Congratulations to Indonesia 🇮🇩 on taking delivery of its second #A400M!
The aircraft will boost the nation’s heavy airlift capabilities, and enable it to perform various military and humanitarian missions with ease.
Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf (Mualem) dorong kerja sama ekonomi dengan Malaysia, termasuk rencana jalur laut Aceh–Penang dan penjajakan investasi pelabuhan Sabang. Langkah ini diyakini bisa menjadikan Malaysia sebagai salah satu kiblat perdagangan Aceh ke depan, memperkuat konektivitas dan ekonomi regional. 🇮🇩🤝🇲🇾
Yth, @Telkomsel tolong segera pulihkan jaringan GSM di wilayah Blangkejeren, Gayo Lues
@TelkomIndonesia juga bantu segera pulihkan jaringan speedy diwilayah ini, sudah sebulan lebih sulit berkomunikasi dan jaringan data 🙏
Terima kasih
@Telkomsel@TelkomIndonesia Selamat malam kak,
Mau konsul, awal saya beli paket periode ini, jaringan rusak sebagaimana ygbsaya adukan sebelumnya, saat ini masa aktifnya akan habis, sdgkan kuotanya masih lumayan, adakah kompensasi waktu atau lainnya bagi kami yg terdampak di Aceh 🙏
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Dukungan logistik untuk wilayah Gayo Lues via Bandara Blangkejeren:
1. TNI-AU A-2113 SWO-GYO
2. Heli Derazona PK-DAM | kitabisa LSW-GYO
3. SAM, Smart dan SusiAir | BNPB, BTJ-GYO
Seluruh logistik sangat bermanfaat bagi Gayo Lues untuk mengatasi dampak bencana yg terjadi di Aceh.
Cara Soeharto menangani bencana Tsunami Flores (NTT) 1992: Presiden Soeharto 🇮🇩 menetapkan status bencana nasional, mengerahkan ABRI secara penuh untuk evakuasi, distribusi logistik, dan pengamanan wilayah. Pemerintah pusat mengambil alih komando penanganan, menyalurkan bantuan cepat, membangun hunian sementara dan permanen, serta memulihkan infrastruktur dasar. Penanganan dilakukan terpusat, cepat, dan berbasis komando negara.
@pln_123 kami mengalami pemadaman listrik @pln_123 diseluruh wilayah Takengon, Aceh Tengah, Kab. Bener Meriah sejak tadi sore hinggak saat ini. Mohon segera ditangani.
Saya Ragu Merger Garuda Indonesia dan Pelita Air Akan Menguntungkan Indonesia!
Wacana merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air kembali muncul, tapi saya tegas menolak ide ini! Jika Pertamina ingin mendivestasi Pelita, silakan, tetapi jangan di-merger dengan Garuda. Sebaliknya, Pelita sebaiknya dijual mayoritas sahamnya ke sektor swasta atau ditempatkan di bawah Danantara, setara dengan Garuda, agar kedua maskapai tetap independen. Berikut alasan saya:
1. Garuda Butuh Pemulihan vs Pasar Domestik Butuh Kompetisi
Garuda sedang berjuang untuk pulih dari krisis keuangannya paska PKPU. Sementara itu, sektor penerbangan domestik membutuhkan kompetisi yang sehat. Namun, keengganan pemerintah untuk menaikkan Tarif Batas Atas membuat pasar penerbangan Indonesia kurang menarik bagi investasi. Hal ini menghambat kompetisi karena memberikan disinsentif bagi pemain baru untuk masuk ke pasar. Pelita, dengan kinerja solid dan keuangan stabil, telah mengisi celah ini dengan baik. Merger justru berisiko mengurangi kompetisi dan melemahkan dinamika pasar.
2. Garuda dan Pelita Punya Peran Berbeda
Garuda harus fokus pada rencana bisnisnya untuk keluar dari krisisnya, sementara Pelita harus tetap menjadi maskapai dengan pertumbuhan konservatif yang mengutamakan kualitas layanan, bukan prestige nasional. Pelita berfungsi sebagai cadangan strategis jika Garuda gagal pulih. Jika merger terjadi dan Garuda tidak kunjung membaik, apa jadinya? Apakah Pertamina harus membangun ulang Pelita dari nol untuk penerbangan berjadwal? Kan konyol.
3. Aliansi ataupun Merger, KPPU Harus Siaga
Jika tidak merger terapi kerja sama dipertimbangkan, aliansi domestik mungkin bisa menjadi opsi, tetapi KPPU harus siaga untuk memastikan bahwa aliansi atau merger tidak menggerus kompetisi. Jika merger menciptakan dominasi pasar dan membuahkan anti-competitive behaviour, KPPU harus bertindak tegas demi menjaga kepentingan konsumen dan pasar yang sehat.
4. Garuda Harus Mandiri, Bukan Bergantung pada Intervensi Pemerintah
Garuda harus bisa bangkit dengan kemampuannya sendiri, bukan melalui intervensi pemerintah yang mengurangi kompetisi pasar. Merger bukan solusi, melainkan cara instan yang berisiko memperburuk masalah.
5. Masalah Garuda Tidak Selesai dengan Uang atau Merger
Garuda punya segudang masalah, dari utang hingga manajemen. Solusinya bukan sekadar suntikan dana atau merger dengan maskapai BUMN lain seperti Pelita. Merger hanya akan menambah beban operasional dan integrasi, tanpa menyelesaikan akar masalah.
6. Divestasi Pelita: Swasta atau Danantara, Bukan Merger
Jika Pertamina ingin mendivestasi Pelita, ada dua opsi yang lebih masuk akal: jual mayoritas sahamnya ke sektor swasta untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi, atau tempatkan Pelita di bawah Danantara, setara dengan Garuda. Dengan begitu, kedua maskapai bisa tetap independen, menjaga kompetisi, dan beroperasi tanpa beban masalah satu sama lain.
7. Logika Keuangan Merger Yang Bermasalah
Garuda punya utang besar, termasuk ke Pertamina. Jika Pelita (anak perusahaan Pertamina) di-merger dengan Garuda, bagaimana logika keuangannya? Masa perusahaan A (Garuda) yang berutang ke B (Pertamina) “diberi” perusahaan C (Pelita) untuk pemulihan? Bagaimana dampaknya pada ekuitas Garuda, yang sudah nyaris tidak berkelanjutan? Jika Pelita punya utang, apakah Garuda harus menanggungnya juga? Jika ekuitas Garuda jadi negatif lagi karena merger, ini justru kontraproduktif dan tidak masuk akal.
Merger Garuda dan Pelita berisiko mengganggu kompetisi, melemahkan pemulihan Garuda, dan menghilangkan cadangan strategis Pelita. Kebijakan Tarif Batas Atas yang tidak disesuaikan telah menghambat investasi dan kompetisi, dan merger hanya akan memperburuk situasi. Jika divestasi Pelita diperlukan, menjualnya ke swasta atau menempatkannya di bawah Danantara sebagai entitas setara Garuda jauh lebih logis. Garuda harus fokus memperbaiki diri sendiri, tanpa campur tangan pemerintah yang mengorbankan dinamika pasar. KPPU harus siaga untuk memastikan langkah apa pun tidak merugikan konsumen atau pasar. Kalau merger gagal dan Garuda tidak pulih, apa untungnya bagi Indonesia?
Hai #SobatGYO
Bandara Blangkejeren masih terus melayani penerbangan dari GYO ke Medan (KNO) serta ke Banda Aceh (BTJ) berikut infonya ya.
Jadi sobat akan terbang ke rute mana ni.?
#harhubnas#bandara#indonesia#wisata#leuser