Knetz ini menceritakan pengalamannya saat pernah merasa harus “menurunkan standar” demi bisa berpacaran. 🥲
Saat sudah lama single, ia pernah berkali-kali ditawari teman untuk dikenalkan dengan seseorang. Karena sudah lebih dari 10 kali ditawari, ia merasa nggak enak, akhirnya berangkat juga. Namun setelah bertemu, ia justru merasa harga dirinya terluka dan berpikir, “Jadi kalau aku mau pacaran, aku harus menurunkan standar seperti ini?”
Ironisnya, setelah hanya sekali bertemu, ia malah ditolak oleh pria tersebut. Ia kemudian menceritakan pengalaman ditolak itu di depan para juniornya sambil tertawa dan menjadikannya bahan cerita.
Namun, seorang junior laki-laki yang mendengar cerita tersebut ternyata adalah pria yang ganteng, tinggi, populer, dan 5 tahun lebih muda darinya. Mereka akhirnya pendekatan, menjalin hubungan, bahkan pria itu berjanji untuk membangun masa depan bersama. Hubungan mereka pun kini tetap berjalan dengan kokoh, indah, dan bahagia.
OP ini pun mengatakan bahwa hidup memang tidak pernah bisa ditebak. Jadi, menurut pengalamannya, kita tidak perlu menurunkan standar.
“Orang yang sesuai dengan standarku pada akhirnya akan menemukan aku dengan caranya sendiri.”
Ia juga berpesan kepada para perempuan agar tidak menurunkan standar dan tidak hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Jalani hidup dengan baik dan rawat diri sendiri. Suatu hari, orang yang tepat akan datang. 🥺
Kalian punya pengalaman yang mirip nggak, nih? Barangkali bisa jadi motivasi buat teman-teman lainnya.
selain menemukan spark hidup, semoga kamu nemuin juga spark dalam beribadah. sholat tepat waktu, gak terburu2, baca bacaan sholat dengan jelas, betah sujud di atas sajadah, dan tenangnya hatimu ketika berdoa
skrg aku tau kenapa kita dianjurin jam 10 malem udah harus tidur, karena kalau begadang sampe jam 2 pagi nnti penyakit “wondering was wrong with me and begging someone in my life” nya kumat
coba kalo posisinya dibalik dan hal ini dilakukan oleh demonstran, bahhhh narasinya pasti "pendemo provokatif," "demo anarkis," "provokator anjg." keliatan kan sekarang, siapa yg demen provokasi. rakyat disuruh kritik sopan, giliran pejabatnya ga ada sopan2nya. ahhh sawitzerlandd
Jadi Mei lalu, ada artikel berisi analisis Image Branding Park Jihoon yang ditulis oleh Park Youngsil.
Beliau adalah CEO Personal Image Branding Lab & PSPA, Profesor Ajung di Universitas Sookmyung & Myongji, sekaligus Penulis buku Dress Codes of Successful People.
Analisisnya panjang, tentang 3 pesona di balik kesuksesan besar Park Jihoon.
Yang lagi disorot OP ini fokus ke BEHAVIOR atau perilaku.
Pembahasannya tentang attitude Park Jihoon di industri ini yang bisa dirangkum dalam dua kata: rendah hati dan tekun.
Ini kelihatan banget pas dia pidato di Baeksang. Alih-alih ngomongin seberapa keras usahanya sendiri, Jihoon berterima kasih pada sutradara Jang Hangjun dan ngomong betapa bangganya dia bisa bagi energi sama aktor senior Yoo Haejin. Dia paham betul value dari sebuah kerja sama tim.
Pemilihan proyeknya juga berani. Daripada ambil peran romcom yang aman buat idol, dia lebih milih Weak Hero yang butuh transformasi gila-gilaan, dan The King's Warden yang nguras emosi.
Di lokasi syuting, Jihoon terkenal sopan, ga berhenti belajar, dan totalitas banget. Sikap ini yang bikin kredibilitas namanya naik level jadi "aktor yang selalu bisa diandalkan" sama sutradara dan staf.
Terus skrinsyutan kedua itu dari penutup artikelnya 👇
Park Jihoon udah sukses merebut mahkotanya lewat usahanya sendiri. Sekarang, tantangannya tinggal gimana dia bawa tanggung jawab besar itu sambil terus melebarkan sayap di dunia akting.
Sikapnya yang selalu mau evaluasi diri dan tumbuh bareng publik ini bener-bener inspiratif. Makanya, kita makin ga sabar nungguin kejutan atau chapter baru apa lagi yang bakal dia bawa ke depannya.