Gue yakin 100% Cristiano Ronaldo punya post power syndrome.
Padahal tinggal nerima kalo dia itu udah decline & kureng, dan itu manusiawi bgt, orang udah 41 tahun juga.
Tapi dia ga mau. Jelas udah bukan cuma ambisius lagi tapi juga campuran ego & denial. Portugal stuck gitu aja udah, bisa aja explore taktik lain yg lebih fluid dengan skuat oke begini tapi terus-terusan main pake target man si dia.
Yes dia legend & udah bikin legacy, tapi sepak bola kan juga game of form. Mesti pisahin legacy (dulu) & form (sekarang).
Gak ada ceritanya rekan setimnya yg lebih muda wajib service & build the team around him terus-terusan krn dia legend. Kalo gitu bikin aja Ronaldo FC, jangan Timnas Portugal.
Dia dah bukan dia 10 tahun lalu. Di kepala dia mungkin iya, tapi realitanya, bhaap.
Fakta bahwa Roberto Martinez ga berani ganti dia & ngebiarin dia main 90 menit sejelek tadi speak for itself. So funny, bakalan jadi wasted potential banget skuat sebagus ini kl sampe ga ke mana-mana lagi.
Come on @selecaoportugal do something
Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐Come and visit London’s Home of Trophies. 🏆
Book your Stadium Tour at Stamford Bridge now. ⭐️⭐️
Kenyataan bahwa abis orang pada bilang "tidak" dan dia masih bisa bilang, "MBG itu penting," adalah bukti beliau nih tuli terhadap suara masyarakat bahkan secara langsung.
Ini Dishub sama Pemkot Bekasi ngomong lah. Gak kelar kelar dari dulu Jabar kalah sama ormas. Udah jalan ilegal gak berpalang makan korban, segala bantuan TJ dihadang angkot. Gini hasilnya kalo pungli sama preman dipelihara terus menerus bertahun tahun di Jabar.
Dipikir pikir enak banget ya kerja di Dishub. Ga pernah kerja, tapi kalau ada kecelakaan begini yg dibawah tanggung jawabnya, gapernah tuh disalahin sama netizen.
1. Jalan raya minim rambu laku lintas, garis marka gaada, lampu lalu lintas gaada. Diem tuh ga pada nyalahin dishub
DOUBLE-DOUBLE TRACK, OON. Jujur kirain DDT itu udh sampe Cikampek, atau minimal Cikarang. Ternyata emang negara gak mau fokus benahi transportasi rel, padahal duit ada. Jangan harap transportasi rel bisa dibangun di Papua kalo yg di Jawa aja masih pake jalur warisan Belanda. Gak usah jauh-jauh deh sampe Papua, itu Nambo-Cikarang aja gak jadi-jadi sampe sekarang.
Transum dalam kota Bekasi tapi dibantu Transjakarta. Pemkot Bekasi dan pemprov Jabar-nya kemana.
Pemkab Bekasi juga ngga ada bantu sediain shuttle dari Cikarang ke Bekasi.
@Fadhiil5112 JUSTRU YG NGEREM ITU ELU PADA YG MAU NYEBRANG REL!!! Minimal tenangin diri lo semua buat ngerem dan nengok kanan kiriiii!!! Sebel bgt ngomong sama bedug emang susah bolott
Ngobrolin Daycare di Jogja sama my partner yang jadi kepsek dan punya program daycare juga.
Serem bgt gila. Dan yang lebih serem lagi apa coba?
Emak2 lain yang ngata2in ibu korban dengan bilang,
- Makannya, punya anak diurusin sendiri, gausah kerja, gausah daycare2an
speechless...
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)