Begitulah sufi, tanpa pelajaran, tanpa buku, dan tanpa keahlian.
Mereka mengilap dada mereka dari kerakusan, kebakhilan, dan kebencian.
Kebeningan cermin adalah sifat hati. Bentuk-bentuk dan lukisan-lukisan tanpa batas terpantul dan terlihat di dalamnya.
@Adtarie Contoh lain bahwa hidup setiap orang bergerak dengan kecepatan berbeda. Ada kalanya kita melambat, ada kalanya kita mempercepat langkah.
Intinya adalah jangan berhenti, tetaplah maju walau dengan langkah-langkah kecil yang tertatih.
"POSTULATUM POLITIK"
Ideologi politik adalah obyek buta huruf. Mereka yang kecanduan tidak dapat memahami apa pun selain yang sesuai dengan keinginannya. Ini soal laku yang selalu saja terjadi, bahwa banyak politisi yang berusaha memuaskan diri dengan mengerahkan manusia sebanyak mungkin. Menculik massa dengan kekuatan uang dan menjadikan mereka sebagai robot yang dikendalikan untuk mencaci dan memuji sesuai "fitur dalam tombol".
Politik kadang memaksa rasa kecewa untuk terus berfermentasi. Kekalahan demi kekalahan politik semakin meninggikan "kadar alkohol" marah dan dendam kepada para pemenang. Kebenaran seringkali dikonversi paksa untuk menjadi kesalahan dan ditampilkan kepada publik secara habis-habisan. Lalu menghasut masyarakat untuk membenci, memintanya keluar rumah secara kolosal dan meneriakkan; "he is our common enemy, impeach him now!!"
Negara memang tidak selamanya melahirkan pahlawan, sesekali ia melahirkan para pengkhianat. Sebuah situasi yang dalam bahasa John Ralston Saul dalam Voltaire's Bastards ditulis; "files of individuals who consumed by the pessimism and aggressivity", orang-orang yang termakan oleh (hasutan) pesimisme dan agresifitas. "Mereka adalah 'para bajingan' yang tidak lebih dari sekumpulan orang kebingungan yang mencoba keluar dari marginalitasnya dengan melawan arus utama secara untung-untungan", tulis Saul.
Kini politik selalu sama. Menganggap lawan tetap lawan jika tak ada kesepakatan. Seseorang akan tetap mencibir pemenang jika gelanggang demokrasi selalu memberinya kekalahan dan siklus politik menyuguhkan keterpurukan berlapis-lapis. Dalam perang manusia hanya mati sekali, dalam politik seseorang bisa mati berkali-kali.
Ketersingkiran politik seringkali menjebak orang menjadi penghasut, dan penghasut hanya mencetak para pengkhianat. "Siapapun yang dipenuhi ambisi politik berlebih, menghasut orang lain dengan sentuhan yang paling prinsip dan dogmatis untuk menjatuhkan lawannya, pada dasarnya dia sedang pesimis dengan kemenangannya sendiri", tulis Saul dalam bukunya yang lain, On Equilibrium.
Begitu..