Banyak orang meninggalkan iman karena terlalu banyak pertanyaan.
Sampai mereka lupa bahwa iman yang tidak pernah dipertanyakan bukan iman. Itu cuma kebiasaan.
Jika Tuhan maha baik, kenapa kejahatan masih ada? Ini bukan pertanyaan baru. Epicurus sudah mengajukannya 300 tahun sebelum Kristus: kalau Tuhan maha kuasa, Dia bisa mencegah kejahatan. Kalau Dia maha baik, Dia pasti mau mencegahnya. Tapi kejahatan nyata ada. Jadi salah satu dari keduanya harus salah.
Dua ribu tahun kemudian, pertanyaan itu masih belum selesai dijawab. Tapi jawaban terbaik yang pernah ada bukan dari pendeta, melainkan dari seorang filsuf bernama Alvin Plantinga.
Argumennya sederhana: Tuhan yang maha kuasa pun tidak bisa menciptakan makhluk yang benar-benar bebas sekaligus memastikan mereka tidak pernah berbuat jahat.
Kebebasan sejati berarti kemungkinan memilih kejahatan dan tanpa kemungkinan itu, kebebasan tidak ada artinya.
Kita tidak harus percaya reinkarnasi. Tapi kita harus tahu bahwa pertanyaan ini pernah ada di dalam gereja. Iman yang dewasa bukan iman yang takut pada pertanyaan.
Apakah Alkitab menyinggung reinkarnasi? Mayoritas gereja bilang tidak. Tapi ada beberapa ayat yang kalau kita baca, sangat sulit dijelaskan tanpa konsep itu. Thread ini bukan untuk meyakinkan. Tapi untuk menunjukkan yang selama ini sering dilewatkan.
Ini yang paling menarik. Baik yang pro maupun yang kontra reinkarnasi membaca teks yang sama, dan sampai pada kesimpulan yang berlawanan total. Artinya teks itu sendiri tidak sejelas yang kita kira.
Nolan bilang Interstellar adalah film tentang cinta dan gravitasi. Tapi cinta yang menembus dimensi waktu, yang tidak bisa dilihat tapi nyata, yang menyelamatkan tanpa menampakkan diri.. Itu bukan sains. Itu iman.
Buat gue : Interstellar bukan film tentang luar angkasa. Bukan tentang lubang hitam. Bukan tentang sains. Interstellar adalah film tentang Tuhan.... dan Christopher Nolan tidak pernah bilang itu secara langsung.
Yang paling menarik bukan apakah Nolan sengaja bikin film tentang Tuhan atau tidak. Yang menarik adalah kenapa otak manusia secara otomatis membaca pola itu. Mungkin kita memang dikalibrasi untuk mencari sosok yang mahakuasa di balik segala sesuatu...bahkan di film fiksi ilmiah.