info aja nih ada kabar baik datang...
untuk pertama kalinya Indonesia raih medali emas di dalam lomba panjang tebing sedunia
Yg menarik adalah beberapa pendukung negara polandia membalikkan benderanya tuk support beliau di podium.. dan waktu lagu indonesia raya
udah di fase di support negara lain
bukan negara sendiri njirrr
bahkan dia bela belain pake brand lokal jaket arei
selamat buat bang putra tri ramadani
mengharumkan nama bangsa di tengah huru hara ini
Guys Seskab Teddy baru bilang pemerintah tidak akan biarkan rakyat hadapi kesulitan sendiri.
Negara hadir.
Negara bekerja.
Negara berpihak kepada rakyat.
Gw tidak mau debat niatnya.
Gw mau debat faktanya.
Karena di hari yang sama minggu yang sama pernyataan itu keluar ini yang terjadi di lapangan.
Transfer ke daerah dipotong dari 30 persen jadi 17 persen.
Hampir setengahnya hilang.
Yang kena langsung adalah anggaran pendidikan dan kesehatan di daerah.
Jusuf Kalla sendiri yang bilang ini berbahaya.
Anggaran pendidikan nasional dipotong dalam skema efisiensi.
Bukan anggaran perjalanan dinas pejabat yang dipotong duluan.
Bukan pengadaan kendaraan dinas.
Tapi pendidikan.
Subsidi BBM mau dibikin tepat sasaran di saat harga minyak dunia sedang di titik tertinggi.
Timing paling buruk untuk kebijakan yang memang perlu dilakukan tapi tidak perlu dilakukan sekarang.
Koperasi merah putih 7 bulan masih minus.
Solusinya bukan evaluasi model bisnis tapi larang Indomaret dan Alfamart buka cabang baru.
MBG masih jalan dengan anggaran puluhan triliun. Tapi belanja makanannya cuma Rp242 miliar paling kecil dari semua pos.
Kendaraannya Rp1,39 triliun.
Dan Danantara baru mau terbitkan surat utang Rp7 triliun dengan bunga 2% di bawah deposito bank mana saja.
Teddy bilang sudah renovasi 16.000 sekolah dan toilet.
Sudah bangun 218 jembatan gantung.
Itu bagus.
Sungguh bagus.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi Gen Z kek gw yang Teddy maksud itu bukan tidak tahu berterima kasih atas jembatan gantung.
Mereka tahu bahwa jembatan gantung dan toilet sekolah tidak bisa menjawab pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa lulusan sarjana masih jadi driver ojol karena industrinya tidak ada yang menyerap?
Kenapa kelas menengah turun 9,5 juta orang dalam 5 tahun?
Kenapa pegadaian dan pinjol omzetnya meledak tanda orang sudah makan tabungan?
Kenapa di tengah semua tekanan ini yang dipotong justru yang langsung menyentuh rakyat?
Kami tidak butuh pernyataan yang menenangkan hati.
Kami butuh kebijakan yang angkanya masuk akal. Prioritas yang logis.
Negara hadir itu bukan slogan.
Itu dibuktikan dengan keputusan yang dibuat ketika kondisi sedang paling berat.
Dan keputusan itu yang sekarang sedang kami tunggu.
Sumber: Liputan 6
Anda kenal Ponpes Al Khoziny. Pesantren tua, tapi manajemennya baru.
Senin sore. Pukul tiga. Ratusan santri sedang salat Asar berjemaah di musala. Tempat suci. Tapi tempat itu berubah jadi kuburan beton. Bangunan tiga lantai itu ambruk.
Korban jiwa. Luka parah. Semua karena apa? Bukan takdir. Ini murni dosa konstruksi.
Sejarahnya begini: Bangunan itu aslinya direncanakan hanya satu lantai. Tapi, maunya pengelola lain. Terus ditambah ke lantai dua, lalu ke lantai tiga. Tanpa hitungan. Pondasi yang harusnya menanggung beban satu lantai, dipaksa menanggung tiga kali lipat.
Ini namanya meremehkan fisika.
Puncaknya di hari nahas itu. Saat pengecoran lantai paling atas dilakukan, penopangnya jebol. Tak kuat menahan beban. Begitu satu titik ambrol, sisanya ikut menyerah. Runtuh total.
Apa buktinya kelalaian?
* Tidak Ada IMB. Bupati Sidoarjo sendiri yang bilang. Lembaga pendidikan sekelas ini membangun tanpa izin. Legalitas diabaikan.
* Aktivitas Jalan Terus. Saat beton basah di atas, nyawa santri di bawah dijadikan taruhan. Mereka salat tepat di bawah risiko tertinggi pembangunan. Mana logikanya?
Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah tragedi kesembronoan massal.
Para ahli sudah bersuara: Kelalaian kontraktor, dan kelalaian pengelola pesantren. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas kematian yang tak perlu ini. Mereka tahu ini bangunan tua yang dimodifikasi tanpa standar. Tapi mereka memilih diam.
IMB diabaikan. Ilmu teknik diabaikan. Keselamatan diabaikan.
Sidoarjo kini punya monumen duka baru: Reruntuhan yang mengajarkan, bahwa membangun rumah ibadah pun harus pakai akal sehat, bukan cuma niat.
Setelah ini, apa jaminan bahwa pesantren dan sekolah lain tidak akan mengulangi "dosa teknis" yang sama?
Halo @prabowo Kemarahan warga tidak jatuh dari langit. Ia akumulasi dari suara yang diremehkan, janji yang diingkari, dan luka yang dibiarkan menumpuk. #ResetIndonesia