@aik_arif Oh mungkin ini TNInya baru bisa patroli sampe aceh yang sana-sana setelah jalan dan jembatannya diperbaiki warga 🗿
Terimakasih warga sudah urunan perbaikan jembatan dan jalan sendiri. Kalian hebat!
Bayangkan kamu seorang dokter dengan spesialisasi onkologi. Which one gonna help you, fiction or non-fiction?
Sebenernya sangat setuju dengan ini (ya ini paper non-fiksi, ilmiah, bukan masalah setuju ga setuju sih mestinya, hahah). So, I mean this matched my personal reading experience.
Nonfiksi merupakan sumber informasi yang "terjaga" kebsahannya. Adalah saripati yang diperas melalui metodi ilmiah yang objektif, replikatif, dan empiris. It provides truths, bukan cerita indah atau tidak indah.
Nonfiksi bisa sangat membantu menjawab "How" atau mungkin "Why" dengan tepat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Tapi fiksi, membantu menjawab "What would it feel like?"
Sekarang kembali ke awal. Bayangkan kamu seorang dokter onkologi.
Textbook histologi dan paper tentang efektifitas VAC regimen bisa membantumu menentukan medikasi yang tepat pada pasien dengan kanker rabdomiosarkoma.
Tapi "Surat Kecil Untuk Tuhan" akan memberimu gambaran tentang seberat apa beban mental pasienmu yang berusia 13 tahun dalam menghadapi sesi-sesi kemoterapinya.
Dan demikianlah kamu, dengan keduanya, menjadi dokter yang baik.
Guys, please read fiction!! 🥹📚
Fiction can actually improve your critical thinking. Lewat cerita fiksi, kita diajak buat imagine berbagai kemungkinan, analyze setiap keputusan karakter, lalu compare situasinya dengan dunia nyata.
Kamu jadi kepikiran, "What if this happened in real life?" Kira-kira problem solving-nya bakal sama nggak? Apa orang-orang akan mengambil keputusan yang berbeda? Atau justru ada solusi yang lebih baik?
Jadi, baca fiction itu bukan cuma buat hiburan. It also trains you to think critically, see different perspectives, and understand people a little better.
I have this book. It’s been sitting on my TBR list. To be honest, I didn’t buy it because of the story. I had never even read the synopsis. I bought it simply because so many people seemed to love it, so I thought it must be good.
Then, two nights ago, around midnight, a feeling (or feelings?) was bothering me. A mixture, a strange blend of hope and fear. Life has been a little hard lately. So I decided to read something a bit “mental” to cope with it, and at random, I picked this book from my TBR pile.
I found out it is a masterpiece.
I’ve only read the beginning so far, but it was beautiful. Somehow, it perfectly matched the mixture of emotions I was carrying.
But there was something else that connected me to this book: the library.
It reminded me of my own imaginary library. It’s a lucid-dream kind of thing.
I don’t remember when it started, but I’ve had this imaginary library for as long as I can remember. It’s a place where I store my memories, knowledge, moments, and pieces of myself. It’s not bright foggy or cloudy like the way I imagine Nora’s library. Mine is dark yet warm, old yet magnificent. There are rooms for every genre of collection: childhood, love stories, me and my dad, and so on.
And there is Mustafa.
The librarian.
He’s an old man, but a very kind one, with a deep, bassy voice. He’s thin and tall, as tall as I am, almost 190 cm I think. He doesn’t talk much. Most of the time, he simply gives me tours and helps me find the books I’m looking for.
The books themselves are collections of things inside my head. Some are thick, others consist of only two or three pages. But the thick ones are rarely complete. Many have blank pages. To me, that means I still need to explore more before those books can be finished. Ofcourse if my time in this world is enough to complete them.
Reading Matt Haig reminded me that I have my own sanctuary.
A place to rest.
A place to stop for a while.
A place to reflect.
A place to be at peace.
And it has been here all along, inside myself.
The truth is, I haven’t visited my library in a very long time. I’m not even sure when my last visit was. Back when I was in university, I spent a lot of time exploring it. But I like to think that Mustafa has always been there, keeping watch for me.
Keeping it clean.
Making sure the lights stay on.
I think it’s time I paid him a visit.
BAPAK IBU Sekalian, LADIES & GENTLEMEN, gambar pertama yang anda sekalian bisa lihat di postingan saya ini adalah human embryo, blastocyst state, D5, dengan grading good.
Adalah awal mula kehidupan. “Jabang bayi” berusia lima hari semenjak dua gamet, sperma dan sel telur, selalu keduanya dan tidak pernah salah satunya saja, disatukan di lab IVF tempat saya berkerja saat ini (video merupakan contoh footage proses penyatuan gamet dengan metode ICSI).
Adalah juga diri kita dulu, 5 atau 6 hari setelah bapak ibu kita berhubungan intim.
Dia merupakan harapan banyak orang. Harapan pasien yang telah menahun tak mendapatkan momongan lantas mendaratkan harapannya pada program bayi tabung. Adalah jabang bayi harapan segenap klinisi yang membantu, para embriolog yang bekerja dengan titi di lab, dan segenap supporting team yang sudah gemati menemani.
Bisa kah kita tahu “jenis kelaminnya”? Bisa jika kita lakukan PGTA, satu tes untuk menilai kelengkapan kromosom pada embrio. Salah satu informasi yang bisa kita peroleh adalah kita bisa tahu apakah dia berkromosom seks XX (perempuan) atau XY (laki-Laki). Secara morfologis sama persis, secara genetik berbeda set kromosomnya. Dua perkara ini, persamaan dan perbedaan nyatanya selalu melekat bahkan dari awal kehidupan ini.
Lalu mereka, cah ayu dan cah bagus ini, yang belum saatnya ditransferkan ke dalam rahim, kami “tidurkan” dalam tabung-tabung cryostorage, yang ada di gambar kedua.
Semua dapat “fasilitas” yang sama. Tidak ada “Tabung Khusus Wanita” dengan label berwarna pink untuk menyimpan embrio yang khusus sudah teridentifikasi berkromosom seks XX. Tidak pula embrio berkromosom XY dibariskan di barisan shaf depan. Semua ditangani dengan penuh kehati-hatian dan kasih sayang yang sama.
Pun ketika terlahir dan tumbuh mendewasa. Yang Perempuan diajari memakai pembalut, yang laki-laki diajari membersihkan kotoran di balik kulup penis. Sampai dengan di sini masing-masing dari kita tak pernah saling bersengketa.
Lantas ada kalanya kita menajam. Patriarki dan feminisme. Masing-masing kadang lucu. Pria kadang merasa superior, ingin jadi penentu, yang jadi subyek, tapi haus untuk “dihormati”. Yang berarti jadi obyek akan sikap hormat. Pun perempuan, kadang “kita ini bukan obyek lhoh ya” namun juga “when ya aku dicintai kayak gitu”. Yang berari jadi obyek akan sikap cinta.
Jika interaksi itu predikat, maka akan ada subyek dan obyek. Ada kalanya suami memeluk istrinya, ada kalanya istri mencium suaminya. Ada kalanya anak dimandikan ayahnya, ada kalanya ia disuapi ibunya.
Hi, aku kolesterol baik, yang sedang mengembalikan diversifikasi pangan ke dalam piring makanku! 🐛
No, it’s not “save the best for the last” kind of thing.
Tiwas entek nembe nemu.
Hi, aku kolesterol baik, yang sedang mengembalikan diversifikasi pangan ke dalam piring makanku! 🐛
No, it’s not “save the best for the last” kind of thing.
Tiwas entek nembe nemu.