Fyi... inilah salah satu alasan kenapa Muhammadiyah tidak menganjurkan bahkan melarang tahlilan.
Menurut MU:
1. Tradisi tahlilan dianggap merupakan akulturasi dari budaya non-Islam masa lalu.
2. Adanya unsur tabzir (pemborosan) karena keluarga yang berduka sering kali terbebani biaya untuk menyediakan hidangan bagi pelayat.
3. Seharusnya pelayat/tetangga yang menyiapkan makanan untuk keluarga yang berduka, bukan sebaliknya.
Prabowo tuduh yang demo-demo itu dibayar
Prabowo: "anak-anak itu dibayar demo, ditanya demo mau apa dia gak ngerti, dijawab kami dibayar 200 ribu"
Tuduhan prabowo ini setengah benar setengah ngibul
SETENGAH BENAR
1. mahasiswa ada yang dibayar saat demo contohnya yang ketahuan kemaren yang ketemu sama gibran, fix itu para ketua dibayar
2. Demo dukungan mbg itu dibayar 100 ribu+ wajan
3. Jadi kalo dibayar dugaan paling kuat dibayar sama fufufafa melalui proksinya
SETENGAH NGIBUL
1. Tidak semua mahasiswa dibayar ada yang bergerak karna suara kegelisahan rakyat
2. Banyak yg suport donasi berasal dari rakyat buat rakyat itu menandakan mereka tidak dibayar
3. Demo ini berlangsung tidak di satu titik
SILAHKAN YANG MAU MENAMBAHKAN DAN KOREKSI
AI BIKIN KITA SOMBONG? ๐ญ
jadi baru-baru ini ada kasus yang melibatkan AI.
> mahasiswa PhD Stanford
> namanya myra cheng
> notice temennya pada minta AI bikinin draft buat putus
> myra riset fenonema ini krn penasaran
hasilnya ternyata bikin merinding:
> 49% AI lebih sering setuju sama kita
> kalo lo cerita boong, gaslight, atau ada niat jahat, AI ngedukung s/d 50%
yang lebih parah, orang yg curhat ke AI ternyata akan ngerasa:
> dia paling bener
> males minta maaf
> ogah baikan sama orang lain
siapa yang nyangka?
AI bisa pelan-pelan bikin kita lebih gak toleran atau memaafkan.
saran gue...
jangan pake AI buat ngasih nasehat soal relationship or masalah pribadi.
mending ngobrol sama temen, pacar atau keluarga ya ๐
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Kalau base on dokumen kurikulum yang ada: tidak ada satupun kalimat larangan tidak menaikan siswa pada era merdeka belajar. Yang jadi soal, ekosistem kebijakannya tidak memungkinkan guru untuk tidak menaikan siswa, karena lebih sering akan berbalik kepada guru itu sendiri, dengan tagline: berpihak pada anak (belum termasuk bagaimana 3 kata ini beroperasi di lapangan) :
-apakah anda sudah melakukan asesmen diagnostik (awal) ?
-apakah anda melakukan asesmen formatif (ketika belajar)?
-mana cek rencana pembelajaran anda?
-mana ceklis penurunan/peningkatan?
-apa yang anda lakukan ketika anak mulai tidak antusias belajar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu seringkali tidak bisa dijawab oleh guru. Mereka kadang, tidak punya dokumen yang lengkap, dan tidak melakukan hal-hal ideal di atas. Belum ditambah memperhatikan reaksi orang tua yang marah2.
Seringkali guru mengambil jalan untuk menaikannya, daripada kena masalah. Akhirnya masalah itu bertumpuk dan baru ketahuan ketika ada pengetesen, baik di tingkat lanjut, atau pengetesan yang bersifat mendadak.
Namun yang jadi soal, adalah pertanyaan lanjutan dari sisi guru, kenapa anda tidak sempat melakukan hal-hal di atas? Hal-hal seperti meningkatnya beban kerja, beban digital, belum dihitung dengan kurang jelasnya karir karena hanya kontrak (pppk) dan honorer. Hal-hal ini tidak menjadi perhatian, oleh sebab itu saya, salah satu yang mencoba mengangkat itu ke permukaan.
Pengungkapan ini tidak meniadakan bahwa guru boleh meninggalkan hal-hal di atas. Tapi jika ingin menyelesaikan tadi, kemampuan dasar yang belum selesai tetap naik kelas, hemat saya kedua hal tersebut harus diselesaikan bersama-sama.
Makasih mas Hara atas uraiannya.
Kenapa kita nggak boleh percaya sama rata-rata(mean) begitu saja?
Cerita 1 :
๐ฑโโ๏ธ : Lapor, ada 10 siswa rata-ratanya 70.
๐งโโ๏ธ : Mayoritasnya berarti pada 70 ya?
๐ฑโโ๏ธ : Nggak, sebenarnya 4 orang dapat 100.
๐งโโ๏ธ : Kok bisa gitu... Sisanya?
๐ฑโโ๏ธ : 50 doang...
๐งโโ๏ธ : (termenung)
Cerita 2 :
๐ฑโโ๏ธ : Pak lapor, di daerah X kepala keluarga punya penghasilam rata-rata 10 juta.
๐งโโ๏ธ : Dari berapa keluarga itu?
๐ฑโโ๏ธ : 1000 kepala keluarga
๐งโโ๏ธ : Wah, daerah itu berarti pada makmur ya...
๐ฑโโ๏ธ : Sebenarnya... data tersebut ada 10 kepala keluarga konglomerat, sisanya 990 kepala keluarga yang gajinya 1.000.000
๐งโโ๏ธ : (termenung)
Cerita 3 :
๐ฑโโ๏ธ : Pak, kebetulan keuntungan ayam geprek mencapai 400.000/hari dalam seminggu.
๐งโโ๏ธ : Oke, besok jualan nasi goreng ya...
๐ฑโโ๏ธ: Eh bentar, tapi bapak perlu liat data perhari ini...
๐งโโ๏ธ: Eh buat apa, 400.000/hari itu gede lho
๐ฑโโ๏ธ: Tapi, tergantung hari juga sih... senin-jum'at memang pada untung mayoritasnya di 500.000 terutama hari jum'at bisa 1,8 juta sih... tapi sabtu minggu ada rugi dan ruginya 500.000.
๐งโโ๏ธ: Wah itu masalah dong kalau sampai rugi banget di sabtu/minggu.
buat teman-teman yg sedang ingin memperbaiki sholatnya, semoga kumpulan doa dan amalan ini bisa sedikit membantu.
ayok perbaiki sholat kita, niscaya Allah akan perbaiki pula hidup kita.
sholat sama dunia itu tidak perlu dibenturkan.
sholat 1 hari berapa menit kira2? kalau 15 menit 1 kali sholat, brarti sholat wajib ada 5 kira2 15 menit X 5 = 75 menit. di tambah sunah2 lain, ibadah2 lain dan kalau mungkin ke masjid total 120 menit alias 2 jam.
1 hari ada 24 jam. kalau 8 jam tidur, 2 jam dipake ibadah. masih ada 14 jam kita ngapain?
kejar dunia dong,
- belajar
- upgrade ilmu
- ngulik hal baru
- networking
- baca buku
- bangun bisnis, bangun portofolio, bangun pengalaman
- sekolah, kuliah, cari beasiswa dan semua "kejar dunia" ini penting sekali karna ini bekal kita ke akhirat
- investasi dll
kejar dunia bahkan bisa jadi nilai ibadah kalau kita niatkan demikian.
yuk semangat kejar dua2nya!
Pernah denger ceramah seorang Muslim scholar dari UK yang membahas rasionalisasi perintah hijab dgn sudut pandang yg menurut gue jauh lebih presisi secara teologis.
He said that itโs clear bahwa tujuan utama hijab bkn untuk membantu laki2 mengontrol hawa nafsunya.