aku pandangi tomyam itu dengan nada perut keroncongan. sampai tanpa aku sadari, jatuh setetes air mata di pipi. air mata yg lebih dulu keluar, ketimbang kata-kata yg masih kutahan
tomyam yg sejatinya fine aja. tapi buatku yg ga terbiasa makan tomyam, agak janggal. walau sebenarnya aku justru sering masak tomyam kalau suami di rumah krn tomyam masuk ke kategori menu yg kalorinya available buat suami yg diet
waktu itu komunikasiku dengan suami lg ga bagus. dan dia tau kondisiku lg ga 100% fit dan waktu pulang ngantor dia inisiatif sekalian beliin aku makan. apresiasi setinggi-tingginya atas hal itu
katanya Tuhan ga akan memberikan cobaan yang melebihi kekuatan makhluknya. tapi ini kok udah angkat bendera putih, ampun-ampunan cobaannya tetep masih ada ya?