I also want to say how proud I am of your performance and the message you shared. It meant a lot and deepened my respect for you even more.
You might not remember me, but truly, I’m still one of The Waterson's biggest fans.
Warm regards,
Batara
To: @ofcwaterson
Dear The Waterson (Dali, Aiden, Bramesta),
I still remember the first time I attended one of your gigs and had the chance to capture those incredible moments throughout the concert.
Honestly, it still gives me the same feeling as it did back then—especially when I saw you perform last Saturday. Me and Rhea always enjoy the music you bring to the stage.
“Alright, let’s go!”,
Sahutnya yang seketika disambut dengan hentakan drum, membuka penampilan The Waterson selanjutnya.
Genjrengan gitar yang enerjik dan dentuman bass, seakan-akan mencoba mengambil alih ritme detak jantung yang mendengarnya. Sang vokalis pun bahkan menggoyangkan badan dan kepalanya kesana kemari menikmati intro lagu.
Joan Dalí, sang vokalis, kini sudah dengan gitar listrik di depan abdomennya.
Kepalanya sudah tidak lagi memakai topi koboi, memamerkan rambut hitam panjang seleher yang tampak basah karena keringat. Ia menunduk sejenak dengan kaki kanan yang sibuk menginjak efek gitar pada pedal board miliknya.
Dan saat ia kembali menegakan kepala, jemari tangan kirinya menyisir rambut basah itu dengan menggoda dengan kedua lengan yang mengkilap karena basah. Terpampang pose sensual itu dengan besar di layar.
Ternyata Dalí mengabari semuanya melalui sambungan telepon, meski koin yang ia masukan tidak cukup dan telepon koin itu harus ia pukul dengan keras.
“You don't remember what I said
But you'll remember what I did..”,
Lantunnya ‘tuk mematri adegan sandiwara telepon umum itu di ingatan para penggemar.
( @VINESTLIE )
“I've got a burning feeling deep inside of me and don't know where to put it..”,
Lelaki dengan banyak tindik di telinganya itu bernyanyi dengan gagang telepon yang ia dekatkan pada telinga seakan ia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Lampu panggung berwarna biru menyatu dengan kegelapan. Malam sudah di Dalhalla. Cahaya biru yang menyinari Samantha, Bramesta, Aiden dan musisi pembantu yang memainkan gitar disaat mereka memainkan lagu berjudul ‘Who Laughs Last?’.
Bukan hitam putih, tetapi hitam biru yang tengah mencari satu anak manusia lainnya yang seharusnya ada.
Joan Dalí, sang vokalis.
Hentakan drum Bramesta yang rapi dan bertempo mengiringi permainan yang lain. Ketukan demi ketukan yang diciptakan oleh stik drum dan kakinya yang menghentak snare drum kian membuat lagu terdengar membara.
“I'm gonna leave that city far behind and get a long, long way from there..”,
ㅤ
ㅤ"𝘊𝘳𝘢𝘵𝘦𝘳𝘴 𝘨𝘰𝘶𝘨𝘦𝘥 𝘣𝘺 𝘨𝘪𝘢𝘯𝘵 𝘩𝘶𝘯𝘬𝘴 𝘰𝘧 𝘳𝘰𝘤𝘬 𝘧𝘭𝘶𝘯𝘨 𝘧𝘳𝘰𝘮 𝘸𝘩𝘰 𝘬𝘯𝘰𝘸𝘴 𝘸𝘩𝘦𝘳𝘦.”
Ia ucapkan dengan napas yang tak sepenuhnya milik manusia. Seolah sedang mengulangi mantra yang ditemukan di jok belakang mobil yang terus melaju.
ㅤ
ㅤ
Pun kini, teriakan para penonton semakin meriah di saat bayangan seorang bassist terpampang pada tirai. Terlihat begitu lihai dalam membumbui instrumental 𝘳𝘰𝘤𝘬 malam ini, rasanya semangat Samantha turut berkobar.
ㅤ