@MiskinTV_ BERTETANGGA BUKAN KEANGGOTAAN GENG.
menulis "kalau kena musibah jangan ditolong" justru menunjukkan hilangnya nilai kemanusiaan.
tolong-menolong bukan hadiah untuk yang aktif organisasi. ukuran akhlak kita. menegakkan aturan boleh, tapi jangan sampai kehilangan rasa kemanusiaan
Semakin ke sini, saya makin yakin KDM memang lebih pantas disebut gubernur konten daripada gubernur yang benar-benar fokus membangun organisasi birokrasi.
Ia menyindir ASN karena katanya yang dipikirkan cuma tukin, bukan cita-cita bangsa.
Padahal argumennya punya banyak sekali celah .
Pertama, argumen KDM cenderung membangun false dichotomy, seolah ASN harus memilih antara memikirkan tukin atau memikirkan bangsa. Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Seorang ASN dapat memiliki idealisme sekaligus memperjuangkan kompensasi yang adil. Menginginkan kesejahteraan bukan berarti kehilangan nasionalisme.
Kedua, KDM tampak mencampuradukkan peran (role confusion). Dalam organisasi, pembentukan visi besar, arah pembangunan, dan tujuan negara adalah tanggung jawab pemimpin politik dan pejabat struktural. ASN pada dasarnya adalah pelaksana kebijakan (bureaucracy as executor), bukan aktor politik yang merumuskan cita-cita bangsa setiap hari. Wajar jika percakapan sehari-hari pegawai lebih banyak berkaitan dengan target kerja, SOP, beban administrasi, atau kesejahteraan seperti tukin.
Ketiga, argumen KDM mengabaikan insentif ekonomi. Dalam teori ekonomi kelembagaan, perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh sistem insentif. Jika pemerintah sendiri menjadikan tukin sebagai instrumen utama untuk mendorong kinerja, maka tidak mengherankan apabila ASN memperhatikan tukin. Sulit menyalahkan individu karena merespons insentif yang dirancang oleh organisasi.
Jika birokrasi kehilangan idealisme, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mendesain sistem birokrasi, indikator kinerja, mekanisme promosi, dan budaya organisasi? Itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan pemerintahan. Mengkritik ASN tanpa mengevaluasi desain sistem berisiko hanya menyalahkan gejala, bukan akar masalah sesungguhnya.
@Piyusaja2 Kaya dari lahir, semuanya tercukupi jadi nggak pernah belajar skala prioritas. Sapiens, Kalau mau memberi ruang untuk hidup dan survive dalam jangka waktu panjang, kasih tau cara bertarung, Kasih ilmu berburu dan memasak. Kasih tau cara menanam. Bukan dikasih makanan jadi.
MBG mau distop libur sekolah.
Yang gak marah:
- Murid ❌
- Orang tua siswa ❌
- Guru ❌
- Ibu hamil dan menyusui ❌
Yang marah:
- Presiden ✅
- BGN ✅
- Yayasan yang punya SPPG ✅
- Parjo, parcok, parpol yang punya yayasan ✅
- "Relawan" SPPG ✅
- Pengusaha MBG ✅
Aneh ga sih?
Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah.
Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak sebagai penerima Makan Bergizi Gratis.
Yang marah malah yang punya Dapur.
Bener. Yang udah dihemat pemerintah :
> transfer pusat ke daerah
> dipotong ratusan triliun
> daerah dipaksa mandiri (padahal ga semua daerah punya sumber daya sama)
> puluhan anggaran kementerian/lembaga
> banyak program dihentikan
> termasuk aggaran riset
> termasuk anggaran infrastruktur
Kemana semua uang penghematan? Ke mbg 👌
Joe Hart on Pep's comment about regretting not giving him a chance at City:
“I don't hold grudges. I gave my reasons, he gave his and he's the one with power. I liked him before, I like him now.”
Love Joe, man. Brilliant human being. Proper blue. 🩵
@LambeSahamjja Salah seorg dosen bule sy pernah bilang begini : bangsa indonesia adl bangsa yg bengis krn beraninya jahat kpd bangsa sendiri, dan hal ini terjadi sejak jaman VOC