the angry daughter. the unlovable, the backup friend. the over sensitive one, the mirrorball. the forgotten birthday. the least favourite child. but somehow the most needed. the burnout daughter.
“Dunia ini cukup untuk kita semua”
Aku tiba-tiba ingat kata Psikologku (iya, Psikolog juga ke Psikolog), begini katanya:
“Nell, kita semua itu punya peran masing-masing. Tidak semua orang harus ‘bersinar’ dengan intensitas yang sama.
Ada Psikolog yang terkenal, kayak xx tapi ada juga yang nggak, kayak saya.
Tapi kalau orang yang biasa-biasa aja kayak saya gak ada terus yang ngelayanin kamu konsul siapa?
Dunia ini cukup untuk kita semua.”
Pas dengar itu, aku merasa…lega. Separuh rasa cemasku mereda di tengah-tengah perkuliahan yang bikin aku merasa gak percaya diri dengan kemampuanku.
Aku membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang menurutku hebat-hebat sekali. Ditambah standarku memang tinggi. Aku takut tidak jadi “apa-apa”, tidak dapat tempat.
Pelan-pelan aku mulai menata diriku lagi. Semuanya tidak harus sempurna. Aku hanya perlu tetap jalan.
Toh, secara objektif “biasa-biasa”nya aku sebenarnya buat orang lain itu bagus, tidak ada masalah.
Sampai sekarang, aku masih perlu mengingatkan diriku secara berkala,
“Setiap orang punya sinar yang berbeda, seperti bintang. Ada yang terlihat terang dan besar, ada juga yang kecil. Namun, keduanya sama-sama cantik dan penting.”
Hari ini pun aku mengingat kembali, aku mungkin tidak jadi musisi andal seperti Mozart tapi musikku cukup untuk anak-anak. Mungkin juga untuk sobat twitterku.
Dunia ini cukup untuk kita semua. Aku harap, kita yang lagi merasa tergesa-gesa bisa mengingat ini 💛
“i once said that loving someone means wishing for them to sleep well… so today, i hope the night won’t feel too long for me, for our members, for czennies, and for mark hyung as well…”
oh haechan… 😭😭😭
“But you survived” I disassociate, like a lot. My heart drops when someone raises their voice. I shut down very easily. I'm far too observant. I always feel like a burden. I isolate often. But yeah, sure, I guess I survived.
@perogeremmer Duit itu semakin ditahan-tahan, makin ga betah dan gamau dateng. Terserah mau percaya apa engga, uang itu bentuk dari energi juga, jadi harus selalu di alirkan. Kalo buat diri sendiri aja masih pelit, hati2 sih. Rasa kekurangan hanya akan menarik kekurangan
Ada empat hal pengeluaran yang ngga perlu terlalu pelit:
1. Kesehatan (beli vitamin, member gym, dumbbell buat workout di kamar, makanan sehat)
2. Pendidikan (beli course online, bayar coach, biaya S2, les berenang atau nyetir)
3. Networking (ketemu orang professional, liburan keluarga, ikut acara komunitas)
4. Efisiensi Waktu (Beli laptop yang lebih mumpuni dari sekarang untuk kerja dan belajar, naik gojek daripada tj pada beberapa kasus, bayar AI biar bisa kerjain tugas repetitif)
benci bgt sm yg begini jujur hahaha harusnya dari awal gausah in relationship drpd nyakitin kaya gini. dikira yg jalanin hubungan, yg punya hati, yg punya beban cuma lu doang?