Di kondisi yang lumayan kritikal seperti ini, penting rasanya untuk pejabat negara belajar caranya diam. Kalau gak bisa kabarin, nanti saya beliin karet buat dikaretin satu-satu mulutnya.
GUYS HATI HATI YA KALO KE DECATHLON BEKASI
MODUS “LIAT-LIAT DOANG” KEMBALI MEMAKAN KORBAN
TARGET AWAL NYARI KACAMATA RENANG, SEORANG PEMUDA MALAH KELUAR TOKO DENGAN OUTFIT LARI DAN RENANG LENGKAP
I just want to say that if you want to have a critical thinking, you should read news (Kompas, Jakarta Post, etc) not only twitter. Do a comprehensive reading. Karena kalau cuma modal berani dan nyolot, abang-abang parkir juga berani.
Berani belum tentu benar. Di twitter banyak hoax dan konspirasi juga kan. Dulu pernah ditegor atasan karena dia sering lihat tim saya ngeliatin twitter di laptop. Saya dichallenge karena dianggap pembagian kerjanya gak merata.
Terkedjoed coworker gw yg gen z berani nyanggah argumen coworker boomer yg muji2 monokotil karna nggak naikin harga bbm. And yes dia anak twitter. Twitter itu ngaruh ges, dari twt sampe ke irl🔥
Setelahnya saya minta dia untuk beli anti spy buat laptopnya, tapi dianya malah gak mau karena gak ngerasa itu hal yang salah, gak salah memang, hanya gak beretika aja 😅. In the end she resigned and I did not keep her juga sih. Win-win for us, now i have the good team.
Leader from global: Can you recommend me a "must see" place to visit in Jakarta?
Was gonna tell her this: you can visit Banjir Kanal Timur, it's like Seine and you also can try their local escargot there.
Tapi takut malah diare selama summit gara-gara makan tutut.