Kuletakkan di sela rak kayu berdebu, membiarkannya tenang menjadi bagian dari riwayat yang utuh. Tidak ada penyesalan, hanya rasa terima kasih. Di sebelahnya masih ada ruang kosong, dan tanganku sudah tak gemetar untuk menjangkau judul yang baru.
Cahaya jendela sore jatuh di atas sampul tebal yang baru saja kututup. Tidak ada suara bantingan, hanya bunyi pelan tanda naskah ini telah rampung. Rasanya bukan sesak, melainkan hangat yang menjalar—seperti sesap teh chamomile.
Tokoh di dalamnya tidak jahat, ia hanya selesai memainkan peran. Kita berhenti bukan karena naskahnya cacat, tapi karena ceritanya memang sudah genap sampai di sini. Tidak perlu merobek halaman mana pun untuk bisa tersenyum mengingat alurnya.
Maaf, Nak. Pahlawan gagah yang kau lukis dengan krayon itu tak pernah datang. Aku justru tumbuh jadi orang dewasa yang mudah gemetar. Jubah itu tidak ada; pagi ini aku cuma memakai kemeja kusut dan membawa tubuh yang sering ketakutan.
Namun dengar, jantung ini masih berdetak. Kau boleh kecewa aku tak jadi hebat, tapi izinkan aku memelukmu sebentar. Kita tidak terbang menembus awan, tapi kita berhasil selamat melewati malam-malam panjang. Dan bagiku, itu sudah cukup.
Kita semua punya musim sendiri untuk merasa berguna; aku hidup justru saat langit menangis. Di tengah deru hujan yang membasuh kota, siapa—atau benda apa—yang menemanimu agar tak merasa runtuh sendirian?
Di sudut pintu, aku hanyalah batang bisu berselimut debu. Terik yang dipuja dunia justru membuatku tak terlihat. Aku melipat diri, sabar menanti langit berubah kelabu. Sebab hanya saat muram itulah, warnaku benar-benar ada.
Tulang-tulangku meregang, kainku mekar memeluk udara. Di luar dingin menusuk, namun di gagangku tersimpan hangat genggaman tuan yang mencari suaka. Aku menjadi perisai, menari di antara jutaan jarum air agar bahunya tetap kering.