✅: Trik Argentina saat Enzo Red Card
☠️: Ketika Enzo melakukan Pelanggaran, Ada yang tiba tiba jatuh di belakang.
💋: Lalu Messi mendekati wasit untuk jb jb meminta cek VAR karena ada yg jatuh di belakang.
🫲😗🫱
2010, Sneijder Şampiyonlar ligi alıyor, Iniesta Dünya Kupası alıyor ama gol sayısı daha fazla diye Messi ballon dor kazanıyor
2011, Ronaldo Messi'den daha fazla gol atıyor ama bu sefer de Şampiyonlar ligi önemli diye Messi ballon dor alıyor
2012, Ronaldo Messi'den daha fazla kupa kazanıyor ama kural yine Messi için değişip gol sayısı fazla olduğu için Messi ballon dor alıyor
2019, Salah ve Van Dijk harika bir Şampiyonlar ligi sezonu geçiriyor, Alisson Becker hem Şampiyonlar ligi hem Copa America kazanıyor ama gol sayısına bakarak yine Messi’ye ödül veriliyor
2021, kural yine değişiyor, Lewandowski gol sayısı olarak lider ama Copa America kazandığı için ödül Messi'ye veriliyor
2023, 2010 yılında önemi olmayan Dünya Kupası bu sefer önem kazanıyor Ve Manchester City'de hem Premier Lig hem de Şampiyonlar Ligi kazanan Haaland yerine ballon dor Messi'ye veriliyor
2026 ⌛
Sejarah tercipta di Wimbledon! Untuk pertama kalinya, final Grand Slam mempertemukan dua petenis asal Ceko. Karolina Muchová akan menghadapi Linda Nosková di final Wimbledon 2026.
REVIEW BACKROOMS (2026)
Sebelum menonton Backrooms, kami tidak tahu apa-apa tentang film ini. Tidak pernah menonton web series-nya, membaca creepypasta-nya, mengetahui siapa Kane Parsons, bahkan tidak pernah menonton trailernya sama sekali.
Dan satu jam lima puluh menit kemudian, kami masih berada di posisi yang sama.
We don't fucking get it. What was that all about?
Menurut kami, Backrooms hanyalah sebuah film eksploitasi. Sukses dalam satu hal: mengeksploitasi liminal spaces, dreamcore, anomali, SCP-esque concepts, dan berbagai elemen absurd yang sedang populer di internet. Namun dalam prosesnya, film ini justru melupakan hal yang paling penting dari sebuah film:
Storytelling.
Alih-alih memikirkan bagaimana cara membangun sebuah cerita yang menarik, Kane Parsons tampaknya lebih tertarik untuk melemparkan satu keanehan demi keanehan ke layar.
Let's throw some weird shit together and see what happens.
Satu-satunya bentuk story development dan character background yang ada pun terasa sangat tidak menarik. Sebagian besar disampaikan melalui exposition yang kaku dan penuh western movie clichés: percakapan tentang seorang pria yang mengalami midlife crisis dan menjalani sesi terapi, sementara terapisnya sendiri ternyata juga sedang mengalami krisis eksistensial.
Selain itu?
Nonsense after nonsense.
Weird rooms. Weird creatures. Weird noises. Weird events. A whole lot of weird shits.
Masalahnya bukan karena film ini aneh. Banyak film absurd yang justru berhasil menjadi karya luar biasa ketika mampu menyeimbangkan keanehan dengan narasi yang kuat. Exit 8 adalah salah satu contohnya. Film tersebut sama-sama mengangkat konsep liminal space dan ketidaknyamanan eksistensial, tetapi tetap memberikan penonton sebuah cerita yang jelas, karakter yang dapat diikuti, serta misteri yang terasa memiliki tujuan. Keanehannya mendukung cerita, bukan menggantikannya.
Sebaliknya, Backrooms terasa terlalu sibuk menampilkan keanehan demi keanehan, sampai lupa memberikan alasan mengapa penonton seharusnya peduli terhadap apa yang sedang terjadi. Film ini terus-menerus menambahkan misteri baru tanpa memberikan alasan yang cukup bagi penonton untuk peduli terhadap misteri itu sendiri.
Pada akhirnya, kami tidak melihat Backrooms sebagai sebuah film.
Kami melihat Backrooms hanya sebagai sebuah exhibition.
Sebuah showcase ide dan visual yang menarik, tetapi tidak pernah berkembang menjadi narasi yang utuh. Sebuah web series dengan skala yang lebih besar, aktor yang lebih capable, dan budget yang lebih tinggi, namun dengan pendekatan cerita yang sama membingungkannya.
Kami bisa memahami mengapa sebagian penonton menyukai film ini. Visualnya unik, atmosfernya berhasil menciptakan rasa tidak nyaman, dan beberapa sequence memang terasa seperti mimpi buruk yang hidup. Tetapi bagi kami, semua itu hanyalah kemasan.
Ketika credit mulai berjalan, kami tidak merasa takut, sedih, tegang, ataupun takjub.
Kami hanya merasa seperti baru selesai berjalan selama satu jam empat puluh menit di sebuah lorong yang sangat panjang, lalu keluar tanpa membawa apa pun.
Rating: 4/10.
Looks fascinating. Says nothing.
Should've watched Disclosure Day instead. 😔