gue 17 tahun jadi actor juga gabakal bisa kayaknya acting dengan muka setenang ini kalo denger ocehan lawan bicaranya gitu, pasti muka gue MERENGUTTTTT
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Rabbighfirli – My Lord, forgive me
Warhamni – Have mercy on me
Wajburni – Cover my shame
Warfa'ni – Raise my rank
Warzuqni – Give me sustenance
Wahdini – Give me guidance
Wa'afini – Make me healthy
Wa'fu'anni – Pardon me
ini method gw untuk stay sane being adult so far:
1. Laa ilaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir.
2. La ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin.
3. Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr.
Saat seseorang mengucapkan, "laa haula wa laa quwwata illa billah."
maka, Allah berfirman, "Wahai malaikat, lihatlah, orang ini telah menyerahkan semua urusannya padaku."
Saya nyoba praktek beberapa teori2 di pembentukan habbit
Saya pernah pengen punya kebiasaan minum air putih liter per hari, karena memang biasanya cuma minum pas habis makan aja. Awalnya kerasa susah, karena mau ambil minum harus jalan dulu ke belakang.
Akhirnya, saya beli tumblr yg isinya 2 liter, saya taruh di meja belajar. Karena sering liat tumblr, mau haus gak haus bakal tetep diminum. Dan ternyata malah lebih dari 2 liter minumnya per harinya.
Begitu jg dengan mengganti kebiasaan buruk. Yg awalnya saya pagi sering bgt tidur. Satu2nya cara, setelah sholat subuh jangan balik lagi ke kamar. Dari situ jadi kepikiran buat jalan2, nyuci motor, berkebun, dll.
Ada jg teori 20-sec rule. Produktivitas dimulai dari 20 detik pertama. Misalnya pgn belajar, kalo tau gampang kedistract hp, 20 detik pertamanya jauhnya hp dari pandangan kita.
Di China yang kemampuan fiskalnya jauh lebih baik dari Indonesia saja program makan di sekolahnya tidak untuk semua anak. Namun, fokus pada wilayah miskin program mereka disebut Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Students (NIPRCES) yang diluncurkan tahun 2011 oleh pemerintah pusat China sasarannya siswa sekolah dasar dan menengah pertama (wajib belajar) di daerah pedesaan dan tertinggal. Bentuk bantuan berupa makan siang gratis atau bersubsidi. Alternatifnya susu, telur, atau paket makanan bergizi. Program ini lahir karena masalah gizi di pedesaan, termasuk stunting dan anemia pada anak-anak.
Sementara di kota besar seperti Beijing atau Shanghai, sekolah biasanya menyediakan kantin, di mana orang tua membayar biaya makan (harian atau bulanan). Pemerintah mengatur standar gizi dan keamanan pangan, tetapi tidak semua siswa mendapat makan gratis. Subsidi hanya untuk keluarga miskin tertentu. Mengapa Indonesia yg miskin MBG-nya utk semua anak, yg bahkan anak2 kelas menengah atas yang akhirnya nggak mau makan paket MBG? Kalau mau info lebih lanjut bisa baca juga tulisan kolom saya di https://t.co/17fpVABkjA