Setelah dibubarkan polisi dari depan DPR RI, bus AMPB bergerak menuju Tanah Abang dengan pengawalan ratusan pengemudi ojol.
Pengawalan swadaya ini memperlihatkan solidaritas antarmasyarakat sipil yang terus terjalin di tengah rangkaian aksi 27 Agustus.
BACA BENTAR…
Keren, anda Mas Tiyo 👍🏻
Di tengah hiruk-pikuk perkuliahan, target IPK, magang, dan rencana masa depan, ada satu ruang sunyi yang jarang dibicarakan: ruang kegelisahan. Kegelisahan tentang arah negara, tentang kebijakan yang terasa jauh dari harapan dan realitas sehari-hari, tentang masa depan yang tampak semakin kompetitif namun tidak selalu terasa adil.
Dari ruang sunyi itulah suara Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, muncul. Apa yang ia lakukan bukan sekadar menyampaikan kritik. Ia sedang merepresentasikan kecemasan yang selama ini banyak orang rasakan tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Karena apa? Karena kebodohan yang membuat mereka berpikir bahwa ada yang salah di negeri ini tapi tidak tau cara menjelaskannya bagaimana.
Ketika ia berbicara tentang keadaan negara, sebenarnya ia sedang berbicara tentang keresahan generasi: tentang lapangan kerja yang makin sempit, tentang biaya hidup yang terus naik, tentang rasa khawatir apakah kerja keras saja cukup untuk bertahan.
Tidak bisa dipungkiri itulah yang dirasakan generasi produktif khususnya Gen Z. Berdiri di posisi Tiyo bukanlah hal yang mudah. Menjadi mahasiswa biasa mungkin lebih tenang. Tidak perlu disorot. Tidak perlu diserang opini. Tidak perlu dituduh macam-macam. Tetapi memilih menjadi juru bicara keresahan berarti siap menghadapi konsekuensi: disalahpahami, dipelintir, bahkan diserang katakternya.
Dan di situlah letak keberaniannya, bukan karena ia tidak takut, tetapi karena ia memilih tetap berjalan meski ada rasa takut.
Gerakan mahasiswa selalu lahir dari satu hal yang sama: rasa memiliki terhadap negeri ini. Bukan karena merasa paling benar apalagi merasa jagoan agar dinilai keren, tetapi karena merasa terlalu peduli untuk diam. Ketika ada anak muda yang berani bersuara sekeras itu, itu bukan hanya soal politik. Itu adalah ekspresi dari identitas generasi yang tidak ingin masa depannya ditentukan tanpa partisipasi.
Sc: adiyasin_
Salah satu siswa kelas XI SMAN 72 Jakarta Utara menyebutkan, bom rakitan atau bom molotov yang ditemukan di masjid sekolah diduga dibawa oleh siswa yang kerap di-bully atau dirundung siswa lain.
"Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. Tadi saya lihat ada tiga jenis bom dan hanya dua yang meledak," kata Sela, Jumat (7/11).
Menurut dia, ledakan terjadi saat khutbah Jumat selesai dan akan dilanjutkan dengan Iqomah. Saat itu, ada ledakan besar terjadi.
"Saya di selasar masjid dan tidak terkena. Baju saya kotor karena menolong teman," katanya.
Ia mengatakan orang yang ikut Shalat Jumat di sini merupakan siswa, guru dan orang yang ada di sekolah saja.
Sela mengaku tidak ada tanda-tanda akan terjadi ledakan karena pada pagi hari semua berjalan baik-baik saja.
"Kami tadi ikut kegiatan Adiwiyata di pagi hari," ujarnya.
Salah satu guru, Toto mengaku berada di belakang imam dan terkejut mendengar ledakan yang cukup besar.
"Semua bubar dan sejumlah siswa terluka," katanya seperti dilansir Antara.
Siapa ini wartawannya, sangat nonjok sekali pertanyaannya di muka parcok ini.
Personil aparat Polri gagal di institusi negara ini dan hanya cergep utk Jokowi dan para mafia.
Narasi terus #1312ACAB@prabowo kau ganti tuh ternak kapolri SIGIT, ganti org kompeten.
SURABAYA subuh tadi.
Suasana sudah makin tidak busa dikendalikan. Polisi terpojok di sisi sebuah bangunan. Nampak seseorang kemudian mengucurkan bensin dan mengobarkan api.
Rusuh.
Pernyataan mbak-mbak ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Kalau Pertanyaan mbak-mbak ini terkait bayar berapa untuk jadi Polisi, ga tau ya berdasarkan apa? 😂