Guys, Ferry Irwandi baru bedah
kenapa rupiah terus melemah
dan cara dia menjelaskannya
menurut gue paling jujur d
an paling tidak takut nyalahin siapapun.
Intinya satu:
rupiah melemah bukan karena satu sebab.
Dan jangan percaya siapapun yang bilang ini
semua salah satu pihak saja.
Yang sering salah kaprah di medsos:
Ada yang bilang santai saja rupiah lemah justru menguntungkan eksportir.
Kelihatannya masuk akal,
tapi Ferry langsung potong:
ekspor kita hanya tumbuh 0,9%
sementara impor tumbuh 7,18%.
Artinya yang benar-benar diuntungkan rupiah lemah itu jumlahnya sangat kecil
dibanding total penduduk Indonesia.
Jadi itu bukan jawaban yang komprehensif
itu setengah kebenaran yang dipakai untuk menenangkan orang.
Ada juga yang bilang ini bukan urusan Kemenkeu
ini murni urusan Bank Indonesia.
Ferry juga langsung bantah.
Kurs itu dipengaruhi fiskal, moneter, kebijakan pemerintah, dan kepercayaan pasar sekaligus.
Tidak bisa dilempar-lempar tanggung jawabnya.
Dan ada yang bilang ini sudah lebih parah dari 1998. Itu juga tidak tepat.
Yang bikin 1998 jadi krisis bukan angka kursnya
tapi percepatannya.
Rupiah naik 600%
dalam waktu sangat singkat
dari Rp2.400 ke Rp15.000.
Sekarang pelemahan terjadi bertahap
belum sekategoris itu.
Tapi bukan berarti aman.
Tiga lapis penyebab yang harus dipahami:
Pertama — faktor eksternal.
Dolar sedang sangat kuat karena dunia sedang tidak baik-baik saja.
Konflik Timur Tengah belum selesai.
Suku bunga Amerika tidak turun-turun.
Kalau lo punya uang dan harus memilih antara simpan di negara berkembang yang volatile atau di Amerika yang bunganya tinggi dan dolarnya menguat jawabannya jelas.
Modal terus mengalir keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Dan rupiah jadi salah satu yang paling tertekan.
Tapi ini bukan alasan untuk santai.
Karena seharusnya kita tidak semelemah ini kalau domestik kita kuat.
Kedua — faktor domestik.
Di sinilah masalah yang tidak bisa disembunyikan.
Pendapatan negara Q1 2026 naik 10,5%.
Tapi belanjanya naik 31,4% totalnya Rp815 triliun dalam satu kuartal.
Dari jumlah itu Rp610 triliun adalah belanja pemerintah pusat saja.
Ekspor tumbuh 0,9% impor tumbuh 7,18%. K
ebutuhan dolar meningkat
tapi pemasukan dolar tidak ngejar.
Subsidi energi naik lebih dari 266% hampir Rp118 triliun atau sekitar 30% dari APBN.
Ini harus dilakukan untuk menjaga daya beli.
Tapi ketika digabung semua tekanan lain yang paling terbeban tetap nilai tukar.
Siklus mematikannya begini:
rupiah melemah
beban APBN untuk bayar kewajiban dolar makin besar tekanan ke rupiah makin dalam rupiah melemah lagi.
Ketiga — kepercayaan yang sudah mulai retak.
Dan ini yang paling berbahaya.
Ferry bilang dengan sangat kesal:
ketika pejabat publik di konferensi pers bilang bangga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61%
kita di atas Amerika, Singapura, Korea
itu bukan prestasi komunikasi.
Itu memalukan secara intelektual.
Karena siapapun yang belajar ekonomi bahkan di level mahasiswa tahu:
jangan bandingkan pertumbuhan negara berkembang dengan negara maju.
Sizing-nya sudah beda.
Amerika tumbuh 2% itu sudah luar biasa.
Ruang tumbuhnya hampir habis. N
egara berkembang harusnya dibandingkan sesama negara berkembang.
Taiwan tumbuh 13% lebih dengan government spending hanya 3%.
Vietnam tumbuh 7% lebih dengan government spending di bawah 5%.
Sementara kita 5,61% dengan government spending naik 21,8% dalam satu kuartal.
Ketika pejabat bicara seperti itu market mendengar. Dan yang mereka dengar bukan kebanggaan.
Yang mereka dengar adalah sinyal bahwa pemerintah tidak jujur tentang kondisi yang sebenarnya.
Ketidakpercayaan itu mendorong
lebih banyak modal keluar.
Dan rupiah makin tertekan.
Solusi yang Ferry tawarkan:
Satu — benarin komunikasinya.
Bicara jujur dan objektif justru lebih dipercaya market daripada klaim yang mudah dibantah data.
Dua — struktur APBN harus dibenahi.
Belanja tidak efisien harus dipotong.
Kalau MBG dilanjutkan jalankan dengan cara paling efektif dan paling transparan.
Ruang fiskal tidak boleh terus tergerus oleh belanja yang tidak terukur.
Tiga — parkir dolar supaya tidak gampang keluar. Kebijakan DHE yang mulai dijalankan
adalah langkah benar.
Tapi insentifnya harus menarik
bukan hanya pemaksaan.
Empat — BI, OJK, dan Kemenkeu harus sinergi.
Jangan saling salah-salahan.
Jangan kebijakan satu lembaga
menabrak kebijakan lembaga lain.
Karena kalau tidak sinergi rupiah akan terus melemah bahkan ketika masing-masing sudah bekerja keras sendiri-sendiri.
Rupiah di Rp17.500 bukan karena satu orang salah atau satu lembaga gagal.
Ini kombinasi tiga lapis sekaligus dan selama ketiganya tidak ditangani bersama secara serius angka hari ini bukan yang terakhir.
Dan selama pejabat publik masih lebih sibuk membandingkan diri dengan
Amerika daripada jujur tentang kondisi domestik yang sebenarnya kepercayaan pasar tidak akan pulih.
Dan tanpa kepercayaan tidak ada intervensi BI yang cukup kuat untuk menahan rupiah sendirian.
Waduh, investor mulai berani teriak!
Sedang beredar surat terbuka dari Kamar Dagang Tiongkok (CCC Indonesia) langsung buat Presiden. Isinya benar-benar tamparan keras buat wajah birokrasi kita!
Bayangin aja, mereka terang2an bongkar borok yg dihadepin investor/pengusaha di lapangan:
1. Pungli & Pemerasan: Mereka mengeluhkan adanya praktik korupsi dan pemerasan oleh oknum berwenang yang sudah sangat mengganggu operasi bisnis.
2. Ada denda kehutanan "rekor" sebesar US$180 juta yang dijatuhkan secara sepihak dan dianggap berlebihan.
3. Kebijakan nikel berubah-ubah mendadak sampai bikin biaya produksi melonjak 200%
4. Birokrasi korup. ada masalah, saluran resmi macet, tapi kalau lewat perantara dan pake pelicin baru masalah bisa beres.
Gimana mau ekonomi tumbuh 8% kalau investor aja merasa dirampok dan ga ada kepastian hukum?. Nasib jutaan pekerja sekarang di ujung tanduk karena ketidakmampuan pemerintah menjaga iklim usaha yang bersih. Mana ini Bowo katanya mau sikat korupsi, jangan sampai Indonesia dicap sebagai sarang pungli internasional
surat terbuka dari CCCI bisa dibaca selengkapnya di: https://t.co/yOgVQdAKWr
Gw juga ngak berharap Prabowo bakal 2 periode, tapi setelah gw liat2 jadi rada pesimis:
1. Pekerja & Pengusaha MBG itu bisa jadi voting block gede terutama di kabupaten
2. KopDes Merah putih & Pabrik tekstil gede2an danantara yg mau dilaunching bisa jadi lumbung suara
3. Ekspansi besar2an dgn 150 bataliyon baru, 1 kota/kabupaten 1 batalion, ini keluarga militer fix dukung dia
4. Pas Pemilu Bansos bakal ditabur lagi buat rakyat miskin, persis kayak pemilu 2024 yg bikin gerbong mulyono menang
Dan ngeliat dari survey yang dilakukan, per Q1 2026 aja kepuasan buat Bowo diatas 70% semua, padahal kondisinya Rupiah nyentuh 17rb, Kematian Afan Kurniawan karena dilindas mobil Brimob, KLB Keracunan MBG di Bandung & Garut, Sembako makin mahal karena rebutan sama SPPG dan APBN yang cekak dan dana desa dipotong dsb. Ini benar2 aneh karena masyarakat Indonesia bener2 gampang lupa, pemaaf dan permisif bgt.
Gw yakin kalo dia jogat joget lagi trus ditabur beras 10kg bisa menang lagi di 2029 dia.
Every power structure on earth faces the same permanent problem.
The people at the top are massively outnumbered by the people they rule.
This is not a flaw in the system.
It is the system.
And it means every ruling arrangement, no matter how strong, is perpetually one narrative failure away from collapse.
Not because the masses will rise on their own.
They almost never do.
But because the moment a ruling class loses control of the story it tells its own population, it opens a gap.
And that gap is the only thing ambitious rivals need.
Not armies. Not money.
Just a crack in the wall between what the government does and what its people believe it is doing.
Someone talented and hungry, sitting two rungs below, will find that crack, pour mass resentment into it, and ride the flood to power.
This is why geopolitical theatre exists.
Not as decoration. But as load-bearing infrastructure.
Look at Iran.
Abbas Aragchi negotiates with the US through backdoor channels because the pragmatist faction wants sanctions relief and a deal that keeps the Islamic Republic alive.
That is the real play.
But he cannot just negotiate quietly. He must simultaneously perform defiance. The fiery speeches. The public rejection of American demands. The visible sovereignty posturing.
All of it.
Why?
Because if Aragchi negotiates openly without the theatre, he creates a gap.
The domestic audience sees a government that talks about resistance while quietly accepting terms.
That gap, that sliver of daylight between stated identity and observed behaviour, is exactly where the IRGC hardliners insert themselves.
They use it to rally support. Religious conservatives call it betrayal. And worse, actors further down the hierarchy see an opening to channel mass disillusionment into a vehicle for their own rise.
The dual-lane performance closes the gap. The public sees defiance. The hardliners cannot credibly cry betrayal.
And the gap where rival factions would plant their flag remains sealed shut.
This is not deception in the ordinary sense.
It is merely maintenance.
Remove it and the whole arrangement becomes vulnerable to exactly the kind of factional disruption that destroys macro plans years in the making.
And understand that the gap does not need to be large.
It needs only to exist.
A hairline crack in a load-bearing wall does not bring the building down today. But it tells every rival exactly where to push.
This is why the stage never goes dark. Not because theatre is noble. Not because leaders are liars.
But because the alternative, an unmanaged domestic audience in a world full of factions looking for exactly that weakness,
is an open invitation to chaos.
And there is always someone positioned to exploit the chaos.
To be truly fluent in English,
you must know your shits
Dogshit: Very poor quality
Bullshit: Not true
Horseshit: Nonsense
Apeshit: Rambunctious
Batshit: Insane
Chickenshit: Cowards
Ratshit: Poor quality
No shit: Obviously
Holy shit: Unbelievable
Hot shit: Very good
Dipshit: Total dumbass
Tuff shit: Take it or leave it.
Jack shit: Nothing
The shit: Perfection
I have kids. I work in AI every day. And honestly? I have no idea what their careers will look like in 15 years. But I know what will carry them through.
First, and this might sound unromantic: make money and save it for them. We can debate educational philosophy all day, but the world is changing so fast that financial security might be the most practical gift we can give. Buy some gold bars. Seriously.
Second, nurture their imagination. AI rewards people with initiative and wild ideas. The kid who daydreams, who asks weird questions, who wants to try ten things at once? That kid will thrive. AI can execute. AI can be disciplined. What AI can't do is dream up something nobody's thought of before.
Third, build resilience. There are no more iron rice bowls (guaranteed lifetime jobs). Any stable, predictable job is exactly the kind of job AI will learn to replace. Our kids will likely switch directions many times in their lives. Learn something new, get replaced, pivot, repeat. It's more like being a hunter than a farmer. Schools don't teach this. Schools teach you to follow a linear path: high school, college, grad school, stable job. That linear path is becoming the most dangerous one.
Last, invest in their ability to connect with other humans. Not networking. Not schmoozing. Real emotional connection. Building trust, offering support, making people feel seen. As AI handles more of the rational, analytical work, the human ability to genuinely relate to other humans becomes more rare and more valuable.
I don't have all the answers. But I know that imagination, resilience, and genuine human warmth aren't going out of style anytime soon.
#AI #Parenting #Education #FutureOfWork
Guys besok IHSG buka pertama kali setelah libur lebaran panjang dan Om Bennix bilang bakal longsor. Kenapa? Kita bedah!
Pertama Libur Panjang
Penumpukan Berita Buruk. Selama kita pada mudik dan makan opor, dunia di luar ga berhenti bergerak. Semua berita buruk global itu numpuk selama IHSG tutup dan begitu buka besok, investor langsung panik jual semua sekaligus. Ini namanya "gap down opening" bursa buka langsung jeblok karena harus ngeprice semua kejadian buruk yang kelewat.
Kedua Perang Iran-AS Makin Eskalasi.
Selat Hormuz masih tertutup, rudal Iran masih terbang ke Israel dan negara-negara Teluk, pangkalan AS di Kuwait, Saudi, UAE diklaim diserang. Ini langsung pukul sektor energi dan komoditas Indonesia. Harga minyak naik = biaya produksi industri naik = profit perusahaan turun = saham turun.
Ketiga Kilang Minyak Rusia Dihantam Ukraina.
Primorsk dan Ust-Luga dua outlet ekspor minyak terbesar Rusia offline sekaligus. Dikombinasikan sama Hormuz yang tertutup, pasokan minyak global dihantam dari dua arah bersamaan. Harga energi global makin ga terkendali.
Keempat The Fed Ga Jadi Turunkan Suku Bunga.
Ini yang paling nyakitin buat pasar negara berkembang kayak Indonesia. Suku bunga AS tetap tinggi = dolar tetap kuat = rupiah makin tertekan = investor asing cabut dari IHSG buat parkir duit di aset dolar yang lebih aman.
Kelima Goldman Sachs Naikkan Probabilitas Resesi AS ke 30%.
Kalau Amerika resesi, efeknya ke seluruh dunia termasuk ekspor Indonesia anjlok, investasi asing kabur, dan pasar modal kita ikut terseret.
Keenam Rupiah Udah Loyo Sebelum Libur.
Sebelum lebaran rupiah udah di kisaran Rp16.500-an per dolar. Setelah semua berita buruk ini numpuk selama libur, buka besok bisa makin dalam pelemahannya dan rupiah lemah itu racun buat IHSG.
Ketujuh Sentimen Investor Ritel Pasca Lebaran.
Banyak investor ritel Indonesia yang butuh dana setelah lebaran THR udah kepake, ada yang butuh likuiditas. Ini artinya ada tekanan jual tambahan dari dalam negeri yang bakal nambahin tekanan jual dari investor asing.