Hapunten pisan kasadayana keluarga Frontline Boys Club, bangga pernah jadi bagian Frontline Boys Club, tos nya bubar, mudah-mudahan jadi pelajaran buat semua, respect all Bobotoh ๐ซ
"๐ฉ๐๐๐ (๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐) ๐๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐, ๐ท๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐."
Lebih dari sekedar club.
Tentang bagaimana deru laju kota ini seakan berhenti pada saat Persib bermain, di setiap sudut kota Bandung, dari level pedagang kaki lima, UMKM lokal menengah, hingga mall-mall kelas atas.
Tentang bagaimana semua elemen berbaur di dalam naungan satu nama: bobotoh, dan berinteraksi seakan selama ini mereka adalah satu keluarga yang terpisah oleh kehidupannya masing-masing.
Tentang bagaimana perantau luar kota hingga luar negeri nan jauh di sana, rela mengeluarkan uang sejumlah tak sederhana, hanya untuk datang ke kota ini, menyaksikan Persib meraih gelar juara.
Tentang bagaimana keikhlasan orang-orang yang mau berbagi atas rasa syukur mereka karena klub yang mereka sayangi sejak kecil itu berjaya.
Sukar menemukan kultur yang mendalam seperti ini. Bahkan saat Persib tak bermain pun, lingkup pembicaraan warga masih tetap bersinggungan dengan Persib.
Memahami Bandung, Persib, dan masyarakatnya itu tidak sesederhana dicerna logika. Melibatkan empati dan rasa. Romansa yang tersaji ini tidak terbentuk hanya dalam satu malam, ini cinta yang dipupuk sejak lahir, dibesarkan sedemikian rupa, lalu diwariskan dengan rasa bangga. Organik, tanpa dibuat-buat khayal belaka.
Mengapa kaum yang mengaku "terdidik" ini mendadak buta huruf secara sosiologis? Sebuah utas๐
๐๐๐ง๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐ฅ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐จ๐ง๐ ๐๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ง๐๐ฅ๐๐๐๐๐ฃ ๐๐๐๐๐ก๐๐๐ฅ ๐ฅ๐๐๐ฌ๐๐ง