this is why i hate the narrative that japanese men being misogynistic is okay because it’s normalized in their culture when we have authors like mieko kawakami, sayaka murata, hiromi kawakami, hiroko oyamada, etc who advocate for women’s rights and bodily autonomy.
orang2 ni ngapa susah paham ya klo yang dikata klasis itu bukan negor ketidaktertibannya tp lu pada ngomongnya degrading? golongin mereka kaum Rp 1 lah, katrok lah. lu nempel label itu namanya nyiptain sekat kelas. bisa kok negor tanpa ngenyek.
ada pelecehah oleh gay, lu attack orientasinya. ada ibu2 nyetir meleng, lu ketawain gendernya. trus ada orang misbehave di transum, lu olok2 latar belakangnya. emang gak becus argue tanpa ad hominem aja lu tuh. ga becus addressing sesuatu tanpa carried away dan nyerang personal.
it’s all about equality, anti-classism, non-oppressive, non-discriminative yadda yadda with you jakartans until the said equality, anti-classism, non-oppresive, non-discriminative policy serves its purpose
kenapa ya pada ga paham kalo disini kita as daily user tu concern nya ke behavior mereka. bukan socio-economic nya. jadi bukan being classist dan diskriminatif