Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih, anak Krakatau. Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause. Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis. Yuk pantau terus letusan anak Krakatau, gais.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Iran (Parsia) ini sejak 2300 thn lalu memang dikenal punya peradaban sains yg ngeri.
Istilah algoritma yg sekarang mendunia diambil dari nama penemunya : Al-Khwarizmi dari Iran pd thn 800.
Ibnu Sina bapak kedokkteran yg lejen itu juga orang Iran.
Al Biruni yg menemukan ilmu astronomi pd thn 900 dari Iran juga.
Saat Islam raih golden age pada era Abbasiyah di thn 750, semua teknokrat dan Menkeu diambil dari orang2 Iran.
Teknokrat Iran itu dianggap sbg biang keladi kenapa Abbasiyah jadi superpower dunia di thn 800an.
Yang unik, di era abbasiyah, para peneliti utama Baitul Hikmah (harvard di era abbasiyah) adalah orang Yahudi.
Raja Abbasiyah yg muslim suka sekali dg kinerja para ilmuwan Yahudi tsb, dan dijadikan pegawai andalan kerajaan. Gajinya tinggi. Makanya ilmuwan Yahudi di era 800an sangat happy kerja di negara abbasiyah islam.
Jadi Abbasiyah maju sekali krn kolaborasi teknokrat Iran x ilmuwan Yahudi.
Orang2 Iran dan Yahudi di jaman abbasiyah sangat akrab. Dekat sekali relasinya. Masjid dan sinagog Yahudi berdampingan di kota Bahgdad (episentrum dunia yg amat indah di tahun 800an).
Asli. Kalau baca buku2 sejarah era 800an, saat Golden Era Abbasiyah, kita terpana dg kolaborasi indah Iran Persia x Arab dan Yahudi. Mrka amat kompak majukan peradaban dunia.
Kenapa kolab indah di tahun 800an itu gak bisa diulang?
Orang Yahudi, Arab dan Iran jaman now gak pada mau baca sejarah lama mereka.
Jejak sejarah lama era abbasiyah itu jarang dibaca saat ini sama warga yahudi, arab dan iran. Atau mrka sengaja melupakannya.
@voltaireanism@Trystanto2 Tau Pak Marty Natalegawa itu bukan pas jadi Menlu, tapi sejak di UN.
Di koran hari itu, ada foto dia jadi headline pas abstain sendirian terkait hukuman tambahan ke Iran.
Sejak itu, respect sangat. Lihat bapak ini kayak keren banget. Mantap lah, value-nya masih terjaga.
Orang di foto ini.
1. Sjahrir, anak jaksa
2. Agus Salim, anak Jaksa juga. Kepala Kejaksaan Riau jaman Belanda
3. Sumitro Djojohadikusumo, anak Ketua DPA pendiri Bank BNI
4. Sudjatmoko, anak dokter inlander generasi pertama lulusan Belanda.
5. Charles Tambu, anak imigran Tamil
Nanya Sain di live, kakinya #masbroken kenapa, kok Sain sampe bantu perban (liat di ch sain). Terus dikasih tambahan cerita, "KEVIN PERHATIAN LOHH DIA." #imkevin 😭💗 di balik layar mereka nih lucu perhatian, gak hanya lucu ributnya aja wkwkwk 🥹🫰🏻 cuman sempet record ini.