kekuatan keluarga andara rapiamat !
tidak lupa waktu kasus adiknya selingkuh via apk gojek, sepupunya yang anaknya kaga diakuin, emaknya yang jadi selingkuhan, dan doi pecat pegawai bank karena spill tf’an att ke emaknya..
semua hilang bak ditelan wowo:))) yap!
#intinyadeh Kristia Budiyarto (Kang Dede) yg dikenal sbg buzzer Jokowi, jd komisaris PT Pelni di 2020.
Di web Pelni: lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Unhas. Tp dicari di PDDikti gak ada.
Unhas: gak tercatat sbg alumni/ mahasiswa. Unhas gak ada Fakultas Ilmu Komunikasi.
(1/2)
prabowo lagi lagi masuk media asing karena:
- Bank asing pilih cabut daripada ikut agenda Prabowo
- 11,5 triliun rupiah juta ditarik Citigroup, StanChart, HSBC sejak 2024
- OJK diduga lobi bank untuk biayai MBG & Kopdes
- Sebab takut kebijakan Prabowo terlalu dikuasai negara
- Danantara minta pinjaman $10 miliar bank merasa ditekan
- Rupiah melemah makin tidak menarik simpan uang di sini
- Danantara jual obligasi bunga 2% ke konglomerat
- Danantara dikecualikan dari pengawasan pajak & hukum
- danantara tidak pernah rilis laporan keuangan
- analis khawatir jadi sarang uang kotor
“Endasmu.. eh eh sorry sorry.”
Dia tuh tau rakyat mengkritik ucapan ga pantes dia saat pidato, tp di sini sengaja banget diucapkan dg entah apa maksud dan niatnya silakan nilai sendiri 😔💔
Terus diakhiri “Emang gw pikirin?”
Anjirlah ga ada harapan lagi klo gini mah 😩
#intinyadeh 2 calon manager Koperasi Desa & Kampung Nelayan Merah Putih meninggal saat latihan militer.
- Yonanda Muhammad Taufiq, meninggal di Baturaja: alami penurunan kesehatan, cardiac arrest (17 Jun)
- Anisa Muyassaroh, meninggal di Balikpapan: heat stroke (18 Jun)
(1/2)
dia dan orang-orang yang ketawa jahat banget sih udah bukan tone deaf lagi tapi emang kejam, dan lebih serem lagi biasanya hal kyk gini cuma bisa diliat dan dibaca lewat dystopian genre, sekarang bisa liat dan denger secara asli
🚨 TAU GA? Komisaris Pertamina bernama Ginka Febriyanti itu berumur 27 tahun 🤯
Ginka merupakan relawan pemenangan Prabowo-Gibran 2024, memerintahkan 70 massa untuk #demo 28 Agustus 2025.
Ga ada background di industri energi!
Kalian di umur 27 tahun, jd apa? #IndonesiaGelap
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
SI FUTURE RAPIST INI KRN DIBEBASIN JD MASIH BS UPDATE2 MASIH BISA KESANA KEMARI MASIH BISA DINNER FANCY SAMA ISTRINYA HEBAAATTT
“tahun yang sangat dar der dor”
KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI ANGGAP SE GAMPANG INI ADUUH EMG BENERAN TOBAT KALO MATI AJA NIH SI IRFAN RAFI FIRMANSYAH
PIUTANG PLN KE PEMERINTAH NAIK 156%.
ARTINYA PEMERINTAH NUNGGAK BAYAR KE PLN SEHINGGA PLN TIDAK PUNYA DUIT.
TIDAK PUNYA DUIT SEHINGGA TIDAK BISA BEKI BATUBARA
TIDAK BISA BELI BATUBARA, SUPLAI LISTRIK BERKURANG.
SIAP2 MENYALA BERGILIR
BUKAN PEMADAMAN BERGILIR
Dari foto laporan keuangan PLN yang beredar, ada satu angka yang langsung mencolok begitu kamu lihat.
Piutang dari Pemerintah tercatat Rp 110,738 triliun di periode terbaru, naik drastis dari sebelumnya Rp 43,290 triliun. Kenaikannya lebih dari 156% dalam satu periode.
Bukan naik tipis. Ini lonjakan yang sangat besar dan perlu dijelaskan.
PLN adalah perusahaan negara yang menjual listrik ke rakyat dengan tarif yang tidak selalu mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Untuk pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, PLN menjual listrik jauh di bawah harga pokok produksinya.
Selisihnya ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi dan kompensasi.
Tapi pemerintah tidak selalu bayar langsung.
PLN dulu bayar dulu ke produsen energi, ke kontraktor, ke supplier batu bara dan gas, lalu nagih ke pemerintah belakangan. Tagihan yang belum dibayar pemerintah ini yang dicatat sebagai "piutang dari pemerintah" di neraca PLN.
Sederhana:
PLN sudah keluar uang, tapi pemerintah belum bayar.
KENAPA ANGKANYA BISA MELEDAK SEGITU?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan lonjakan ini.
pertama adalah program diskon listrik 50% Januari-Februari 2025. Pemerintah mengumumkan diskon tarif listrik untuk seluruh pelanggan di bawah 2.200 VA selama dua bulan. Biayanya ditanggung negara tapi dibayar PLN dulu. Total tagihannya saja sudah Rp 13,61 triliun hanya dari program dua bulan itu.
kedua adalah mekanisme pembayaran yang lambat. Selama ini pemerintah membayar kompensasi ke PLN per tiga bulan atau bahkan per enam bulan sekali. Artinya PLN harus talang dulu berbulan-bulan sebelum uangnya balik. Semakin lama jeda bayar, semakin besar piutang yang menumpuk.
ketiga adalah subsidi dan kompensasi yang terus membengkak. Pada 2025, realisasi subsidi dan kompensasi listrik sudah menyentuh lebih dari Rp 210 triliun. Sementara tarif dasar listrik tidak naik karena alasan politik. Selisih antara biaya produksi dan tarif yang dibayar rakyat inilah yang jadi beban yang terus menumpuk.
DARI MANA PEMERINTAH BAYARNYA?
Sumber pembayarannya ada di APBN, tepatnya dari pos Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi. Pada 2024 saja, total subsidi dan kompensasi energi (BBM, gas, listrik, pupuk) mencapai Rp 434,3 triliun. Khusus listrik yang dikompensasi, salah satu contohnya adalah pelanggan 900 VA non-subsidi yang mendapat kompensasi Rp 400 per kWh, artinya dari harga seharusnya Rp 1.800 per kWh, mereka hanya bayar Rp 1.400 per kWh. Selisih Rp 400 itu ditanggung APBN, dan ada 50,6 juta pelanggan yang masuk kategori ini.
Masalahnya bukan soal ada atau tidak anggarannya.
Masalahnya adalah timing pencairannya.
Komisi XI DPR sempat melaporkan bahwa kompensasi kuartal I-2025 untuk PLN senilai Rp 27,6 triliun belum dibayarkan.
Bahkan ada tagihan 2024 yang dibebankan ke APBN 2025. Jadi tagihan lama belum lunas, tagihan baru sudah datang.
PLN yang punya piutang besar tapi belum cair ini berdampak ke kemampuan perusahaan membayar supplier dan produsen listrik swasta tepat waktu.
Kalau pembayaran ke IPP terlambat, ada risiko gangguan pasokan.
Dalam jangka panjang, ini juga mempengaruhi rating kredit PLN dan kemampuan pinjam untuk investasi infrastruktur.
Untuk kita sebagai pelanggan, selama tarif listrik tidak disesuaikan dengan harga pokok produksi, maka subsidi dan kompensasi akan terus menggelembung, piutang PLN ke pemerintah akan terus naik, dan beban APBN akan semakin berat.
Ada wacana perbaikan skema pembayaran menjadi bulanan agar piutang tidak menumpuk terlalu lama.
Tapi selama tidak ada reformasi tarif dan pembenahan kontrak IPP, akar masalahnya tetap ada.
Rakyat bayar murah.
PLN tombok dulu.
APBN yang bayar belakangan
Dan siklusnya terus berulang setiap tahun
APAKAH KEDEPANNYA BENERAN GELAP?
Saya rangkum penjelasannya:
Negara menunggak hutang ke PLN.
PLN jadi kurang duit buat beli batu bara.
Sumber batu bara kurang -> pemadaman bergilir.
Pemerintah nunggak hutang kenapa??
Uang buat bayar hutang ini dari APBN.
Yang mana APBN paling banyak buat program mega bintang apa sodara sodara????
💚 sumpah beneran kurang ajar, maaf banget ampe ku bawa ke base gini tapi kelakuan rezim wowo ini bener" diluar nalar, dakjal pun kayanya kalau udah keluar jadi gapunya banyak kerjaan lagi, soalnya udah hampir diangkut semua ama kelakuan dzolim mereka👎
tandain nih ZAHRA BINTA GHANIA SAPUTRI jurusan BAHASA ASING TERAPAN D4 UNDIP angkatan 2024, perempuan yang juga merupakan seorang RAPIST ENABLER. biarkan twitt ini menjadi jejak digitalmu, may u rot in hell
Dirut PLN : kami minta maaf atas pemadaman listrik bergilir jawa bali karena ketersediaan batu bara menipis
RAKYAT TELAT BAYAR SEJUTA ALASAN LISTRIK DI PUTUS
PERUSAHAAN LISTRIK MONOPOLI MALAH KAGAK ADA DUIT BELI BATU BARA ?
DUIT PEMBAYARAN KWH RAKYAT DI KEMANAKAN ? yap!
SKANDAL BANK BNI DIDUGA MELIBATKAN ORANG DALAM
Isi tabungan seorang nasabah Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Cabang (KC) Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mendadak hilang.
Bayangkan wak tak tanggung-tanggung, isi saldo milik Hermawati (48 tahun), warga asal Kecamatan Toribulu tersebut hilang secara misterius sebesar Rp3,3 miliar.
Kasus tersebut bermula ketika rekening tabungan miliknya mengalami transaksi mencurigakan. Saldo yang semula mencapai Rp 4,566 miliar terkuras hingga tersisa sekitar Rp 700 juta.
Kuasa hukum Herawati, Natsir Said, mengungkapkan bahwa perpindahan dana secara ilegal tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Uang senilai Rp 3.362.791.588 keluar dari rekening kliennya secara bertahap pada 25 Mei 2026 pukul 21.30 WITA hingga 26 Mei 2026 pukul 07.00 WITA.
“Hanya dalam waktu sekitar sembilan jam, uang keluar dari rekening klien kami tiga miliar lebih. Klien kami tidak pernah melakukan transaksi apapun di waktu tersebut,” ujar Natsir, Selasa (9/6/2026).
Natsir merinci, pelaku menguras rekening korban menggunakan skema transfer berulang dengan nominal kecil, yakni berkisar Rp 7juta hingga Rp 10 juta. Tercatat, hampir 3.000 kali transaksi transfer terjadi hanya dalam kurun waktu sembilan jam. . . .