Namanya Mbah Mien Sri Wahyuni (74), warga Desa Kalierang, Kec Selomerto, Kab Wonosobo.
Tiba2 ditagih BRI 2,5 M karena kredit.
Gk pernah ajukan kredit, gk punya rekening BRI, ATM Buku rekening.
Di dokumen dia ada pengajuan kredit lewat notaris.
Lapor ke polisi, 3 tahun mandeg.
Datang Tidak Diundang,
Diundang Tidak Datang.
Tudingan Wowo ke luar negeri hanya piknik pakai uang rakyat itu bisa dimengerti karena di acara yang lebih penting justru tidak datang.
Di acara penting, banyak kepala negara datang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan 35 Tahun Kemitraan ASEAN-Rusia malah tidak datang.
Di Perancis bisa 4 kali kunjungan hanya untuk ketemu satu presiden, kan aneh 👺 Pilihan piknik lebih utama dari pada tugas negara 🤪
Padahal di acara ini bisa lobi banyak kepala negara untuk menarik investasi, menjalin kerja sama strategis (ekonomi, politik, dan pertahanan), serta memberikan perlindungan bagi warga negara Indonesia di negara mereka tinggal.
Wes mboh, bangkrut - bangkrut.
Source : fb moktar kobarbarlin
Faktanya:
• Pendapatan PLN thn 2025 Rp582 triliun (naik 6,84%).
• Laba bersih anjlok jadi cuma Rp7 triliun (turun ~66%).
• Tarif listrik resmi nggak naik sejak 2022 sampai sekarang (Triwulan II 2026 tetap sama, pemerintah “jaga daya beli rakyat”). Tapi tagihan banyak yang melonjak 2-3x lipat gara-gara “konsumsi naik” katanya.
• Stok batu bara PLTU Jawa-Bali sering di bawah 10-15 hari (padahal standar aman minimal 25 hari).
• Pemerintah potong kuota batu bara domestik + regulasi ribet, akhirnya PLTU kekurangan pasokan.
Intinya: Tarif nggak naik di kertas, tapi rakyat tetap merasakan “kenaikan” lewat pemadaman bergilir + tagihan membengkak.
PLN nerima duit full, tapi pas butuh beli batu bara tiba-tiba “masalah teknis operasional” + “pasokan menipis”.
Ini bukan manajemen energi, ini manajemen alasan level dewa.
Rakyat bayar listrik mahal buat subsidi silang + bayarin proyek2 gede, tapi pas listrik mati tiap minggu, jawabannya cuma “maaf ya”.
Sorry deh keliatannya kalo marah-marah, pergerakan di indonesia tuh tainya begini. Gak pernah lepas dari bayang-bayang kemenangan reformasi. Sampe lupa kita tuh sekarang habis kena hajar karena penokohan juga. Biasakan lah buat menerapkan kritik dan otokritik biar gak tinggi diri
Big fan of the Islamic explanation for the specificity of the heifer scarfice which is that the Israelites were being incredibly annoying asking for more specifics on which cow to sacrifice until God kept adding conditions until it became nearly impossible to find.
I feel like with the pressure of dunya and responsibilities we forget that just chilling either alone or with your homies in a Masjid is something you can do