Guys, Sandiaga Uno pernah bilang sesuatu yang sangat jujur dan pernyataan itu makin relevan sekarang setelah kita melihat apa yang terjadi pada Nadiem Makarim.
Kalimatnya sederhana tapi menohok:
"If you wanna be rich, jangan masuk politik."
Konteksnya dulu:
Tahun 2011 Sandiaga masuk daftar
50 orang terkaya Indonesia.
Kemudian dia masuk politik.
Dan di IMS 2020 dia dengan santai bilang: "
Now no longer available for that list
karena masuk politik.
Bukan keluhan.
Bukan penyesalan yang dibuat-buat.
Itu pengakuan jujur dari seseorang yang tahu persis bedanya dunia bisnis dan dunia politik karena dia sudah menjalani keduanya.
Tiga hal yang menurut Sandiaga membedakan bisnis dan politik:
Pertama soal loyalitas.
Di bisnis loyalitas adalah segalanya ke atasan, ke pelanggan, ke tim.
Kalau loyal, karir dan bisnis bagus.
Di politik?
Loyalitas bisa berubah 180 derajat
dalam hitungan hari.
Orang bisa keluar masuk tiga partai berbeda dalam satu siklus pilkada dan itu dianggap normal.
Kedua soal risiko.
Di bisnis kita bekerja keras untuk meminimalisir risiko.
Di politik justru sebaliknya semakin berisiko, semakin tidak pasti, semakin menarik.
Ketidakpastian adalah bumbu yang membuat politik terasa hidup.
Ketiga soal janji.
Di bisnis kalau janji antar barang jam tiga jam dua empat puluh lima sudah ditagih.
Di politik janji bisa berubah dari sarapan ke makan siang ke makan malam dan itu bukan skandal, itu dianggap fleksibilitas.
Dan sekarang kita lihat apa yang terjadi pada Nadiem:
Sandiaga masuk politik dan kehilangan posisinya di daftar orang terkaya.
Itu kerugian finansial yang bisa diterima.
Tapi Nadiem?
Dia masuk pemerintahan,
meninggalkan Gojek yang dia bangun dari nol, bekerja selama hampir 5 tahun sebagai menteri — dan sekarang menghadapi tuntutan 27 tahun penjara dengan uang pengganti Rp5,6 triliun.
Jumlah yang bahkan melampaui
total kekayaan yang dia punya.
Sandiaga kehilangan kekayaan finansial
ketika masuk politik.
Nadiem berpotensi kehilangan kebebasannya.
Yang membuat ini semakin ironis:
Sandiaga menyebut Nadiem dan Gojek secara langsung dalam konteks positif
sebagai contoh pengusaha yang berhasil memecahkan masalah sosial nyata melalui bisnis.
Lapangan kerja, inklusi keuangan,
pemberdayaan UMKM.
Dan orang yang dipuji Sandiaga sebagai contoh sukses itu sekarang duduk di kursi terdakwa dengan tuntutan lebih berat dari banyak kasus pembunuhan dan terorisme.
Sandiaga bilang kalau bisnis sudah bisa ditinggal dan pengusaha mau masuk politik boleh.
Tapi harus siap dengan risiko yang tidak ada di dunia bisnis.
Di bisnis kalau gagal, perusahaan bangkrut.
Di politik kalau salah langkah bukan hanya karir yang habis.
Seperti yang kita saksikan sekarang,
dalam kondisi ekstrem,
kebebasan pun bisa dipertaruhkan.
Dan pertanyaan yang paling pahit dari semua ini: kalau akhirnya seperti ini yang menimpa mereka yang masuk dengan niat membangun siapa lagi yang mau masuk dan benar-benar berniat baik?
Apa yg disampaikan Tom Lembong bahwa Nadiem berpengaruh pd investor LN itu bener banget..
Krn start-up yg dibangun o Nadiem nyatanya sdh menarik investor LN.
Saking gregetannya, kpd Akbar Faizal ia mengatakan kasus yg dialami Nadiem mengingatkannya akan kasus yg pernah ia alami. "Saya kesulitan menemukan kata-kata yang sopan ..."
Duh klo yg lain pasti udh keluar kata2 makian tuh 😓
Kasus Chromebook Nadiem ini sebenernya gimana sih, kok bisa dituntut 18 tahun?
Gue coba jelasin pake bahasa bayi, tanpa istilah hukum yang ribet, Versi Jaksa vs Pembelaan Nadiem ⬇️⬇️
@PT_Transjakarta Lapor pak. Ini Jak 120 jurusan JIS Muara Angke gak ada yg mau berhenti di halte Sekolah Pinangsia. Ini sudah dua kali lewat. Tolong diperhatikan pak. Sengaja lewat jalur cepat sebelah kanan padahal jalan sepi. Jak lain juga pada berhenti.
@PT_Transjakarta Beberapa kali juga saya lihat penumpang yg menunggu ditinggal begitu saja. Padahal sudah menunggu lama. Apalagi orang tua yg pasti nunggu duduk di halte. Pasti gak dilayani karena belum sempat berdiri langsung ditinggal. Beda jauh dengan BRT
@PT_Transjakarta semakin lama kelakuan driver mikrotrans Jak120 makin menjadi-jadi. Lewat bus stop tidak buka pintu langsung ngebut lewat. Tolong screening lagi driver yg bekas sopir mikrolet nya. Karena hal ini makin kelewatan dan membuat jijik lihat kelakuan mereka.
@PT_Transjakarta Terima kasih atas response nya pak. Iyah.. tolong ya pak. Membahayakan penumpang dan penyebrang jalan karena driver ngebut seperti dikejar setan ajah. Padahal gak ada setoran
@PT_Transjakarta Perut sakit dikocok-kocok karena mobil ngebut. Sudah tidak seperti dulu lagi yg melayani. Tolong evaluasi ulang, tidak semua tapi sebagian besar dan ngebutnya itu malah membahayakan karena merasa tidak perlu nyari penumpang dan penumpang yg butuh mereka.
@PT_Transjakarta mending di-stop saja kasih gaji gede buat sopir mikrolet ini. Saya sendiri sudah gak mau naik karena kelakuan nya lebih gila dari sopir mikrolet sendiri. Klo perlu gak usah rem dan berhenti karena tidak peduli penumpang naik atau gak. Naik pun sudah tidak nyaman.
@PT_Transjakarta semakin lama kelakuan driver mikrotrans Jak120 makin menjadi-jadi. Lewat bus stop tidak buka pintu langsung ngebut lewat. Tolong screening lagi driver yg bekas sopir mikrolet nya. Karena hal ini makin kelewatan dan membuat jijik lihat kelakuan mereka.
Dan pernah tertabrak 1A makanya sejak itu dicabut. Saya cuma ingin konfirmasi apakah benar titik Baywalk 2 itu sudah tidak ada seperti kata driver nya? Kalau tidak ada kenapa yg lain berhenti? Cuma satu orang itu ajah yg ngotot marah-marahin penumpang yg naik dari situ. Thanks
@PT_Transjakarta Mau lapor dong. Mikrotrans 220001 jurusan JIS Muara karang Jak120 gak mau berhenti di halte Baywalk 2. Katanya gak ada di SOP. Sopir ngotot dijelaskan gak mau ngerti juga dan keras kepala. Malah marah-marah dibilangin. Tolong dikasih pengertian ke driver nya ya.
Ini udah kesekian kalinya dibilangin ngeyel. Malah sok tahu. Padahal di aplikasi Google dan Moovit ada. Selain itu Jak120 lain juga berhenti. 1A, 12B, R1A semua juga berhenti. Alasannya karena tidak ada plang bus stop. Plang Bus Stop nya memang dicabut karena menjorok ke jalan