La felicidad está mal entendida. Nos la venden como un éxtasis constante, cuando en realidad casi siempre es calma, es la ausencia de urgencias, un domingo por la tarde sin nada que resolver.
THIS IS NOT FAKE. THIS IS REAL.
Canada is burning. Europe is on fire. New York's sky is smoke. The oceans are boiling. The heat is lethal.
If you are still denying climate change you are denying the Earth a future.
Mertuaku selalu masak dua porsi rendang tiap Lebaran, satu pedas, satu nggak pedas sama sekali.
Yang nggak pedas selalu utuh, nggak ada yang nyentuh, tiap tahun akhirnya kebuang.
Pas Lebaran kemarin iparku nyeletuk, "Bu, ngapain masak yang nggak pedas, kan udah nggak ada yang doyan di rumah ini."
Mertuaku cuma senyum, mindahin panci itu ke belakang. "Nggak apa-apa, siapa tau nanti ada yang nyari."
Aku tahu cerita panci itu dari istriku, yang baru berani cerita tahun ini.
Yang nggak kuat pedas itu kakak pertamanya, satu-satunya di rumah yang lidahnya nggak tahan pedas.
Beberapa tahun lalu kakaknya nikah, ikut suaminya, tinggal di rumah mertuanya di kota lain yang jauh.
Tiap Lebaran dia ngerayain di keluarga suaminya, udah lama nggak bisa pulang.
Yang nggak pedas bukan buat dibuang, tapi biar kalau dia pulang, masakannya udah ada.
Yang bikin dadaku sesak pas nyadar ini:
Semua orang di meja makan itu ngeliat panci nggak pedas sebagai makanan mubazir.
Mereka kira itu cuma kebiasaan lama mertuaku yang sayang dibuang.
Nggak ada yang tau, tiap tahun mertuaku lagi nyiapin tempat buat anak yang lagi jauh dari rumah.
Bukan masakan yang kebuang. Tapi kursi kosong yang dia jaga diam-diam, biar nggak keliatan kosong.
Pas yang lain sibuk salaman, aku sempat bantuin mertuaku di dapur.
Aku beraniin nanya, "Bu, tiap tahun masak yang nggak pedas padahal dia jarang pulang, nggak capek?"
Dia berhenti ngaduk sebentar.
"Capek itu kalau Ibu berhenti masakin. Berarti Ibu udah nyerah dia bakal pulang."
"Selama Ibu masih masak porsinya, Ibu masih punya alasan buat nungguin dia."
Aku nunduk, nerusin nyuci piring, nggak sanggup jawab.
cc : teguhdailyjournal
The older i get, the more i realize that someone making time for you is one of the clearest signs they care. Everyone is busy. Everyone has responsibilities and their own battles to fight. So when someone consistently chooses to spend their time with you, checks on you, and makes space for you in their life, it means something. time is one thing we can never get back, and people don't give it away lightly.
keinget dulu umur 21 pernah dugem sama kakak-kakak cewe umur 26-30, drunk yapping and they said "it gets better after 25. you'll get hotter, smarter, richer, and have your priorities straight"
and i still think about that sometimes