@LambeSahamjja Standar ganda akademisi, soal legitimasi moral, menyuruh mundur seorang wapres yg secara sah di pilih jutaan rakyat juga tidak etis, sedangkan MK sendiri secara formal hukum tidak mendiskualifikasi Gibran
@FahmiAgustian Termul tidak sedang sakau, tapi sedang ambil momen, melihat cara Prabowo memimpin yang dinilai semakin buruk, politik citra ala Jokowi diangkat kembali agar tetap relevan sampai dengan 2029
Politik citra ala Jokowi tetap paling manjur untuk merebut hati rakyat, KDM contohnya
@LambeSahamjja Prabowo makin hari makin blunder, dia harus banyak belajar dari Jokowi, melanjutkan program Jokowi adalah langkah strategis buat dongkrak kembali kepercayaan publik
Masyarakat mulai membandingkan era Jokowi lebih baik, tugas Prabowo makin berat, kabinet gemuk tapi tetap amatir
@VeritasArdentur Logika akademis kalah telak sama birokrasi kaku di Indonesia. Susah payah kuliah sampai lulus S1 di luar negeri, pas pulang malah disuruh ambil Paket C cuma buat muasin aturan administratif
Benar2 nyata slogan: "Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?"
@satriohendri Menggelitik, jam 2.50 mas Hensat masih sempet post kek gini, ampun dah!
Jadi ingat kata pak Habibie : “Ketika seseorang menghinamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka”
@mayoyo13x@indepenSumatera Karena Sumatra klaim seperti itu, makanya aku tanya pasalnya
RUU itu ada draft teksnya, bukan konsep gaib kosong melompong terus kamu khayalin
@icukprayogi Menyimpulkan masyarakat memilih politisi polos karena trauma poskolonial kok menurutku engga pas ya mas, terlalu jauh lompatannya
Realita nya masyarakat memilih itu kompleks berubah-rubah, tergantung citra yang mau di bangun politisinya