancel, atau gagal interview gara2 pas interview mati listrik. Orang yg bikin kue sampe gojak gajek mau produksi krn takut udah nyiapin adonan, listrik padam.
Ini kalo dikumpulin kerugian material apa kalian mau ganti? Sosmed isine seremonial dan hal2 unfaedah. Mbok sik jelas jadwal pemadamane. Pikirin juga yg ga punya sosmed...gmn kasi info pemadaman k mereka.
Beberapa waktu lalu aku rekaman sama client luar, cemas banget tiba2 listrik padam. Itu rasa cemas yg ga seharusnya kurasakan. Marai trauma. In this economy kita semua sedang kerja bener biar duitnya lancar... Malah mbok rusuhi.
Minimal banget diinfooooo... Koyo ra duwe teknologi canggih wae. Padahal BUMN lho... Resourcenya ada. Koyo perusahaan skala kecil. Heran
Iki lagi mati listrik saiki... Trus keluar cari makan eh nang tempat makane yo mati listrik. Oleh ra sih nunut masak sego nang kantor PLN?
cc:threadvosbid
Banyak orang mengira menabung dan berinvestasi itu sama saja.
Padahal, perbedaannya sangat besar dan berdampak jangka panjang!
Tabungan adalah cara menyimpan uang yang menekankan keamanan dan likuiditas. Uang Anda tersimpan di bank atau deposito, mudah diambil kapan saja, dan risikonya sangat rendah.
Namun, imbal hasilnya juga rendah biasanya hanya berkisar 3–5% per tahun.
Investasi berbeda. Uang ditempatkan pada instrumen yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi, seperti reksadana, saham, obligasi, atau aset lainnya.
Risikonya memang lebih besar karena nilai bisa naik dan turun, tetapi potensi hasilnya jauh lebih menjanjikan dalam jangka panjang.
Contoh sederhana perbedaan return-nya:
Misalkan Anda memiliki Rp100 juta yang tidak akan digunakan dalam 10 tahun ke depan.
▫️Jika ditabung di deposito dengan bunga rata-rata 4% per tahun, setelah 10 tahun uang Anda menjadi sekitar Rp148 juta.
▫️Jika diinvestasikan dengan rata-rata return 10% per tahun (berdasarkan kinerja historis instrumen pasar modal), potensinya bisa mencapai sekitar Rp259 juta.
Selisihnya lebih dari Rp100 juta hanya karena perbedaan cara mengelola uang. Itulah kekuatan compounding yang bekerja lebih optimal pada investasi.
Menurut Anda, mana yang lebih cocok untuk tujuan jangka panjang?
Tugas rakyat itu “mengawasi” bukan “memuji”
pejabat dan government kerja bagus itu ya bare mininum lah. Kalian digaji dari pajak yg disetor warga kok.
Mager banget baca narasi d tiktok yg anggep pihak yg kritik pemerintah itu = musuh.
Astaga.
Dear @pln_123 reg Jogja, mohon penjelasan atas pemadaman pada siang hari ini di wilayah Gamping.
Saya sudah mengecek ig pln jogja dan jadwal pemadaman di
https://t.co/YXyP7wQR0y…
ttp tdk ada tertera jadwal pemeliharaan di wilayah saya.
Mohon penjelasan secara terbuka, tks.