dengan begitu, jelas jelas merugikan peserta yang tegas mengikuti aturan, rela mengikuti audisi dengan effort yang lebih besar dari pelanggar aturan.
Jujur, kecewa. Merasa tidak dihargai, merasa tidak ada gunanya, merasa di injak.
Engga pernah sekecewa ini sama pihak pengatur setempat.
Setelah aku menyadari suatu audisi yang (NGAWUR) ini dianggap biasa dan tidak memberatkan pihak manapun.
Bagaimana saya bisa bilang begitu ? mungkin beberapa orang menganggap saya, peserta audisi yang tidak bisa menerima
tapi malah kategori A menjadi 7 delegasi, dan sisanya masuk di kategori B.
Ngawur, itupun beberapa para pemenang tidak mengikuti aturan yang dibuat.
Lagi lagi, pemenang, penyelenggara, dan penilai juga tidak sesuai aturan.
Semakin kesini, semakin ribet.
Semua makin diatur, sesuatu yang harusnya ditanggapi biasa saja, kenapa harus diseriusin ?
Makin ribet, terlalu mudah mencerna apapun ke dalam hati.
Se lemah itu mental kalian ? ya bener aja jadi ga karuan.
🚨 | Rangkuman kecurangan wasit Ahmed Al-Kaf di pertandingan Indonesia vs Bahrain semalam:
- Wasit terlihat sangat memihak ke Bahrain. Pemain Bahrain disenggol dikit langsung pelanggaran, tetapi jarang memberikan pelanggaran untuk Indonesia padahal kontaknya lebih keras.
- Pertandingan berlanjut sampai menit ke-100+', padahal tambahan waktu yang diberikan hanya 6 menit.
- Gol kedua Bahrain bahkan tidak dicek VAR sama sekali. Setelah kick-off langsung meniup peluit akhir pertandingan.
- Gol Ragnar dicek VAR sampai 3 menit, giliran Bahrain yang cetak gol ga dicek VAR sama sekali.
- Tanggapan STY: "Bila AFC ingin semakin maju, maka kepemimpinan wasit harus diperbaiki. Saya rasa semua orang memahami kenapa para pemain kami kesal."
Video-videonya cek reply.
To my Indonesian brothers and sisters, I just wanted to say that us Iraqis understand your pain too well unfortunately. Trust me, we know that the refereeing in Asian football can be questionable at the best of times.
Just ask Aymen Hussein and Rebin Sulaka.
🇮🇶 🤝 🇮🇩
Keresahan keresahan, begitu sulit untuk diceritakan. Ditelan sendiri pahitnya minta ampun. Cerita sama teman ya takut keliatan cemen, dan mereka udah ada bebannya masing². Cerita sama orang tua ya apalagi, malah nambah beban fikiran mereka. Gini banget jadi lanang. Gatau lagi dah
tidak selesai dengan masa kampanye yang isinya caci maki yang tak sepemikiran, setelah selesai pemilu pun masih harus bertemu dengan caci maki kemenangan dan kekalahan. Mental caci maki terus menyala 👎