Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan.
Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki "political & economic resources". Opsi & solusi masih tersedia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan "must be on board". In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama.
Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia Bisa. *SBY*
Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka.
Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka.
Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi.
Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal.
Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”.
Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.
Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini.
Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda.
Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa?
Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon.
Ini ada sejarahnya.
Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak.
Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain.
Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut.
Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta.
Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan.
Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia.
Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*
Argumen penghematan atau effisiensi anggaran ini adalah argumen yg berbahaya. Karena kalo ini bisa diterima, maka apa lagi yg lebih hemat dan effisiensi dari sistem pemilihan pada monarchy atau fasisme?
STOP Fitnah: Meluruskan Interpretasi Data @walhinasional dan Auriga Terkait Pengelolaan
Sumber Daya Hutan selama Periode 2004-2014
Di lini masa media sosial baru-baru ini, beredar satu foto yang berasal dari tulisan Walhi dan Auriga Nusantara, di tahun 2022 lalu. Di halaman ke-7 tulisan tersebut, tersemat sebuah gambar berjejer foto Presiden ke-2, Soeharto, hingga Presiden ke-7 Joko Widodo, yang di
bawahnya menampilkan angka-angka luasan hutan, kawasan hutan tanaman, hingga perkebunan sawit dan pertambangan. Sekilas gambar tersebut tampak valid, dengan adanya keterangan berisi sumber data rujukan tabel tersebut, kian membuat pembaca merasa bahwa
tulisan tersebut memang sahih.
Yang membuat saya mengernyitkan alis adalah Auriga dan Walhi menulis bahwa selama sepuluh tahun periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tahun 2004-2014, menyerahkan penguasaan lahan seluas 55 juta hektar atau 5,5 juta hektar per
tahun kepada korporasi. Namun, benarkan semua angka-angka tersebut?
Kita wajib mempertanyakannya, salah satu tujuannya adalah untuk melatih kita membaca data dengan benar, sesuai konteks, situasi kehidupan ekonomi, perubahan kebijakan di tingkat nasional dan daerah, dan yang terpenting adalah bahwa apa yang kita tuliskan
hendaknya berlandaskan sanad yang jelas.
Selaku Menko @KemenkoInfra saya mengikuti Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI dalam membahas Rencana Kerja Anggaran @KemenkoInfra dan Kementerian Koordinator lainnya dalam RAPBN TA 2026 serta Rencana Kerja Kementerian Tahun 2026.
Atas nama Menko @KemenkoInfra, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua, Wakil Ketua dan seluruh Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; atas dukungannya.
Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa meridhoi setiap langkah pengabdian kita untuk Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.🇮🇩
Video: TVR PARLEMEN
Hari ini, kami mengenang kepergian Ibu Ani Yudhoyono, sosok istri, ibu, nenek, dan Ibu Negara yang begitu menginspirasi. Warisannya hidup dalam karya, kasih sayang, dan semangat pengabdian yang tak pernah padam.
Terima kasih, Memo, untuk cinta, kasih sayang dan keteladanan yang terus menjadi cahaya bagi semua.
Al Fatihah ila ruhi Hj. Kristiani Herrawati binti Sarwo Edhie Wibowo. 🥀
Deputi BPOKK DPP Partai Demokrat, Iwan Rinaldo Syarief, menambahkan bahwa konsolidasi harus dilakukan menyeluruh, mulai dari DPD hingga DPC. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman terhadap AD/ART terbaru, mengingat adanya sejumlah perubahan yang perlu dipahami dan diinternalisasi dengan baik.
"Konsolidasi ini diharapkan bisa berlangsung lebih cepat, sehingga apa yang sudah baik dan pondasi yang diletakkan Herman Khaeron sebagai Kepala BPOKK pada era sebelumnya sesuai intruksi Ketum AHY bisa diakselerasikan dan dioptimalkan,” ujar Iwan.
Hari ini saya berbelasungkawa, Pak Lah, sahabat baik saya telah berpulang ke Rahmatullah. Saya mengenang dan memberikan testimoni bahwa Pak Lah (Bapak Abdullah Ahmad Badawi, Perdana Menteri Malaysia ke-5 tahun 2003-2009) adalah seorang pemimpin yang berintegritas tinggi, tulus dalam menjalin persahabatan dan kerja sama, dan ketika ada masalah menyangkut hubungan Indonesia-Malaysia, kami selalu bersatu untuk mencari solusi terbaik.
Banyak kenangan indah saya bersama Pak Lah dalam meningkatkan persahabatan dan kemitraan Indonesia-Malaysia atas dasar equality, mutual respect and fulfilling common interests. Jika ada yang harus kami bicarakan, terutama menghadapi isu-isu penting yang perlu ditangani, kami segera berbicara melalui telepon, baik siang maupun malam, dan di mana pun kami berada. Tidak ada rintangan politik maupun psikologis apa pun di antara kami berdua.
Saya masih ingat, pada tahun 2006 Pak Lah berkunjung ke Jakarta. Saat itu, kami sedang membicarakan situasi peperangan di Timur Tengah antara Israel dan Lebanon. Di situ pula, muncul inisiatif kami berdua untuk segera menyelenggarakan OIC Emergency Session. Dalam waktu yang singkat, pertemuan puncak pemimpin OIC segera digelar di Kuala Lumpur, karena waktu itu Malaysia menjadi Ketua OIC. Kedekatan kami terbukti mempersingkat protokol diplomasi. Pertemuan di Kuala Lumpur tersebut sangat penting dalam upaya mengakhiri peperangan yang tengah berkecamuk di Lebanon. Dalam forum di Kuala Lumpur itu pula, usulan saya untuk pengiriman kontingen Indonesia dengan kekuatan 1 batalyon mekanis diperkuat dapat disetujui oleh para pemimpin OIC dan kemudian diterima oleh PBB sebagai bagian dari misi pemeliharaan perdamaian di Lebanon.
Ketika saya mengundang Pak Lah untuk menghadiri pertemuan bilateral Indonesia-Malaysia di Bukit Tinggi (bukan di Jakarta sebagaimana lazimnya), beliau juga menyambut dengan baik. Sejarah mencatat, bahwa pertemuan Bukit Tinggi telah menghasilkan sejumlah agenda kerja sama bilateral maupun regional. Saya juga masih ingat, di tengah-tengah padatnya kegiatan di Bukit Tinggi, kami berdua sempat berolahraga bersama sambil menyapa masyarakat di Padang Pariaman.
Tentu masih banyak lagi kebersamaan saya dan Pak Lah ketika sama-sama mengemban tugas negara masing-masing. Saya berkesimpulan, Pak Lah seperti saya juga, ingin selalu menjadi bagian dari solusi dan kemajuan ke arah yang lebih baik.
Selamat jalan Pak Lah. Semoga Allah SWT menerima Pak Lah di sisi-Nya dalam naungan rahmat dan kasih sayang-Nya. Aamiin YRA *SBY*
Turut berduka cita yang mendalam atas gugurnya salah satu kader terbaik @PDemokrat anggota DPRD Maluku Utara Ibu Ester Tantri dalam tugas mendampingi rombongan Calon Gubernur Maluku Utara di Pulau Taliabu. Semoga mendiang Ibu Ester Tantri diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Partai Demokrat memberikan penghormatan terbaik bagi Ibu Ester, kader kami yang gugur dalam tugas.
https://t.co/d6traaaO5A