Ini beberapa saran bagi orang tua dalam mendidik anak agar, moga-moga, nantinya anak tidak menjadi koruptor.
Pertama, jangan cuma bilang “nanti kau masuk neraka kalau korupsi.” Sekarang dia masih percaya neraka, tapi kelak? Setelah dewasa, punya kerja, bisa jadi dia takpercaya.
Kaum pria mengganggu Ninalee Craig, seorang perempuan Amerika, ketika berjalan sehabis berbelanja di Florence, Italia, 1951. Foto terkenal berjudul “American Girl in Italy” ini dijepret oleh wartawati Ruth Orkin.
Dulu aku berpesan kepada anakku Gibran sebelum dia merantau kuliah: Kalau kau ingin membantu orang susah, orang miskin, bantulah dengan ikhlas. Jangan tulis, jangan bikin foto atau videonya jadi konten medsosmu. Cukuplah kauceritakan kepadaku.
—j—
Kapolres Samosir dan dokter autopsi menyebut Bripka Arfan Saragih tewas hari Jumat atau Sabtu karena “bunuh diri minum sianida.” Anehnya, menurut forensik digital, Arfan masih meng-googling ayat Alkitab soal bunuh diri pada hari Minggu, setelah dia meninggal.
TEGAK LURUS DENGAN LANGIT
Pada statusku “Mereka Tega Membunuh Kebenaran” ada komentar yang ditulis Bintang Hasibuan. Dia salah satu reporterku ketika aku jadi pemred di Batam. Dia masih sangat muda, 20-an tahun, dan cekatan menulis narasi.
Dia salah satu saksi akan prinsip idealismeku dalam kerja jurnalisme. Contohnya, ketika aku sendiri meminta gajiku dipotong dari Rp25 juta menjadi hanya Rp10 juta agar sisanya bisa untuk kelancaran honor tulisan para reporter magang. Kemudian, pada akhirnya aku mundur, melepaskan jabatanku dan gajiku yang besar walaupun kontrak kerjaku belum habis, karena aku tidak sampai hati melihat para reporterku gajinya taklancar. (Barangkali ada orang yang berpikir sinis: ini bohong, seperti cerita fiksi, mana mungkin pemred mengorbankan gajinya sebegitu banyak demi reporternya.)
[PEMBARUAN: Saat mengundurkan diri, Desember 2020, sebenarnya aku lagi butuh uang. Sekitar tiga bulan sebelumnya bapakku meninggal, dan anakku Gibran diterima kuliah di Semarang. Uangku sudah hampir habis untuk kedua urusan itu. Tapi, aku tetap mundur dan pulang kampung.]
Foto: kakiku dalam pesawat ketika meninggalkan Batam. Dulu foto ini pernah kubuat dalam status terbatas “teman”, yang sebenarnya—waktu itu tidak kuceritakan—merupakan status tentang perpisahanku dengan para reporterku di Batam. Ketika itu kutulis dalam status fotoku ini: Aku tertunduk tulus di jalan sunyi, “Selamat tinggal, Kebaikan.”
Pada malam terakhir di kota itu aku berjalan perlahan-lahan dari rumah ke warung untuk makan. Earphone terpasang di telingaku, dan aku mendengarkan lagu kesukaanku. Tiba-tiba aku teringat kepada reporterku, para jurnalis muda idealis, yang dalam rapat terakhir, rapat perpisahan, semuanya membisu, merasa pilu, setelah mendengarkan keputusanku melepaskan jabatan pemred dan pulang kampung.
Aku mengingat Bintang, yang kecewa, marah, lalu berkata kepada pemimpin umum Hayun Gultom agar “Pemred jangan pulang. Biarlah gaji kami kecil asalkan Pemred tetap di sini.”
Aku mengingat Ella, seorang gadis calon sarjana yang jadi reporter magang, yang baru jatuh cinta pada jurnalisme, tapi aku mematahkan cintanya itu.
Aku mengingat Fathur. Aku mengingat Hendra. Aku mengingat Aini. Aku mengingat Ishlahuddin, Agung, Khafi, Zagoto, Pandiangan…
Aku mengingat dalam rapat perpisahan aku sempat berkata: “Aku akan melupakan kalian, dan kalian pun harus melupakan aku. Jangan meneleponku, dan jangan ‘berteman’ denganku di medsos. Anggap saja seperti dulu ketika aku belum datang ke sini, ketika kalian belum mengenalku, jadi kalian tidak akan rugi apa-apa setelah aku pulang nanti. Jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Aku bukan dewa. Ini hal biasa. Hidup, mati. Datang, pergi. Semoga kalian punya pemred yang lebih tepat.”
Saat berjalan dengan kepala tertunduk pada malam hari itulah, saat mendengarkan lagu kesukaanku itulah, saat mengingat-ingat nama mereka itulah, aku berbisik dengan lirih, “Selamat tinggal, Kebaikan,” dan tiba-tiba berasa seperti tersayat sembilu… karena aku tahu mereka mencintaiku. […]
Nafsu Menjadi Wartawan
Aku minggat dari rumah namboru, saudari ayahku, di Ternate, Maluku Utara. Pada pukul 05.30 aku melompat melalui pagar beton rumah, lantas bergegas ke pelabuhan untuk menumpang kapal Umsini selama lima hari menuju ke Belawan, Sumatra Utara. Waktu itu aku masih remaja kencur, baru satu tahun duduk di bangku SMA, dan baru lulus ujian kenaikan kelas.
Semenjak bersekolah di Ternate mulai kelas II SMP, aku tidak kerasan tinggal di rumah tanteku itu, karena aku dipaksa berdisiplin. Aku melawannya dengan berkali-kali bolos sekolah. Aku pernah mangkir selama beberapa hari dan tidur di tangsi kodim di rumah Wawan, sahabatku di sekolah dan dojo karate. Akhirnya, aku hengkang dan kembali ke kampung halaman di Balige, Toba, supaya bisa bertindak sendiri dengan sebebas-bebasnya.
Setiba di Balige, aku tidak bernafsu lagi meneruskan sekolah. Kemudian aku pergi ke Padang, Sumatra Barat, tinggal di rumah kakak tertua ayahku. Di sana saban hari aku hanya asyik mengerjakan hobi: berlatih karate, mengoleksi kaset lagu, berkorespondensi dengan sahabat pena, membaca majalah, mengarang cerpen, dan menulisi diari.
Selama tinggal di Padang, aku punya satu buku harian bersalut biru malam. Di dalamnya aku menulis bermacam kritik: mengecam tabiat kerabatku, mempermasalahk[e]n tirani “daripada” Presiden Soeharto, dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Aku juga menempelinya dengan guntingan artikel koran dan majalah mengenai dunia tulis-menulis, kewartawanan, tata bahasa Indonesia, fotografi, serta seni bela diri.
Di antaranya ada satu kliping yang mengilhamiku untuk bercita-cita menjadi jurnalis: tentang film The Killing Fields (1984) yang kuperoleh dari majalah Jakarta Jakarta. Film dengan tokoh utama wartawan koran The New York Times itu diangkat dari kisah nyata genosida dua juta warga Kamboja oleh rezim komunis Khmer Merah.
Terima kasih, Jakarta Jakarta.
—j—
Diari Asmaraloka SMA
Semasa SD di Balige, Toba, Sumatra Utara, aku punya diari bersampul warna-warni yang kudapat dari saudara sepupuku di Pematangsiantar. Isinya cuma mini-memoar yang taktuntas dan sering takjelas. Entah apa-apalah kutuliskan.
Biodataku tercantum pada dua atau tiga halaman awal: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, nama ibu, nama bapak, nama saudara, nama sahabat terbaik, hobi, ukuran sepatu, dan masih banyak lagi. Ada juga isian dengan akronim kolot.
- Mikes: Fanta
- Makes: Indomie kuah
Sewaktu SMP di Ternate, Maluku Utara, lalu sempat berhenti bersekolah di Padang, Sumatra Barat, aku pun tetap menulis catatan harian, seperti kuceritakan dalam twitku kemarin, “Nafsu Menjadi Wartawan.”
Kala kelas II hingga kelas III di SMA Negeri 1 Balige, aku juga punya satu diari bersalut karton merah tua yang kujilid sendiri. Buku kecil lagi tebal ini kutulis secara aplusan bersama dengan pacarku: seorang gadis cerdas, juara kelas, adik kelasku. Sekali atau dua kali seminggu kami menulisinya dengan bolpoin hingga kitab asmaraloka itu hampir penuh ketika akhirnya kami seia sekata untuk putus cinta, tapi masih bisa berjumpa sebagai sahabat.
Kalau, contohnya, hari ini aku mengisi diari, besoknya atau beberapa hari kemudian aku akan membawa buku itu saat datang ke rumahnya. Dia pun membacanya, menyimpannya ke kamar, lalu kami mengobrol takjemu-jemu. Manakala aku datang kembali, dan ternyata dia sudah menuliskan sesuatu dalam diari, dia akan memberinya kepadaku untuk kubaca dan kubawa pulang.
Kuingat dia pernah menulis impiannya kuliah di UGM, yang kemudian menjadi kenyataan. Pernah juga kutulis aku taksuka kuliah dan takkan mau menjadi PNS; aku ingin jadi wartawan; dan aku takingin berpacaran kalau harus berjauhan mata; yang kemudian hari benar-benar terjadi.
Pada akhirnya, hobi mencatat gagasan pada diari itu telah menyulut cakraku menjadi penulis, dan sedikit banyak membentuk watakku selaku wartawan kepala batu.
—j—
BAHASA JURNALISTIK
Kalimat reporter: Kedua oknum polisi itu sudah mendapat sanksi berupa pemecatan karena terlibat narkoba.
Editan redaktur: Kedua polisi itu dipecat karena terlibat narkoba.
* * *
Tanya: Apakah kalimat dalam berita media massa harus pendek-pendek?
Jawab: Tidak harus. Wartawan boleh saja menulis kalimat panjang, seperti sering kupraktikkan dalam narasi liputanku, yang penting konstruksi kalimat tertata dengan logis. Untuk itu, perhatikan kohesi antarklausa serta koherensi antarkalimat, dan terapkan ekonomi kata.
—j—
Korupsi: cobaan dari Tuhan.
Uang sogok: bagi-bagi rezeki.
Memerkosa: tergoda bisikan setan.
Harga naik: harga disesuaikan.
Dipecat: alih profesi.
Putus cinta: me time.
Jelek lagi jorok: kecantikan dari lubuk hati.
Hoaks: fakta alternatif.
Seks komersial: hubungan dengan benefit.
—j—
Aku taksuka mengedit foto liputanku pakai Photoshop atau aplikasi semacamnya, seperti kebiasaan wartawan foto profesional, karena bisa ketagihan. Makin diedit, makin keren, lalu diedit lagi. Lama-lama jadi norak, “terlalu indah”, dan makin jauh dari “kebenaran jurnalistik”.
Dalam fotografi jurnalistik: foto terbaik tak harus indah, dan kamera terbaik ialah kamera (apa pun) yang kaupakai.
Fotograf bayi pengungsi oleh wartawan Warren Richardson ini adalah “World Press Photo of the Year” 2016 meskipun kasar (ISO 6400), takfokus (1/5), dan kabur.
BAHASA INDONESIA
berembus, bukan berhembus
karier, bukan karir
berahi, bukan birahi
macis, bukan mancis
tepercaya, bukan terpercaya
beperkara, bukan berperkara
memerinci, bukan merinci
wawas diri, bukan mawas diri
tribune, bukan tribun
elite, bukan elit
berengsek, bukan brengsek
terimpit, bukan terhimpit
membeludak, bukan membludak
mengadang, bukan menghadang
perusakan, bukan pengrusakan
prinsipiel, bukan prinsipil
mengimbau, bukan menghimbau
merespons, bukan merespon
mengentak, bukan menghentak
dimungkiri, bukan dipungkiri
andal, bukan handal
antre/mengantre, bukan antri/mengantri
Sumatra, bukan Sumatera
Lebaran, bukan lebaran
Idulfitri, bukan Idul Fitri
—j—
“Pengakuan Dosa Aktivis Pemeras.” Saya sangat puas menulis kejahatan pemilik media ini hingga 4.503 kata, dan memakinya “jahanam, bajingan”, yang terbit dalam tabloidnya sendiri, dan saya mendapat honorarium tulisan Rp2 juta.
https://t.co/Y1cTLR3Wts
Tugas wartawan: mencari dan memverifikasi kebenaran berita, bukan mengutip siaran pers dan menjiplak isi media sosial. Dulu reporter koran berpeluh darah mengejar berita. Kini reporter media siber cukup duduk di kafe bermodal tombol Ctrl+C dan Ctrl+V. Wartawan generasi sontoloyo!